7 Desember 2022

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengkritisi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan kapasitas 100 persen yang mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah. Pemerintah pusat memberlakukan PTM 100 persen di daerah yang berada di PPKM level 1 dan 2 pada Senin (3/1/2022). Komisioner KPAI Retno Listyarti menyebut masih banyak pertimbangan yang membuat PTM terbatas, Januari nanti belum siap.

 

KPAI melakukan pengawasan PTM selama tahun 2021 pada 17 sekolah yang berada di 18 kabupaten/kota di 8 provinsi. Hasil pengawasan menunjukkan bahwa anak didik masih sulit untuk mengubah perilakunya di masa adaptasi pandemi covid-19. Hal lain yang menjadi perhatian yaitu banyak anak didik yang melakukan PTM masih belum divaksin. KPAI mencatat tingkat vaksinasi di kalangan anak atau bahkan tenaga pengajar masih rendah per Agustus 2021.

Retno juga mengkhawatirkan sekolah-sekolah yang tidak memiliki kemampuan memenuhi sarana prasarana untuk adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi. Padahal, sarana dan prasarana menjadi hal penting dalam pelaksanaan PTM.

 

Menurut Perhimpunan Pendidikan Guru (P2G), jumlah vaksinasi yang telah terealisasi itu masih sedikit, masih di bawah 10%. Jika dianalogikan, perbandingannya 10:100. Sekretaris Nasional P2G, Afdhal, menambahkan jika dalam kelas ada 30 siswa, hanya 3 orang yang divaksinasi. Dengan ini kalau mengacu pada teori herd immunity tentu tidak akan terbentuk.

 

Sungguh dilema bagi anak maupun orang tua, menjalani Pembelajaran 100% ditengah pandemi seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, pendidikan daring di masa pandemi ini telah menghambat tersalurkannya ilmu kepada para siswa. Bukan karena ketakmauan, tetapi minimnya fasilitas dan sistem membuat anak-anak dan pendidik kesulitan mengikuti pembelajaran daring.

 

Pendidikan memang kebutuhan mendasar, tetapi kesehatan juga tak kalah penting. Pada masa pandemi, kesehatan harus diutamakan. Dalam sistem Islam, kewajiban negara adalah mengurusi kebutuhan rakyat. Negara wajib menjamin terpenuhinya semua keperluan, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

 

Islam telah memberikan contoh dengan melakukan kebijakan karantina wilayah ketika datang masa pandemi. Virus akan terlokalisasi karena tidak ada pergerakan yang signifikan antarwilayah, sebagaimana pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Karantina wilayah juga diperintahkan Rasulullah saw., sebagai bukti bahwa Islam mengutamakan kesehatan rakyatnya. Beliau saw. bersabda, “Dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, Umar bin Khaththab ra. menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khaththab berbalik arah meninggalkan Sargh.” (HR Bukhari dan Muslim).

Penulis:Ana Nafisah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.