6 Desember 2022

Menjelang akhir tahun, isu terorisme kembali berulang dan semakin intensif diangkat. Kita turut prihatin melihat fenomena penangkapan terduga terorisme dikaitkan dengan banyak hal yang berasosiasi dengan Islam. Mulai dari tokoh ulama, dana zakat, kebun kurma, sampai organisasi Islam dan ulama seperti MUI. Seperti yang terjadi baru baru ini, seruan dukungan terhadap MUI mencuat usai munculnya tagar “Bubarkan MUI” di media sosial. Dengan ramainya tagar “Bubarkan MUI” itu, tak sedikit pihak yang sontak menolak pembubaran tersebut.

Hal ini didasari oleh adanya penangkapan tiga terduga anggota terorisme Ahmad Zain an-Najah (anggota Komisi Fatwa MUI), Anung al-Hamad, dan Farid Ahmad Okbah (Ketua Umum Partai Dakwah Indonesia.

 

Ada Apa dengan Fenomena ini ?

Banyak masyarakat menyayangkan hal tersebut, karena menganggap selalu saja ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk memojokkan umat Islam. Ini juga seakan-akan membuka kesempatan bagi para pembenci Islam untuk membungkam ulama kritis dan lurus. Sebagian masyarakat juga ada yang memandang peristiwa ini mengandung kepentingan politik. Densus 88 dianggap terlalu berlebihan. Bahkan muncul dugaan, MUI memang sedang ‘dibersihkan’. Maklum, masih banyak ulama di lembaga itu yang berani menunjukkan sikap berseberangan dengan penguasa.

 

Ketua Koalisi Persaudaraan dan Advokasi Umat (KPAU) Ahmad Khozinudin berpendapat bahwa Densus 88 bukan hanya melanggar prosedur penangkapan, tetapi juga menimbulkan teror, ancaman, dan ketakutan di tengah masyarakat. Menurutnya, bukan kali ini saja Densus 88 berbuat demikian, detasemen khusus ini bahkan kerap menembak mati orang yang masih berstatus terduga. Jelas saja, sebagian masyarakat bereaksi keras terhadap penangkapan ketiga ulama tersebut, apalagi sampai mengaitkannya dengan jaringan teroris. Hingga kini, JI yang disebut-sebut sebagai jaringan terorisme pun masih publik pertanyakan kebenarannya. Pasalnya, JI ini seolah nama fiktif yang tercipta untuk suatu kepentingan.

 

Bukan kali ini saja Pemerintah menangkapi para ulama. Sebelumnya, Abu Bakar Ba’asyir juga tertangkap dengan tuduhan terlibat jaringan terorisme. Ada juga penangkapan HRS, Habib Bahar, Gus Nur, dan lainnya hanya karena berseberangan dengan pendapat penguasa. Mereka yang tertangkap adalah yang lantang menyuarakan kebenaran. Kriminalisasi terhadap ulama yang tegas menyuarakan kebenaran berulang terjadi. Selama rezim ini berkuasa, banyak penangkapan terhadap ulama dan aktivis Islam yang kerap berseberangan pendapat dengan penguasa. Mereka yang lantang melawan kezaliman buru-buru mendapat cap radikal atau pemecah belah bangsa.

 

Dan mirisnya , kala ulama dikriminalisasi, para pencela agama bebas justru tidak masuk jeruji dan para koruptor bebas membobol uang kotor. Keberadaan mereka bagaikan parasit di negeri ini, merugikan dan tidak bermanfaat sama sekali.

 

 

 

Umat Jangan Terjebak

Umat semestinya paham, bahaya yang mengancam tidak datang dari Islam. Buruknya kondisi yang mereka hadapi sekarang justru diakibatkan tegaknya sistem kapitalisme global, serta hadirnya para penguasa antek yang menyukseskan agenda penjajahan.

 

Umat pun semestinya paham bahwa Islamlah jalan keselamatan. Karena Islam adalah sistem hidup yang menyolusi seluruh problem kehidupan. Aturannya dipastikan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman :

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)

 

Maka semestinya mereka tak terjebak propaganda melawan Islam. Termasuk dengan munculnya narasi terorisme yang terus ditujukan untuk memojokkan Islam. Juga narasi lain yang di-setting untuk menjauhkan umat dari keinginan untuk kembali hidup dalam sistem Islam, sebagaimana mainstream gagasan moderasi Islam.

 

Islam tak mungkin tegak dengan baik jika diperjuangkan melalui jalan kekerasan. Karenanya terorisme jelas bukan dari Islam dan bukan jalan menegakkan Islam. Kemunculannya adalah fitnah keji demi menghadang kebangkitan Islam sekaligus melanggengkan agenda penjajahan. Disisi lain, Islam juga tak mengenal jalan tengah sebagaimana ide moderasi Islam. .

 

Saatnya umat berjalan bersama para pejuang yang berjalan di atas minhaj dakwah Rasulullah saw.. Yakni mereka yang konsisten melakukan pembinaan tanpa kekerasan, mengukuhkan akidah umat, dan memahamkan mereka dengan syariat Islam secara kafah.

 

Umat tak boleh gentar dengan narasi buruk tentang Islam. Apalagi ikut-ikutan menyingkirkan Islam dan menjauhi perjuangannya. Karena justru di sanalah jalan keluar dari semua keburukan yang menimpa mereka. Sekaligus kunci kembalinya kemuliaan mereka di hadapan umat manusia, termasuk musuh yang tersembunyi maupun nyata. Wallahu a’lam bish-showab

 

Penulis: Septi Eka

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.