6 Desember 2022

Terjadi lagi, kaum muslim di negeri minoritas menjadi sasaran kebencian dan permusuhan oleh orang-orang non muslim. Hanya gara-gara keislaman dan simbol-simbol Islam yang mereka kenakan, kaum muslim mendapatkan perlakuan semena-mena dari penduduk non Muslim. Orang-orang non muslim tak ingin kaum Muslim menampakkan identitas mereka.

Hal ini seperti berita yang dilansir oleh media Republika. Co.id tanggal 22 Februari 2022, ” Sebuah video yang menunjukkan seorang mahasiswi muslim berhijab yang dirundung oleh segerombolan pria dari kelompok sayap kanan Hindu di sebuah perguruan tinggi di Karnataka, India, viral di sosial media sejak Selasa (8/2/2022) kemarin. Dalam video tersebut, Muskaan Khan, yang saat itu mengenakan gamis dan kerudung pasmina hitam, diikuti oleh sekumpulan pria yang meneriakkan hinaan dan slogan ‘Jai Shri Ram’ (Salam Tuhan Rama) kepadanya.

Muskaan Khan tak gentar berjalan melewati ratusan pria itu. Saat mereka terus mengejek, Muskaan Khan berdiri dengan berani, dia berteriak “Allahu Akbar” (Alloh  Maha Besar) sebagai balasan ejekan para pria tersebut.

Muskaan Khan dan jutaan wanita Muslim di India mengenakan jilbab dan burka setiap hari. Tetapi pilihannya berpakaian telah berubah, dianggap menjadi sesuatu yang kontroversial dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini dipicu setelah pemerintah Karnataka dikuasai Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) dengan pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Mereka mengatakan dalam sebuah perintah pada 5 Februari disebutkan semua sekolah harus mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan oleh manajemen sekolah. BC Nagesh, menteri pendidikan Karnataka mengunggah perintah tersebut di Twitter. Ia mengatakan aturan berpakaian sekolah ditetapkan setelah meninjau keputusan pengadilan dari seluruh India. Dia mendukung sekolah yang melarang penggunaan selendang safron dan hijab. (Suara.com.10/02/22).

Sungguh, Islamophobia telah membuat mereka memusuhi apa yang mereka nilai sebagai bagian dari manifestasi Islam. Begitu takutnya terhadap Islam hingga mereka berupaya menyingkirkan agama yang bertentangan dengan agama mereka. Sampai-sampai mereka mengesampingkan fitrah mereka sebagai seorang laki-laki yang harusnya menjaga, melindungi perempuan. Bukan malah menghina, melecehkan dan menzhalimi seorang perempuan.

Penjagaan Islam Terhadap Wanita

Islam adalah agama yang sangat memuliakan perempuan. Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk mulia yang harus dijaga.

Dahulu ada wanita muslimah datang ke Pasar Bani Qainuqa’ dengan membawa perhiasan. Wanita itu lalu duduk di kedai tukang emas milik salah satu orang Yahudi. Tiba-tiba datang seorang Yahudi dari arah belakang wanita itu secara mengendap-ngendap dan mengikat baju wanita itu dengan alat pengait ke tubuhnya. Ketika wanita itu berdiri, auratnya tersingkap. Dan orang yahudi pun tertawa terbahak-bahak sambil menghina. Seorang laki-laki Muslim yang kebetulan melihatnya menjadi marah. Dia menikam tukang emas itu lalu membunuhnya. Pembunuhan ini mengundang kemarahan orang Yahudi. Mereka beramai-ramai mengeroyok laki-laki muslim itu dan membunuhnya.

Sampailah kabar tentang peristiwa ini kepada Rasulullah SAW. Segera beliau mengumpulkan para sahabat dan mempersiapkan pasukan. Lalu, Abdullah bin Ubai bin Salul, seorang tokoh yahudi yang bersekutu dengan Bani Qainuqa’ memainkan peranannya. Ia berusaha melobi Rasulullah agar mengurungkan niat mengepung Yahudi Bani Qainuqa’. Namun Rasulullah tidak memperdulikan saran Abdullah bin Ubai. Rasulullah mengepung mereka selama dua pekan, sampai akhirnya ketakutan merasuki jiwa mereka. Mereka menyerah dan tunduk kepada putusan Rasulullah SAW. Rasulullah memutuskan menghukum mereka dengan mengusir seluruh orang Yahudi Qainuqa’ dari Madinah.

Begitu juga saat masa kekhalifahan Al Mu’tashim Billah. Di tahun 837 Masehi, seorang budak muslimah dilecehkan orang Romawi. Dia adalah keturunan Bani Hasyim, yang saat kejadian sedang berbelanja di pasar. Bagian bawah pakaiannya dikaitkan ke paku, sehingga terlihat sebagian auratnya ketika ia berdiri. Dia lalu berteriak-teriak, “Waa Mu’tashimaah!”, yang artinya “Di mana engkau wahai Mu’tashim, Tolonglah aku”.

Berita ini sampai kepada Khalifah. Beliau segera menerjunkan pasukannya. Tidak tanggung-tanggung, ia menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Ammuriah (Turki). Jumlah pasukan yang diterjunkan Al Mu’tashim sangat banyak. Bahkan ada yang meriwayatkan bahwa tentara berbaris dengan sangat panjang. Barisan ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di Baghdad hingga Ammuriah (Turki). Mereka kemudian mengepung Ammuriah selama lima bulan. Pertempuran itu juga berhasil membebaskan kota Ammuriah dari kuasa Romawi. Tiga puluh ribu tentara Romawi terbunuh, sementara tiga puluh ribu lainnya ditawan.

Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan di mana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengan wanita itu, ia mengucapkan “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. Sang wanita mengangguk dan terharu. Beliau lalu memutuskan untuk memerdekakan si wanita tersebut.

Ini hanya satu nyawa muslimah yang baru dilecehkan. Dan sekarang hampir dimana-mana kehormatan muslimah dihina dan dizhalimi, tetapi tidak ada satu pemimpin Islam pun yang membela layaknya rosulullah dan khalifah al mu’tashim Billah. Muslimah butuh perisai (pelindung) tempat untuk mengadu yang bisa membela, menjaga kehormatan dan martabatnya. Hal ini hanya bisa terwujud apabila umat ini dipimpin dengan seorang pemimpin yang menjadikan Islam sebagai pengatur kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupan dan hanya tunduk secara totalitas kepada Rabb semesta alam. Wallohualam bishawab.

 

Penulis : Sunti

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.