7 Desember 2022
http://google.com

Seperti seduatu yg lumrah bagi para pendakwah negri ini enggan menjelaskan kepada masyarakat luas tentang bahaya riba, ataupun syirik secara mendetail dan gamblang, kalau ditanyakan kepada mereka mengapa tidak menyampaikan hal ini? Padahal ini adalah ajaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, jawabannya adalah alasan ironi ” menjaga persatuan umat”.

Istilah persatuan umat Islam dijaman ini adalah istilah untuk persatuan umat fatamorgana, persatuan semu, bukan persatuan umat Islam yang hakiki, karena yang dimaksud dengan persatuan umat Islam dijaman ini adalah dibibir menyatakan persatuan namun yang terjadi pembiaran saudara sesama Muslim melakukan maksiat kepada Allah, dan pembiaran saudara sesama Muslim melanggar syariat Allah dan rasulnya. Wajah kita tersenyum kepada sesama Muslim namun membiarkan saudara Muslimnya itu dalam kesalahan dan kesesatan.

Sungguh  jarang ada pemuka agama atau pengkhutbah diatas mimbar-mimbar masjid dan kajian ilmu agama membahas kesesatan yang harusnya dihindari oleh Umat Islam dengan alasan menjaga persatuan umat, artinya tanpa mereka sadari yang terjadi adalah mereka membiarkan umat hidup dalam amalan yang menyimpang dari syariat Allah dan rasulnya.

Dalam arti kata lain dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar ditinggalkan oleh sebagian besar umat Islam dengan alasan persatuan.

Padahal persatuan yang hakiki adalah ketika semua Umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, kembali kepada Tauhid dan Sunnah, persatuan Umat Islam hanya terjadi ketika mereka meninggalkan amalan yang sarat dengan kemaksiatan, kebid’ahan dan kesyirikan.

Allah Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).

 

Allah Ta’ala berfirman:

(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (QS. Al An’am: 153).

Sebagai ideologi, Islam dibangun berdasarkan akidah Islam, dengan standar halal-haram. Terikat sepenuhnya pada hukum Islam adalah metodenya. Mencari ridha Allah SWT adalah nilai ideal hidupnya. Sebagai ideologi, Islam tidak hanya berisi ritual dan spiritual, tetapi juga sistem kehidupan. Mulai dari pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri.

Ketika Islam diemban dan dijadikan sebagai kepemimpinan berpikir umat manusia, maka mereka bisa disatukan dengan ikatan ideologi Islam. Meski mereka tidak memeluk Islam. Uniknya, meski diikat dengan ikatan ideologi Islam, tetapi mereka tetap diberi kebebasan memeluk agama mereka, dan sedikit pun tidak akan diusik. Bahkan, meski mereka bukan Muslim, hak dasar mereka dengan Muslim pun sama. Sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan, semuanya dijamin oleh negara Khilafah, tanpa melihat agama mereka.

Selain itu, akidah Islam adalah satu-satunya pemikiran yang dibangun dengan akal, sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati. Inilah yang menjadi alasan, mengapa Islam telah berhasil mewujudkan persatuan di seluruh wilayah negara Khilafah, yang meliputi tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa, meski suku, ras dan agamanya berbeda-beda. Spanyol adalah contohnya. Penganut Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan dalam ikatan ideologi Islam lebih dari 800 tahun.

Karena itu, dijadikannya ideologi Islam sebagai ikatan dan kepemimpinan berpikir bagi umat manusia di sebuah wilayah, dan seluruh dunia, adalah jaminan terwujudnya persatuan yang hakiki, dan kuat di antara mereka. Karena selain akidahnya yang luar biasa, juga standar dan pandangan hidupnya juga khas, yaitu halal-haram, bukan manfaat dan kepentingan. Inilah yang mampu menjadikan Islam sebagai perekat yang sangat kuat di antara umat manusia. Meski agama, suku dan rasnya berbeda. Pada saat yang sama, perbedaan agama, suku dan ras ditolelir dan diberi ruang oleh Islam.

Inilah yang menjadi rahasia, mengapa persatuan bangsa-bangsa yang hidup di bawah naungan Khilafah, yang diikat dengan ideologi Islam bisa bertahan hingga lebih dari 10 abad. Sesuatu yang belum pernah bisa diwujudkan oleh Kapitalisme maupun Sosialisme.

Menyatukan Wilayah yang Lepas?

Wilayah yang dahulunya satu, kemudian lepas menjadi negara-negara merdeka wajib diintegrasikan. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, mereka sepakat melakukan integrasi. Kedua, diintegrasikan, baik dengan perjanjian maupun perang.

Hanya saja, dalam proses integrasi tersebut tetap harus memperhatikan kondisi masing-masing wilayah. Jika wilayah tersebut penguasanya menjadi antek, dan tunduk kepada negara Kafir penjajah, maka rakyatnya harus berjuang untuk membebaskan negerinya dari antek dan cengkraman penjajah. Setelah lepas, baru diintegrasikan dengan wilayah yang lain dalam naungan Khilafah.

Namun, jika wilayah tersebut penguasanya bukan antek, dan tidak tunduk dalam cengkraman negara penjajah, maka bisa langsung diintegrasikan dengan wilayah lain di dalam naungan Khilafah.

Begitulah cara Khilafah menjaga persatuan dan kesatuan umat dan wilayahnya. Cara yang terbukti berhasil mewujudkan persatuan dan kesatuan yang belum pernah dicapai oleh sejarah peradaban umat manusia yang lain. Maka, menyebut Khilafah akan menghancurkan persatuan dan kesatuan Indonesia merupakan kebodohan yang luar biasa

 

Wallahu ‘alam

 

Penulis : Herawati
Aktivis Dakwah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.