6 Desember 2022

Ironi Negeriku

 

dahulu, tanah airku pernah banjir,

oleh darah dan air mata,

para pejuang kemerdekaan.

kini, tanah airku juga pernah banjir,

oleh sungai yang meluap,

akibat sampah yang tersumabat, hutan yang digundulkan.

 

dahulu, di tanah airku,

bambu runcing pahlawan bersulang dengan senapan penajajah

kini, di tanah airku,

penjajah malah duduk bersulang secangkir teh di taman istana

 

dahulu, di negeriku, tanah subur nan makmur  direbut penjajah

tapi para pahlawan menghalau korbankan jiwa raga

kini, di negeriku, tanah subur nan makmur itu  memang masih ada

hanya saja, sebagian tetap milik penjajah

dan kita?  diam seolah tak tahu apa-apa.

 

dahulu, di negeriku, kaum muda kaum tua

bersatu raih kemerdekaan

kini, di negeriku, yang katanya sudah merdeka,

tapi perpecahan dimana-mana,

saling hujat, saling hasut, klaim kebenaran pribadi.

 

dahulu, tanah airku memang terjajah, tak merdeka

tapi api semangat, darah perjuangan membara!

kini, negeriku yang katanya telah merdeka,

sebaliknya, semangat kian redup, terbius kesenagan sementara.

 

inilah ironi negeriku,

yang dengan bangga  kita ceritakan perjuangan pahlwan terdahulu

tapi tertunduk malu, jika mengigat tingkah dan pola kita yang lamban,

enggan berjuang hanya suka bersenang – senang.

 

inilah ironi negeriku,

di mana pergerakan kian redup, perjuangan tak menyeluruh,

lalu, siapakah yang akan sempurnakan makna merdeka?

jika para generasi  memilih tak acuh,

karna kantong sudah penuh dengan remah-remah rupiah?

 

/baca juga :https://www.kompasiana.com/masaza/5cbe6d6b95760e43835bf3e2/puisi-negeriku-indonesia

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.