6 Desember 2022

Bulan Rajab ini, genap seratus tambah satu tahun umat Islam tanpa pemimpin. Terombang-ambing tak tentu arah tujuan hidup. Banyak penderitaan yang dirasakan, raut wajah kesedihan tergambar jelas, kemiskinan merajalela di mana-mana, peperangan tak kunjung usai, dan masih banyak lagi kepiluan yang tidak ditemukan jalan keluarnya bagi umat hingga saat ini.

Khilafah adalah sebuah pemerintahan Islam yang pernah tegak selama 13 abad. Sebagai negara adidaya yang mengayomi dan melindungi kaum muslimin di seluruh pelosok dunia. Kini, kebesaran khilafah yang memayungi 2/3 dunia itu tinggal kenangan. Angan-angan melayang, membayangkan dahulu berada di bawah naungan Negara Islam yang penuh kebahagiaan. Menerapkan syariat Islam secara sempurna, membawa umat pada kesejahteraan hidup. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, umat hidup tanpa junnah seperti hari ini. Umat terpecah bagaikan buih dilautan. Masalah pun datang silih berganti, tak ada siapapun yang dapat menyelesaikannya.

Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai dan orang akan berperang di belakangnya, digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya dia akan mendapatkan pahala. Tetapi jika memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tergambar jelas dalam hadis di atas bahwa yang dimaksud khalifah adalah kepala negara sebagai perisai bagi umat. imam atau pemimpin umat yang akan melaksanakan seluruh aturan dan hukum-hukum Allah. Sementara khilafah adalah sistem kepemimpinan umat, menggunakan Islam ideologi serta undang-undang yang mengacu pada Al-Qur’an, hadis, ijma, dan qiyas. Khilafah sebagai pelindung bagi seluruh umat, sehingga tak ada satu manusia pun akan terzalimi. Hidup tenteram dan bahagia, sebab khilafah menjaganya dengan segenap jiwa dan raga.

Namun apa hendak dikata, saat ini junnah tak ada. Meskipun umat memiliki banyak pemimpin, tidak ada yang mampu mengangkat umat dari keterpurukan, penderitaan, dan kebinasaan. Berapa banyak sudah nyawa melayang, berapa banyak anak-anak dan perempuan menderita kelaparan, berapa banyak masalah yang melanda kehidupan tak terpecahkan? Sungguh, umat mengalami kerugian besar tanpa adanya khilafah. Setidaknya ada lima belas kerugian yang dialami umat saat ini:

Pertama, hilangnya rida Allah Swt. tanpa ridha dari Allah, hidup tiada guna. Tidak akan kita peroleh kebahagiaan di kala menolak diterapkannya khilafah. Ia adalah tajul furuj atau mahkota kewajiban umat, yang secara otomatis akan ditegakkannya syariat Islam secara menyeluruh.

Kedua, hilangnya imam atau khalifah. Dengan hilangnya pemimpin umat, maka akan hilang pula perisai dan perlindungan terhadap umat. Seperti yang dapat kita saksikan saat ini kebutuhan kian sulit tercukupi, serba susah dan mahal. Air, listrik, tempat tinggal, pakaian hingga pendidikan, kesehatan, dan keamanan pun tak ada yang gratis. Begitu pula dengan penderitaan yang dirasakan saudara-saudara kita di belahan bumi lain, seperti Rohingya, Uighur, Palestina dan negeri lainnya yang hingga kini terus dizalimi kaum kafir durjana.

Ketiga, hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan. Rasa aman yang menjadi hak setiap manusia, kini dikungkung rasa ketakutan. Banyak ulama dipersekusi, kajian-kajian dibubarkan tanpa alasan, para pengemban dakwah tak bebas menyuarakan kebenaran, sebab ada UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang siap menjeratnya jika tak sejalan dengan penguasa.

Keempat, hilangnya ilmu pengetahuan dan kepedulian yang lahir dari kepribadian Islam. Umat telah lama dibius dan disusupi dengan pendidikan gaya kapitalistik. Tentu hal ini membuat rakyat miskin tidak mampu mengenyam bangku sekolah. Akibatnya, buta huruf di mana-mana, ditambah buta wawasan. Sistem pendidikan yang liberalistik membentuk pribadi yang pintar tapi hilang keimanan. Juga hilang rasa peduli terhadap sesama. Menyebabkan ilmu yang diperoleh tak bermanfaat untuk umat.

