7 Desember 2022

Oleh Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga

Allah Swt. berfirman: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32)

Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pegawai KPK akhirnya berbuntut polemik. Pasalnya, beberapa konten pertanyaan dalam tes yang diikuti sebanyak 1.349 pegawai KPK pada 18 Maret hingga 9 April 2021 tersebut dinilai janggal dan tidak relevan dengan tugas yang akan dijalankan pegawai KPK. Seperti pertanyaan bersedia tidaknya melepas kerudung, memilih Al-Qur’an atau Pancasila, serta pandangan perihal LGBT dan mengucapkan selamat Natal. Usut punya usut, sebenarnya tes TWK itu bernama resmi Tes Moderasi Kebangsaan . (Detiknews, 20/6/2021)

Diketahui, imbas dari tes TWK ini sebanyak 75 orang pegawai senior KPK yang tak lulus tes terancam dipecat. Dari 75 orang tersebut, 51 di antaranya diberhentikan dan 24 lainnya akan dibina. (Newsdetik.com, 15/9/2021)

Menyaksikan fakta di atas, pertanyaan-pertanyaan kontroversial dalam TWK KPK yang mengangkat isu-isu popular seputar agama (Islam) termasuk toleransi beragama dan pandangan terhadap LGBT, semakin menguatkan dugaan bahwa moderasi beragama tengah masif didengungkan oleh pemerintah. TWK KPK menggambarkan bahwa profiling ASN harus sejalan dengan arus moderasi. Yakni bisa menempatkan isu kebangsaan lebih tinggi dibanding prinsip agama.

Tak bisa dipungkiri, isu moderasi beragama memang menjadi isu krusial bagi pemerintah saat ini. Tersebab itulah, meskipun sesungguhnya pertanyaan dalam TWK ini tidak relevan dengan tugas kerja ASN KPK, namun tetap dipaksakan. Dari fakta ini, jelaslah bahwa hakikat TWK pegawai KPK, bukanlah untuk meningkatkan kinerja mereka sebagai ASN. Melainkan alat untuk mengarahkan agar moderasi beragama bisa masuk dan diterima segala kalangan termasuk pegawai KPK.

Jika kita telusuri, sejatinya moderasi beragama adalah agenda Barat untuk menghancurkan Islam dan melemahkan umat muslim. RAND Corporation, sebuah lembaga riset swasta Amerika, merilis dokumen berisi grand design Barat untuk menghancurkan Islam. Salah satu cara yang mereka tempuh dalam memuluskan agenda ini adalah dengan mengotak-kotakkan Islam, membaginya menjadi beberapa kelompok, kemudian melabeli dan memperlakukan kelompok-kelompok ini dengan cara berbeda satu sama lain.

Dari semua kelompok Islam yang mereka beri label, Islam fundamentalis/radikalislah yang dianggap sebagai ancaman berbahaya. Karena pro-khilafah, pro-syariat Islam, anti-Demokrasi dan anti-Barat. Oleh karena itu, untuk menghadapi kelompok ini maka Barat menggunakan Islam moderat sebagai senjata dalam melemahkan dan menghancurkannya. Hal ini, karena karakter Islam moderat sendiri adalah mendukung demokrasi, anti terhadap penerapan syariat Islam, anti terhadap penegakan khilafah, dan pro terhadap ide-ide Barat (LGBT). (Dari Isu Radikalisme Membongkar Agenda Barat dalam Dokumen RAND Corporation Sigit Nugroho, Kompasiana, 6/12/2019)

Kini, rancangan RAND Corporation ini telah sukses menjadikan Indonesia sebagai poros Islam moderat sekaligus sebagai penjaganya. Maka tidak heran, jika ide Islam moderat terus dipropagandakan dan diserukan. Tujuannya tiada lain untuk membuat keraguan di hati umat, menjauhkan mereka dari pemahaman Islam yang sesungguhnya serta memalingkan umat dari Islam dengan karakternya sebagai sebuah ideologi. Sehingga dapat diganti dengan pemikiran dan budaya Barat. Dengan demikian, maka sistem Kapitalisme neoliberal tetap bercokol di negeri-negeri muslim dan penjajahan atas umat muslim pun berjalan mulus tanpa hambatan.

