6 Desember 2022

Lagi, penistaan terhadap agama kembali terjadi. Ditengah tekanan pandemi yang belum juga usai. Indonesia dihebohkan lagi dengan jagad maya yang menampilkan penistaan terhadap agama. Seorang mantan politikus sebuah partai menulis dalam cuitannya di twitter yang berisi “kasihan sekali Allahmu ternyata lemah dan harus dibela…… “, walaupun kemudian di klarifikasi dengan meminta maaf. Sebenarnya kasus ini adalah kasus yang berulang. Sudah banyak kasus -kasus serupa yang menghina Islam dan juga Rasulullah. Pun demikian dengan Al-quran yang tak luput dari penghinaan. Sikap yang ditunjukkan umat Islam pastilah marah. Dan memang harus marah manakala agamanya dihina.

Mengapa kasus-kasus penistaan marak terjadi? Dan mungkin malah semakin masif? Tidak lain karena diterapkannya kapitalis yang mengusung sekularisme. Yang di dalamnya ada pemisahan antara agama dan kehidupan. Yang mana agama tidak boleh mengatur atau tidak boleh masuk dalam ranah kehidupan. Penggunaan agama sebagai asas spiritual tetaplah hanya di ranah spiritual saja. Sedangkan dalam kehidupan, manusia dibebaskan membuat aturan yang dianggap sesuai dengan apa yang diinginkan, tanpa ada campur tangan agama didalamnya. Seperti itulah kiranya gambaran sekulerisme.

Bila saat ini makin banyak kasus penistaan terhadap Islam, juga ulamanya, maka jangan pernah sekalipun kita merasa berkecil hati. Apalagi sampai merasa tidak perlu membela islam, membela agama Allah. Karena rezim saat ini tidak benar-benar berpihak pada Islam. Dan kalau bukan umat Islam yang membela, lantas siapa?

Di dalam surah Muhammad ayat 7 Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Dan juga firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 65-66

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ

لا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِين

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.

Sangat jelas digambarkan dalam ayat tersebut, bahwa para penista akan selalu seperti itu, membuat kegaduhan, lalu meminta maaf. Padahal hal tersebut terkait penodaan terhadap umat Islam. Hikmah adanya kejadian penistaan agama yakni, bahwa Allah semakin menunjukkan pada kita bahwa sistem saat ini lemah. Sistem buatan manusia bahkan tidak mampu mencegah para penista agama yang semakin hari semakin banyak ini menjadi jera.

Memang, Allah itu maha segalanya, Allah tidak butuh kita karena kita hanya makhluk. Tapi kita butuh Allah, karena kita membutuhkan keridhaan Allah untuk kehidupan yang kita lalui. Dan membela agama Allah itu wujud cinta, iman dan taqwa kita kepada Allah. Wujud ketaatan kita kepada Allah. Allah akan menilai bagaimana sikap kita tatkala agama Islam dinista, kita marahkah? Atau malah diam saja. Yang lebih penting ketika umat Islam bersuara, berani membela agama Allah. Itu menandakan bahwa kaum muslim masih ada, umat muslim masih hidup, bahkan rela berjihad demi membela Allah dan RasulNya. Dan yang tidak kalah penting lagi yaitu dirikan syariat Islam secara kaffah. Tegas pada para penista agama dengan menghukum mereka sesuai dengan yang Allah tetapkan. Firman Allah dalam surah At-Taubah 74

يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ مَا قَالُوْا ۗوَلَقَدْ قَالُوْا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوْا بَعْدَ اِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوْا بِمَا لَمْ يَنَالُوْاۚ وَمَا نَقَمُوْٓا اِلَّآ اَنْ اَغْنٰىهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ مِنْ فَضْلِهٖ ۚفَاِنْ يَّتُوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ ۚوَاِنْ يَّتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ عَذَابًا اَلِيْمًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚوَمَا لَهُمْ فِى الْاَرْضِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

Mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Muhammad). Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), sekiranya Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.”

 

Penulis: ummu hafsa

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.