Kelima, hilangnya kekuatan jihad akibat kelemahan dan kekalahan. Dapat kita saksikan, upaya para pejuang Palestina melawan kafir penjajah hanya berbuah kekalahan. Hal ini disebabkan ketiadaan junnah sebagai tameng kaum muslim. Jika khilafah tegak, pemimpin Islam (khalifah) tentu akan mengumpulkan pasukan dari seluruh negeri kaum muslim. Dengan dibekali persenjataan yang lengkap dan mutahir untuk mengalahkan penjajah kafir.

Keenam, hilangnya kekayaan disebabkan kemiskinan. Penyebab hal ini tidak lain karena diterapkannya ekonomi kapitalistik. Kekayaan alam dieksploitasi sebebas-bebasnya yang menyebabkan kesengsaraan pada umat, dan mengakibatkan bencana datang bertubi-tubi. Tentu dalam proses penanganan bencana selalu bertumpu pada utang, akibatnya kerugian semakin dirasakan umat dan utang pun menjadikan negara muslim berada dalam ketidakberkahan dikarenakan utang ribawi.

Ketujuh, hilangnya pencerahan dan pedoman yang benar akibat kegelapan dan pedoman yang salah. Aturan yang tidak sesuai dengan Islam akan banyak menimbulkan masalah. Masyarakat akan rusak, dan kemaskiatana merajalela akibat abainya masyarakat dalam amar makruf nahyi munkar.

Delapan, hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan. Tanpa adanya pelindung kaum muslim (khilafah), penghinaan dan pelecehnan terhadap ajaran Islam tak pernah sepi. Seperti poligami, hijab, cadar, dan lain sebagainya.

Sembilan, hilangnya kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik. Hal ini, merupakan imbas dari ketundukkan pada negara-negara penjajah dengan jebakan utang. Sehingga sangat sulit dalam membuat lenyapnya kedaulatan dan sangat sulit membuat keputusan politik, semuanya dalam pengarahan korporasi. Maka umat hanya akan memperoleh kesengsaraan dan penderitaan.

Sepuluh, hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan. Hukum yang kita saksikan saat ini, sungguh jauh dari kata adil. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hukum hanya berlaku pada rakyat kecil, sedangkan para penguasa kebal dari hukum.

Sebelas, hilangnya keimanan dan keikhlasan, akibat pengkhianatan penempatan orang yang salah pada tempat yang salah. Para pemimpin yang saat ini diamanahi mengurus rakyat, tak pernah lepas dari perbuatan zalim. Korupsi yang tak berhenti satu dari banyak perbuatan keji. Semua ini terjadi karena mereka tak membekali diri dengan keimanan dan keikhlasan dalam menjabat.

Duabelas, hilangnya sikap dan moral yang terpuji, menyebabkan kejahatan dan sikap tercela. Demokrasi menggaungkan kebebasan dalam segala hal, termasuk kebebasan bertingkah laku. Maka tak heran jika banyak murid hilang rasa hormat terhadap guru mereka, anak terhadap orangtuanya, karena mereka terjebak arus kebebasan, merasa tak bersalah dan tak peduli benar atau salah, haram atau halal.

Tigabelas, hilangnya negeri-negeri Islam dan tempat tinggalnya. Akibat ketiadaan junnah, umat Islam banyak kehilangan tempat tinggal. Sampai saat ini, kafir penjajah Israel tak menyerah untuk menguasai negara Palestina. Begitupun dengan Andalusia yang saat ini disebut Portugal dan Spanyol, wilayah yang luas Asia Tengah dan Timur seperti Kosovo, Bosnia, Kashmir, dan sebagainya. Menyebabkan gelombang imigran dan pengungsi serta pendeportasian terus berlanjut.

Empatbelas, hilangnya tempat suci yang menyebabkan kaum muslim dilarang salat di Masjidilaqsa selama 50 tahun sampai saat ini.

Limabelas, hilangnya kesatuan dan integritas akibat berpecahnya kaum muslim menjadi 56 negara kecil yang tak memiliki kekuatan. Keberhasilan kafir Barat memecah negeri muslim hingga kepingan kecil, semakin memuluskan langkah mereka dalam menghadang laju kebangkitan umat.

Demikianlah 15 poin kerugian umat Islam tanpa adanya khilafah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk memperjuangkannya agar institusi Islam tegak kembali. Dengan tegaknya khilafah, kerugian akan berubah menjadi kemaslahatan. Atas ijin Allah Swt. yang akan memberikan pertolongan kepada umat muslim untuk memenangkan pertarungan ini. Mengembalikan kejayaan Islam dengan tegaknya institusi Islam sesuai dengan manhaj kenabian.

“… selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Al- Bazzar). Wallahu a’lam bishshawab.

 

Penulis: Sabrina Nusaiba

 

1 thought on “UMAT ISLAM BUTUH JUNNAH HANYA DENGAN KHILAFAH

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: