6 Desember 2022

Hidup bebas dari virus covid-19 sepertinya hanya ada dalam khayalan saja. Pasalnya saat ini kasus corona varian baru semakin meningkat. Jika tahun lalu varian baru corona disebut delta, saat ini varian barunya adalah Omicron, dan lebih cepat penularannya dari varian pertama juga delta. Dikutip dari detik.com, Saat ini tercacat total kasus Omicron di Indonesia menjadi 572 kasus. (17/1/2022).

Menurut menteri Luhut Binsar Panjaitan, bahwa sampai sekarang, posisi kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain seperti India, Amerika Serikat, maupun Inggris. (kompas.com, 3/1/2022). Akan tetapi pada faktanya, kasus omicron semakin meningkat. Pada tanggal 17 januari saja sudah mencapai 572 kasus. Karena kasus Omicron Indonesia masih rendah dan belum ada kasus kematian yang tercatat akibat varian baru Covid-19 ini. Pemerintah, melalui bidang kesehatannya seperti persiapan rumah Sakit dan obat-obatan sudah sangat siap jika terjadi lonjakan kasus virus Omicron.

Namun demikian, mitigasi yang dilakukan penguasa hanya berupa penyediaan rumah sakit, obat-obatan dan disiplin pemakaian masker. Dari sini penguasa terkesan lamban dalam mengambil kebijakan. Penguasa tidak bercermin pada kasus awal corona masuk. Saat itu penguasa menganggap enteng. Setelah meningkat dan banyak yang meninggal, mereka kebingungan untuk menerapkan kebijakan yang tepat dalam menghentikan penyebaran virus.

Memang saat ini rumah sakit, obat-obatan sudah sangat siap. Akan tetapi penguasa tidak mengintegrasikan dengan mitigasi dari sektor lain, yaitu sektor ekonomi dan pariwisata. Penerbangan dari dan keluar negeri tetap dibuka, dengan alasan belum ada yang meninggal dan juga karena sudah ada persiapan yang lainnya. Penguasa hanya menegaskan persiapan jika sudah ada penularan dan juga kematian. Seakan rakyat ini ingin dijadikan kelinci percobaan, untuk melihat seberapa kuat rakyat menghadapi Omicron. Dan mungkin sudah ada korban tetapi tidak diperlihatkan di media, agar rakyat tidak melakukan protes, juga agar dianggap bahwa mereka bekerja untuk rakyat.

Namun tak heran, mengingat tabiat dari sistem yang diterapkan saat ini adalah mengutamakan materi atau keuntungan. Jika sektor pariwisata dan penerbangan dari dan keluar negari dihentikan, sudah pasti akan mempengaruhi pendapatan negara, karena mereka salah satu sektor penyumbang devisa negara. Selain merugikan negara, juga akan merugikan para pengusaha yang turut berbisnis penyediaan alat rapid test, karena sertifikat vaksin tidak lagi digunakan saat berpergian.

Mereka sampai mamatok harga yang sangat fantastik untuk setiap rapid tes dalam sebuah perjalanan, sungguh keuntungan yang didapat sangat tinggi.

 

Kebijakan yang diambil untuk kasus omicron tidak berbeda jauh dangan awal corona masuk. Penguasa menganggap enteng bahkan dengan guyonan. Saat masa transisi, yang pertama dibuka juga sektor pariwisata. Penguasa memang menerapkan PPKM dengan berbagai level tetapi itu tidak mampu membendung meningkatnya kasus corona varian pertama. Penguasa sebaiknya jangan menunggu korban meninggal ada baru mau menerapkan lockdown atau PPKM, atau menghentikan jalur penerbangan dari dan keluar negeri.

Apalagi sudah diprediksi bahwa kasus omicron akan meningkat dari bulan Februari hingga Maret. seharusnya kebijakan yang diambil adalah menghentikan penerbangan dari dalam dan luar negeri, lockdown harus menjadi pilihan utama sebelum kasusnya meningkat. Penerapan lockdown atau mengunci lalu lalangnya orang dari dalam dan keluar negeri, tidak akan terjadi dalam sistem yang mengutamakan keuntungan seperti Kapitalisme ini. Penyelenggara negara tidak mau rugi, apalagi kondisi perekonomian baru beranjak naik.

Oleh karenanya, bila kita berharap penguasa yang serius menangani umat atau rakyatnya maka hanya ada dalam sistem Islam. Ketika terjadi wabah di suatu daerah, maka penguasa menerapkan lockdown. Hal ini sebagaimana Hadist dari Rasulullah saw., “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Lockdown juga sudah pernah diterapkan pada masa Umar bin Khatab. Disaat Umar bersama rombongan menuju negeri Syam, mereka mendengar bahwa disana sedang terjadi wabah. Maka saat itu juga Umar bin Khatab langsung menyampaikan kepada rombongan untuk balik ke Madinah. Umar tidak lagi berpikir tentang perekonomian. Yang dilakukan itu semata-mata untuk melindungi rakyatnya dari wabah. Rakyat tidak dijadikan sebagai kelinci percobaan oleh penguasa. Karena ekonomi bisa dihidupkan kembali setelah wabah berakhir, sedangakn nyawa manusia yang hilang tidak mungkin dihidupkan.

Selain itu, negara juga memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok kepada seluruh rakyatnya yang dilanda wabah. Dalam pemberian bantuan tersebut tidak pilih-pilih tetapi semua warga akan diberikan bantuan. Wallahu’alam bishshowab.

 

Penulis: Sabrina Nusaiba

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.