7 Desember 2022

Spirit doll, hangat menjadi pembicaraan publik. Setelah beberapa selebriti tanah air mengadopsi boneka yang diperlakukan layaknya bayi manusia. Konon alasan mereka karena kecintaan, ketenangan, keberuntungan. Karenanya mereka rela mengeluarkan kocek hingga jutaan rupiah. Sebenarnya bagaimana realitas spirit doll diawal mula?

 

Dikutip dari laman Culture Trip, spirit doll awal mulanya berkembang di Thailand yang disebut sebagai Luk Thep atau malaikat anak. Luk Thep atau spirit doll di Thailand ini diyakini berisi roh halus yang membawa keberuntungan dan kemakmuran di masa depan.  Luk Thep diperlakukan seperti bayi atau anak yang hidup yakni diberi makan, berpakaian, dan digendong. Luk Thep pun telah menjadi bagian hidup bagi sebagian besar masyarakat Thailand. Sedang di masyarakat barat sendiri hampir sama dengan Thailand, memiliki keyakinan bahwa roh bisa ada di berbagai  media benda termasuk boneka. Termasuk yang baru adanya Reborn doll -salah satu bentuk terapi-. Di Indonesia sendiri ada budaya boneka Tau tau adat masyatakat Toraja.  Semua ini berawal dari keyakinan/ kepercayaan di beberapa agama. Bagaimana dengan Islam?

 

Manusia dan Potensi Hidupnya.

Islam adalah agama yang rasional. Artinya semua pemikiran Islam dibangun  dari asas aqidah aqliyah (keyakinan yang dibangun dari proses berfikir) yang memancarkan aturan hidup. Manusia sbg makhluk hidup , diciptakan Allah Swt sebagai kholifatul fil ardh. Karenanya manusia dilengkapi dengan potensi kehidupan yang berupa kebutuhan jasmani dan naluri.

 

Dalam potensi terdapat  berbagai perasaan alamiah yang mendorong manusia untuk memuaskannya. Diantaranya ada yang menuntut pemuasan secara pasti, artinya jika dorongan ini tidak dipuaskan, manusia bisa mengalami kematian. Inilah yang disebut kebutuhan fisik (hajatul ‘udhwiyah, organic need). Wujudnya adalah rasa lapar, dahaga dan ingin buang hajat. Ada juga dorongan yang tidak menuntut pemuasan secara pasti. Artinya jika dorongan ini tidak dipenuhi, manusia hanya merasakan kegelisahan tidak sampai menimbulkan kematian. Inilah yang disebut dengan naluri (al ghoro’iz, instincts). Naluri ini hanya tiga yaitu naluri mempertahankan diri (baqo’). Wujudnya cenderung memiliki sesuatu, rasa takut, berkelompok dll. Naluri melestarikan jenis (nau’). Wujudnya kecenderungan menyayangi ibu, bapak, saudara, anak, lawan jenis dll. Naluri beragama atau pensakralan. Wujudnya bisa kecenderungan beribadah kepada Allah Swt., mengagungkan para pahlawan dll.

 

Bagaimana kerja dua daya kehidupan ini? Untuk kebutuhan jasmani dia muncul atau butuh pemuasan karena dorongan dari dalam tubuh manusia sedang naluri, akan muncul dan butuh pemuasan jika ada stimulus dari luar tubuh seperti mendengar, menonton sesuatu dll. Satu lagi potensi manusia yang tidak kalah pentingnya yaitu akal untuk berfikir. Akal akan menghasilkan pemikiram yang rasional jika melibatkan unsur-unsur dalam berfikir. Yaitu otak, obyek, indra dan informasi sebelumnya termasuk daya kehidupan manusia.

 

Potensi akal pada semua manusia sama yaitu bisa digunakan untuk berfikir, selama memenuhi empat unsur tersebut. Keragaman otak hanya terjadi pada kekuatan mengingat dan  mengindra.  Itulah hakekat serta potensi manusia. Lalu bagaimana potensi-potensi ini berjalan ditengah gempuran liberalisme?

 

Kapitalisme Gagal Menjaga Fitrah

Kapitalisme dengan asas sekulerismenya (memisahkan agama dari kehidupan), mereka berpendapat, bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya sendiri. Apa makna dari pemahaman ini? Mereka mengakui keberadaan Tuhan, tapi tidak mempercayai kemampuan Tuhannya dalam kehidupan publik. Semua aturan publik dalam otoritas manusia. Logiskah ini?

