6 Desember 2022

Innalilahi, mengawali tahun 2022 kabar pilu kembali menyelimuti Indonesia seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 varian Omicron. Dilansir oleh Kontan.co.id (13/1/2021), masyarakat yang terpapar Covid-19 varian Omicron terus meningkat tajam di Indonesia dan diperkirakan akan terus terjadi hingga puncaknya Februari 2022. Sebagai langkah untuk menekan penyebaran Omicron, pemerintah Indonesia mengadakan vaksinasi booster. Ia telah dimulai sejak Rabu, 12 Januari 2022 kemarin.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito, pemberian vaksin booster adalah upaya mengembalikan penurunan imunitas dan proteksi klinis pada populasi setelah 6 bulan vaksinasi. Khususnya di tengah munculnya varian Omicron di Tanah Air. Selain itu, vaksin booster juga dapat menjadi modal menguatkan pemulihan ekonomi, baik secara langsung ataupun tidak. (Covid-19.co.id, 11/1/2022)

Tidak bisa dimungkiri, virus Corona varian Omicron memang tengah naik daun belakangan ini. Penularannya yang lebih cepat dari varian lainnya, menjadikan Omicron demikian ditakuti dunia. Hingga kini diketahui lebih dari 110 negara di dunia telah mengkonfirmasi temuan Omicron di wilayahnya. Di Indonesia sendiri, kasus positif varian Omicron telah mencapai 506 per 10 Januari 2022. Dengan 415 kasus di antaranya berasal dari pelaku perjalanan luar negeri dan 84 lainnya berasal dari transmisi masyarakat lokal. (CNBC, 12/1/2022)

Merujuk pada fakta ini, kita bisa melihat betapa virus Corona varian Omicron memang sangat berbahaya dan perlu penanganan segera. Namun, yang menjadi pertanyaannya, apakah vaksinasi booster mampu menjadi solusi jitu bagi Indonesia dalam menangani sebaran Omicron?

Pada faktanya, vaksinasi booster bukanlah solusi menghentikan sebaran virus Omicron dan beragam varian baru lainnya. Pasalnya, efektivitas vaksinasi diklaim hanya mampu bertahan selama 6 bulan saja. Artinya, pandemi tidak akan berakhir jika hanya mengandalkan vaksin dan imun tubuh.

Jika saja, sedari awal Omicron terdeteksi di negara-negara Eropa (Afrika Selatan), pemerintah Indonesia sudah memberlakukan kebijakan tegas dan menutup semua celah untuk virus tersebut masuk, tentunya virus tersebut tidak akan menyebar seperti saat ini. Akan tetapi saat itu pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan kebijakan tegas. Baik terkait pelarangan perjalanan ke luar negeri maupun masuknya WNA.
Memang benar, pemerintah sempat membuat kebijakan memperketat semua jalur transportasi dan membatasi WNA masuk ke Indonesia. Tetapi sayang, kebijakan tersebut nyatanya tidaklah efektif menghalau sebaran Omicron. Hal demikian karena, kebijakan tersebut tidak dibarengi dengan pelarangan tegas bagi warga lokal untuk melakukan perjalanan ke luar negeri serta penguncian wilayah (lockdown).

Sejatinya, penyebaran wabah Covid-19 yang pesat di dunia hingga bermutasi menghasilkan varian-varian baru, semakin mengkonfirmasi kegagalan sistem Kapitalisme dalam menangani pandemi. Kapitalisme telah gagal memberikan solusi solutif bagi kehidupan. Pasalnya, itung-itungan materi lebih dominan dibanding keselamatan dan kemaslahatan manusia. Tujuan vaksin booster demi menguatkan pemulihan ekonomi, menjadi bukti nyata bahwa bagi sistem Kapitalisme materi adalah segalanya, tak peduli kesehatan, keselamatan bahkan nyawa rakyat taruhannya.

Maka tidak heran, sejak awal munculnya kasus Covid-19 dan secara global menyebar ke seluruh penjuru dunia, para penguasa dalam sistem Kapitalisme tidak pernah konsisten dalam mengeluarkan kebijakan. Upaya yang mereka lakukan termasuk WHO hanyalah upaya tambal sulam. Hal ini karena cara pandang kapitalistik membuat negara-negara di dunia lebih memilih menyelamatkan ekonomi daripada nyawa rakyatnya. Maka pantas saja, penanganan pandemi dalam sistem Kapitalisme demikian lambat dan berlarut-larut. Bukannya tuntas, malah kian parah.