Semenjak wacana penegakan Islam kafah dan Khilafah terus bergulir beberapa tahun ini, musuh-musuh Islam memang semakin menampakkan ketakutannya. Mereka menyadari betul bahwa tegaknya Islam kafah akan mengancam hegemoni mereka atas umat muslim. Tersebab itulah, berbagai cara mereka lakukan untuk menjegal kebangkitan Islam. Termasuk menggunakan Islam moderat sebagai senjata agar umat muslim jauh dari rahasia kebangkitan serta identitasnya sebagai umat terbaik, umat pemimpin.

Sayangnya, sebagian umat muslim tidak menyadari hal ini. Mereka menganggap Islam moderat adalah Islam yang benar. Parahnya, mereka menjustifikasi klaim tersebut dengan dalilnya Q.S Al-Baqarah ayat 143. Yang artinya: “Demikian pula kami telah menjadikan kalian ummatan wasathan. Agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.”

Berbekal ayat inilah, mereka menafsirkan Islam moderat sebagai Islam pertengahan. Yaitu tidak radikal dan tidak liberal. Padahal penafsiran kata wasathan dalam ayat itu sendiri jauh dari pemaknaan tersebut. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa wasath adalah al-‘adl (adil). Asalnya, yang paling terpuji dari sesuatu adalah alwasath-nya. Al-Qurthubi menjelaskan, maknanya bukan dari wasath yang artinya pertengahan antara dua hal (dua kutub) dalam sesuatu. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Ibn Katsir, wasath di sini adalah al-khiyar wa al-ajwad (yang terbaik, pilihan dan paling bagus).

Hal ini kemudian disepakati oleh para mufassir. Mereka menafsirkan kata wasath dengan al-‘adl (adil) dan al-khiyar wa al-ajwad (yang terbaik, pilihan dan paling bagus). Karena keduanya memiliki arti berdekatan sebab al-khiyar merupakan al-‘udul. Abu Bakar Ibn al-Arabi dalam Al-Ahkam Al-Qur’an mengatakan, “Sebagian mengatakan kata wasath dan wasath asy-syay (tengah-tengah sesuatu)”. Padahal wasath dengan arti pertemuan (titik tengah) dua kutub tidak ada tempat untuk masuk di sini. Hal ini karena umat Islam adalah umat terakhir. Yang dimaksudkan wasath di sini tiada lain adalah al-khiyar al-‘adl (terbaik/pilihan yang adil). Ini berarti ummatan wasathan adalah umat terbaik, yang adil dan pilihan serta konsisten menjalankan syariat Islam. Bukan umat yang moderat, kompromis dan senantiasa mengedepankan jalan tengah.

Sejatinya, dalam Islam tidak ada istilah Islam moderat/moderasi beragama. Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam hadir ke dunia ini untuk menuntun manusia kepada cahaya kebenaran. Dalam ajaran Islam seorang muslim dituntun untuk menjadi seorang muslim yang sebenarnya (kafah). Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.”
(TQS. Al-Baqarah: 208)

Oleh karena itu, umat Islam harus mewaspadai pemikiran Islam moderat ini. Karena Islam moderat jelas bukanlah ajaran Islam. Islam moderat adalah racun berbalut madu. Tersebab itu, umat muslim harus bersatu membuang ide Islam moderat ini dari akarnya. Yakni dengan mencampakkan sistem kapitalisme-sekuler. Kemudian kembali kepada Islam yang sesungguhnya yakni Islam kafah yang diturunkan oleh Allah Swt.. Agar status sebagai umat terbaik bisa kita raih kembali. Karena, tentu status sebagai umat terbaik itu tidak bisa dilepaskan dari risalah yang didatangkan pada umat Islam (risalah Islam).

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.