 

Ketidaklogisan ditanamkan oleh kapitalis  sejak awal dari asasnya. Unsur-unsur berfikir logis tidak semua dilibatkan dalam memahami sesuatu. Termasuk informasi yang dimiliki tidak dijamin shohih, karena kapitalis tercipta dari hasil kejeniusan manusia, bukan wahyu Ilahi. Maka berfikir tentang hal-hal cabang pun kapitalis seringkali menjadikan manusia-manusia tidak bisa berfikir logis, seperti memperlakukan spirit doll yang mereka perlakukan seakan makhkuk hidup.

 

Bagaimana dengan naluri? Liberalisasi dari kapitalisme telah menciptakan banyak stimulus yang membuat naluri bergejolak menuntut dipenuhi. Namun sayangnya kapitalis tidak memberikan solusi kecuali solusi abal-abal. Kapitalis terus memproduksi pornografi, pornoaksi, pergaulan dan sek bebas, yang membuat naluri nau’ bergejolak. Lalu apa solusi kapitalis?

 

Sistem ini menciptakan sarana-sarana pelengkap, beredar benda-benda pemuas seksual, minuman alkohol hingga legalisasi pristitusi dan aborsi. Disisi lain kapitalis dengan gaya hidup materialisnya menjadikan manusia hedonis, individualis. Memunculkan hari ini, budaya childfree. Jauh sebelum itu ada budaya hidup serumah tanpa mau diikat tali pernikahan. Naluri yang bergrjolak tidak bisa dihapus atau dihilangkan, hanya bisa dialihkan, pengalihan itu dengan adopsi spirit doll, dipelihara sebagaimana anaknya. Ini adalah prnyimpangan naluri sebagai hasil dari diterapkannya kapitalisme, sekulerisme dengan liberalisasi. Apakah ini gambaran hidup yang wajar? Tentu tidak. Sekali lagi ini adalah penyimpangan dan tidak sesuai fitrah manusia karena naluri nau’ seharusnya dipenuhi dengan sesama manusia bukan pada boneka .

 

Manusia Hidup Mulia Dengan Islam

Islam dien yang sempurna dari zat yang maha sempurna; Allah Swt. Di bangun dari asas yang shohih; aqidah islam meyakini Allah sebagai al Kholiq (pencipta) sekaligus al Muddabbir (pengatur).

 

Islam mengatur kehidupan manusia dalam berbagai aspek kehidupan (privat maupun publik). Islam mengukur kemuliaan manusia dari sisi ketakwaannya sebagaimana firman Allah Swt.:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Baik”. (TQS. Al-Hujurot: 13)

 

Agar manusia menjadi manusia-manusia yang mulia, dimana semua daya kehidupannya (hajatul ‘udwiyah dan ghoro’iz) khususnya naluri nau’, bisa terjaga dan terpenuhi sesuai syariat Allah Swt., Islam  memberikan aturan-aturan salah satunya dengan menganjurkan pernikahan.

Diriwayatkan dari Ibn Mas”ud R.a., ia menuturkan Rasululloh Saw bersabda:  artinya, “Wahai para pemuda siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya” ( Muttafaq’alaihi).

 

Anas Ra menuturkan bahwa Nabi Saw. pernah  memerintahkan kaum muslim untuk menikah dan melarang keras untuk membujang. Nabi bersabda: “Kawinilah oleh kalian wanita penyayang lagi subur, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan para nabi yang lain pada hari kiamat.”.

 

Selain anjuran menikah, aturan Islam dalam kehidupan publik pun menutup semua celah berbagai penyimpangan seperti, penyimpangan akidah dengan melarang praktek-praktek kesyirikan, penyimpangan gaya hidup salah satunya dengan kontrol kuat pada berbagai media yang ada untuk memberikan informasi edukatif yang mampu memperkuat syakhsiyah Islam (kepribadian Islam) umat. Tentunya, pemahaman Islam  akan terus di bangun oleh negara sehingga apa yang menjadi tujuan hidup, tolok ukur amal juga arti kebahagiaan umat tertuntun oleh Islam. Atmosfer ketakwaan, keterikatan dengan syariat Islam melingkupi kehidupan dengan penerapan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Negara yang kompatibel untuk menerapkan seperangkat sistem Islam itu namanya  Khilafah. Wallahu a’lam bish-showab.

 

Penulis: Nuha

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.