Penanganan pandemi dalam sistem Kapitalisme hanya berfokus pada 3 T, (Testing, Tracing, Treatment) juga 5 M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas) serta pemberian vaksin. Padahal sejatinya, kebijakan tersebut tidaklah cukup tanpa penguncian (lockdown). Karena lockdown-lah kunci keberhasilan penanganan wabah. Sebagaimana kita ketahui, tanpa lockdown rantai penyebaran wabah baru terus bermunculan. Baik dari kasus ekspor, impor maupun transmisi lokal.

Islam hadir ke dunia ini sebagai solusi bagi kehidupan. Islam dan sistem politiknya apabila diterapkan secara menyeluruh, maka akan menjadi solusi tuntas sekaligus pembebas bagi ancaman global berbagai wabah yang mematikan seperti virus Corona.

Sejarah mencatat, selama hampir 14 abad lamanya sistem Islam dapat memberikan solusi solutif bagi kehidupan. Hal demikian karena itung-itungan dalam Islam bukanlah materi, tetapi rida Illahi. Itulah sebabnya kebijakan yang dilahirkan oleh sistem Islam, adalah kebijakan yang dilandasi keimanan. Sehingga menghasilkan solusi menyeluruh, tidak setengah-setengah dan hanya berorientasi untuk kemaslahatan rakyat.

Islam tidak akan membiarkan rakyatnya dalam bahaya hanya demi memenangkan sektor ekonomi. Inilah yang menyebabkan penanganan wabah dalam Islam cepat selesai serta tidak berlarut-larut.

Fakta membuktikan, negara yang menerapkan aturan Islam mampu mengatasi pandemi sampai tuntas. Hal tersebut karena ketika terjadi wabah, negara Islam (Khilafah) demikian berjuang sekuat tenaga agar wabah segera teratasi. Khilafah pun akan memberikan bantuan secara merata kepada korban wabah. Juga memberikan gratis vaksin serta obat-obatan yang telah teruji klinis secara teknologi. Namun tentunya vaksin ini bukan satu-satunya andalan Khilafah dalam memutus wabah.

Untuk mengatasi wabah mematikan, negara Khilafah akan melakukan penanganan langsung ke akarnya. Yakni dengan cara menerapkan lockdown syar’i (karantina/isolasi) di daerah asal wabah. Sehingga tidak ada peluang munculnya masalah baru sebagaimana dalam aturan Kapitalisme.

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kalian berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Imam Muslim)

Lockdown syar’i ini dilakukan secara terpusat dalam satu komando; di bawah tanggung jawab kepala negara (Khalifah). Konsep lockdown syar’i dalam Islam tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa atau kedaerahan. Sehingga konsep lockdown syar’i ini merupakan kunci keberhasilan pemutusan rantai wabah. Hal ini sebagaimana wabah Amwas yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Melalui penerapan lockdown syar’i, tidak sampai memakan waktu satu tahun wabah sudah tertangani dengan tuntas. Padahal saat itu, penanganan wabah dilakukan dengan teknologi seadanya, belum secanggih sekarang. Apalagi bila penanganannya didukung dengan sarana dan teknologi secanggih saat ini, tentu tak akan membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti penyelesaian wabah ala metode Kapitalisme.

Demikianlah penjelasan tentang betapa sempurna Islam dalam mengatur dan menyelesaikan masalah kehidupan. Oleh karena itu, tidak ada cara lain bagi dunia saat ini selain kembali kepada Islam kafah. Karena hanya Islamlah satu-satunya sistem yang mampu menjadi solusi solutif dalam menyelesaikan masalah wabah mematikan.

Sungguh, berharap penyelesaian wabah Corona pada sistem Kapitalisme hanyalah angan-angan. Maka dari itu, sudah saatnya bagi kita membuang sistem Kapitalisme yang telah nyata kebobrokannya dan hanya menyisakan kesengsaraan. Kemudian kembali kepada sistem Islam. Niscaya, wabah virus Corona yang bermutasi menjadi varian-varian baru dapat diatasi hingga tuntas.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Oleh Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.