7 Desember 2022
google.com

Spirit doll atau boneka arwah kini sedang viral jadi perbincangan. Sejumlah selebriti ramai-ramai mengadopsi boneka arwah ini dan merawatnya seperti anak sendiri. Tak hanya untuk diri sendiri, mereka juga mengunggah kebersamaan dengan boneka itu di media sosial.

Keberadaan boneka arwah sudah ada sejak zaman dahulu kala. Biasanya boneka ini digunakan dalam ritual pemujaan atau keagamaan. Kini berbeda, boneka itu dijadiin anak angkat.

Kebodohan adalah kebodohan, walaupun dikemas dengan modernisasi, kilauan penampilan dan terkesan berilmu. Boneka ngajak sedekah, ngajak baik itu kebodohan seperti bodohnya kaum musyrikin Quraisy. Rasulullah dan para sahabat tak membutuhkan patung untuk mengajak mereka bersedekah, berbuat baik ke semua makhluk. Bila membutuhkan, maka Rasulullah adalah orang pertama yang menjaga latta dan uzza. Bila syahadat kita menyebut nama Rasulullah, harusnya ada malu dengan segala kebodohan itu. Malu dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mainan semisal boneka, dan lain-lain yang diperuntukkan untuk anak-anak dan dalam rangka tarbiyah (pendidikan) untuk anak-anak hukumnya mubah/jaiz (boleh), selama bukan madaniyah khas kufur dan tidak mengandung hadharah kufur di dalamnya.

Dalam hal ini, diantaranya diriwayatkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh sayyidatina Aisyah ra, di mana ia berkata:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ لِى صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِى ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَىَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِى

“Aku dahulu pernah bermain boneka di sisi Nabi Saw. Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasulullah Saw masuk dalam rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku” (HR. Bukhari no. 6130).

Namun, mainan berupa boneka arwah yang saat ini sedang viral dan trend adalah termasuk madaniyah khas kufur.

Boneka arwah atau boneka berhantu -yang diritualkan dan dirawat dengan ritual khusus kufur jahiliyah tertentu penuh magic (sihir) tertentu untuk mengundang arwah (jin) masuk dan bersemayam di dalam boneka tersebut- yang ngetrend dan digandrungi masyarakat di Thailand yang notabene mayoritas non-Islam. Kini pun ngetrend pula dan mulai digandrungi di tengah masyarakat kita di Indonesia yang notabene mayoritas Muslim ini, khususnya di kalangan selebritis tanah air.

Karena, telah dianggap dan diyakini serta telah menjadi doktrin dan dogma bahwa boneka arwah tersebut memiliki aura mistis dan memiliki kekuatan spritual, serta membawa spirit dan berkah atau telah menjadi jimat keberuntungan dan gaya hidup. Serta pula dengan mengadopsi boneka arwah yang penuh mistis dan telah diritualkan tersebut akan membawa keberuntungan, pesugihan dan pengasihan serta kedigdayaan bagi pemiliknya tersebut.

Maka, itu pun adalah termasuk hadharah kufur dan termasuk perbuatan syirik serta haram, serta termasuk pula bertasyabbuh kepada kaum kuffar yang hukumnya haram pula.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang memakai jimat, dia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

“Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad 4: 154).

Nabi Saw pun bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Orang yang tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

Karena juga, perbuatan mengadopsi, mensakralkan, pemujaan terhadap boneka arwah serta menggunakan boneka arwah tersebut untuk pesugihan, pengasihan, kedigdayaan, dll. Itu tidak jauh bedanya dengan penyembahan dan pemujaan serta sakralisasi terhadap patung-patung berhala, jimat, batu akik dan keris yang diisi jin, benda-benda pusaka dan magic (sihir) lainnya, dll.

Allah SWT berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

 

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah, menjelaskan tafsir ayat di atas: “Ayat ini dan semisalnya adalah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan.” [Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid, 127-128].

Jadi, trend boneka arwah di kalangan selebritis dan mulai diikuti oleh masyarakat. Itu salah-satu bukti potret buram masyarakat kita yang sedang sakit, rusak dan mengalami krisis keimanan/krisis akidah serta krisis moral/akhlaq dan krisis multidimensi.

Itu semua buah busuk dan beracun dari diadopsi dan diterapkannya sistem kufur demokrasi kapitalis sekuler -beserta segala derivatnya: liberalisme, hedonisme, sinkritisme, pluralisme, pragmatisme, HAM, dll- di negeri ini.

Kalau bukan solusinya Islam ?lantas apa..?!

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis : Siti Mutia

Aktivis Dakwah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.