6 Desember 2022

Gunung Semeru di Dusun Renteng, Lumajang Jawa Timur, kembali menunjukkan keaktifan vulkaniknya dengan mengeluarkan awan panas hari Sabtu, 4 Desember 2021, sekitar pukul 15.00. Menurut koordinator Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristianto, bahwa sebelumnya gunung berapi telah mengeluarkan Gununglahar pukul 13.30. Semeru termasuk gunung api yang masih aktif sejak letusan pertama yang tercatat tahun 1818 hingga terakhir kemarin tahun 2008. Bila dihitung, gunung Semeru telah meletus lebih dari 20 kali.

 

Sepekan petugas SAR terus melakukan pencarian ditengah kondisi yang  sesekali terjadi luncuran guguran awan panas dari kawah Jonggring Saloka. Sampai tanggal 10 Desember ini  data korban yang tecatat dengan luka berat ada 20 orang, 82 orang luka ringan, 46 meninggal dunia dan sisanya masih dalam pencarian. Karena ada sejumlah penduduk belum menemukan keluarganya yang diperkirakan masih tertimbun material erupsi gunung Semeru.

 

Korban Bencana

Duka tidak hanya menyelimuti warga Lumajang, tapi sudah menjadi duka Negri Indonesia. Masyarakat menyayangkan kenapa banyak korban dari peristiwa erupsi Semeru ini? Jika dilihat dengan intensitas kejadiannya seharusnya tidak ada korban lagi atau tidak sebanyak ini. Berselisih opini antara sebagian masyarakat yang tidak merasa mendapat peringatan dini, sebaliknya pihak yang punya otoritas informasi bencana, kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani, mengatakan peringatan dini sudah diinformasikan. Hal ini juga dibenarkan oleh sekretaris badan Geologi Ediar Usman bahwa seluruh informasi telah di sampaikan kepada masyarakat. “Memang kejadiaannya cukup cepat dari hal-hal yang kita duga sebelumnya, saya kira ini akan menjadi antisipasi ke depannya” ujarnya( BBC/7/6/21).

 

Pertanyaannya, jika sudah di beri peringatan dini sudahkah dipastikan informasi itu sampai ke masyarakat? mengingat tidak semua memiliki jaringan internet? Bahkan peringatan dinipun tidak cukup efektif jika tidak dibarengi dengan edukasi pada masyarakat tentang arti penting peringatan dini dan proses melakukan evakuasi. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pengelolaan tata ruang yang salah. Menurut Vulkanog Surono, mengatakan bencana alam yang menimbulkan korban jiwa dan berulangkali terjadi di Semeru dan wilayah rawan laiinnya di Indonesia dipicu oleh tata ruang yang salah. Menurut beliau hari ini banyak pembangunan ttata ruang yang tidak berbasis dengan peta rawan bencana. Seperti yang terjadi di Semeru, korban adalah penduduk yang pemukimannya di jalur awan panas guguran. Selama itu pemukiman akan terdampak dan terus ada korban. Jadi prosesnya, diawali dari peta potensi bencana, diatur tata ruangnya, lalu dipantau aktivitasnya, bukan semata sistem peringatan dini,” katanya.

 

Rencana Pemda yang akan melarang lereng Merapi Semeru untuk dimukim beberapa lama, semakin mengorfirmasi bahwa selama ini belum ada pengaturan tata ruang rawan bencana. Penduduk dibiarkan hidup di wilayah rawan bencana gunung Merapi. Seharusnya langkah-langkah mitigasi apa yang perlu dilakukan pemerintah baik pusat khususnya daerah terhadap masyarakat?

Mitigasi Bencana

Mitigasi -menurut ADPC Primer Team (2005)-, merupakan tindakan-tindakan struktural dan non-struktural untuk membatasi dampak yang merugikan dari bencana alam, degradasi lingkungan, dan bencana alam teknologis. Mitigasi struktural ialah tindakan – tindakan struktural berkenaan dengan berbagai konstruksi fisik untuk mengurangi atau mungkin menghindarkan dampak bencana alam, yang mencakup tindakan – tindakan rekayasa dan konstruksi tahan-bencana alam, bangunan, pelindung dan prasarana lainnya. Sedangkan mitigasi non-struktural ialah tindakan-tindakan non-struktural berkenaan dengan kebijakan, kesadaran, pengembangan pengetahuan, komitmen publik, serta metode dan praktik operasional, yang mencakup mekanisme partisipatori serta persediaan informasi, yang dapat mengurangi risiko dan dampak-dampak yang berhubungan. Mitigasi nonstruktural ini juga mencakup praktik-praktik seperti zonasi lahan, perencanaan penggunaan lahan, perencanaan perkotaan, dan forensic terhadap bencana alam sebelumnya.

 

Peristiwa meletusnya gunung Semeru merupakan ketetapan Allah Swt., Sikap kita sebagai muslim  menerima dan bersabar. Di satu sisi seorang muslim dituntut untuk optimalkan ikhtiyar. Melalui cara apa? Melakukan mitigasi bencana dengan harapan mampu meminimalkan korban baik jiwa,kehancuran harta dsb. Manajemen bencana mulai dilakukan untuk mengurangi dan menghindarkan dampak kerugian dari bencana alam. Bisa memulai dengan pemetaan wilayah bencana, jumlah penduduk di wilayah tersebut, penyiapan lahan untuk relokasi penduduk, penyediaan matapencaharian, sarana dan prasana yang dibutuhkan. Sarana dan prasaranapun akan dibangun dengan landasan anti bencana sehingga akan ada penetapan desain bangunan tertentu misal anti goyang,anti patah dan seterusnya.

 

Dalam mitigasi bencana yang tidak kalah pentingnya adalah edukasi masyarakat terhadap bencana dan langkah- langkah antisipasinya. Di Indonesia sendiri jika melihat titik-titik bencana gunung merapi juga sejauh mana kekuatannya/ kedahsyatan letusannya dimana sebaran gunung merapi Indonesia ada 127 gunung aktif, terbanyak di dunia dan menduduki peringkat pertama dengan sejumlah korban jiwa. Dari jumlah gunung aktif tersebut, 69 gunung api aktif dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

 

Menurut situs Kementerian Energi dan Sumber daya mineral, ESDM, kekuatan letusannya, letusan eksplosif atau bertahap, yang mengeluarkan abu panas, aliran pyroklastik, gas dan debu. Kekuatan-kekuatan letusan bisa menghancurkan bangunan-bangunan, hutan-hutan dan infrastruktur yang dekat dengan gunung berapi dan gas-gas beracun bisa mematikan. Abu panas jatuh sejauh berkilo-kilo meter di sekitar gunung, membakar dan mengubur tempat-tempat hunian. Debu bisa terbawa angin dalam jarak yang jauh, dan jatuh sebagai polutan di tempat-tempat hunian yang jauh sekali jaraknya.

 

Lava cair yang dilepas dari kawah vulkanis dan bisa mengalir berkilo-kilo meter jauhnya sebelum akhirnya membeku. Panas lava akan membakar sebagian besar barang-barang yang berada pada jalur aliran lava. Gunung-gunung berapi bersalju menderita karena cairnya es yang menyebabkan aliran-aliran puing-puing dan tanah longsor yang bisa mengubur bangunan-bangunan. Letusan gunung berapi bisa mengubah pola-pola cuaca setempat, dan menghancurkan ekologi setempat. Gunung berapi juga menyebabkan gerakan kuat ke atas dari daratan selama proses pembentukannya. Pemetaan bencana ini bisa setidaknya mengurangi efek dari bencana yang terjadi, sehingga kerugian jiwa dan materi bisa diminimalisir.

 

Mitigasi Bencana Dalam Khilafah

Sebenarnya mitigasi bencana secara umum termasuk dalam khilafah sama dengan negara-negara yang melakukan upaya preventif. Hanya saja ada pemahaman dasar yang membedakan yaitu pemahaman tentang kehidupan yang memang sangat berbeda. Pemahaman ini yang justru menjadikan sebuah mitigasi itu akan efektif,efisien mampu diwujudkan dengan signifikan. Pemahaman itu adalah pemahaman tentang hidup yang didasarkan oleh aqidah Islam. Seperti pemahaman tentang pemimpin, dalam Islam muslim memahami bahwa pemimpin itu adalah peri’ayah/ penanggungjawab rakyatnya, bukan fasilitator.Sebagamana dalam hadist:

Rasulullah Saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

 

Pemimpin akan memastikan kondisi dan kebutuhan hidup rakyat termasuk di wilayah-wilayah. Akan ada pemukiman yang diberikan kepada rakyat agar tidak tinggal di wilayah yang membahayakan. Biaya untuk mitigasi bencana termasuk biaya mendatangkan para ahli konstruksi dan teknolog menjadi tanggungjawab pemimpin, biaya akan dtanggung negara. Jika kas negara benar-benar kosong atau tidak mencukupi maka negara bisa memberlakukan pajak kepada orang yang mampu di seluruh negri itu. Dengan negara berperan penuh terhadap rakyatnya upaya mitigasi tidak menjadi solusi kosong tanpa realisasi. Pemahaman yang lain tentang nyawa, di mana setiap nyawa itu berharga melebihi apapun. Sebagaiman dalam sebuah hadist: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

َ“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”. (HR. Nasai, dan dishahihkan al-Albani).

 

Hadist ini akan menjadi prinsip seorang pemimpin,sehingga akan ada komitmen kuat untuk menjaga hidup rakyatnya dengan optimalkan ikhtiyar. Mitigasi bencana dipastikan berjalan dengan cepat dan tepat. Apakah hal ini bisa dirasakan perbedaannya? Meski sebuah negara sama-sama melakukan mitigasi bencana, hari ini tampak mitigasi itu lambat dan tidak berefek baik pada korban bencana. Karena hari ini mitigasi bencana di bangun dengan pertimbangan kepentingan beberapa pihak dan untungrugi/bisnis. Disinilah perbedaan sistem Islam dan sistem yang lain yaitu Kapitalis maupun Komunis. Umat membutuhkan pengaturan hidup dengan sistem Islam bukan yang lain.

 

Penulis: Nuha

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.