7 Desember 2022
sumber : google.com

Belakangan lalu muncul tagar pembubaran MUI. Dimana MUI ini adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi para ulama, zuama, dan cendekiawan Islam untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam di Indonesia.  Wacana ini muncul setelah berita tertangkapnya tiga orang yang diduga terkait jaringan terorisme oleh Densus 88. Dimana salah satu terduganya adalah anggota MUI aktif.

Hal ini menimbulkan reaksi dikalangan masyarakat yang menganggap bahwa kejadian tersebut adalah bagian dari upaya kriminalisasi ulama. Mengingat bahwa tuduhan terhadap terduga teroris yang notabenenya adalah ustadz-ustadz yang dinilai bersih, tidak memiliki track record yang buruk dimata umat. Disamping itu, kejadian penangkapan itu tidak berselang lama setelah MUI mengeluarkan hasil ijtima yang menyangkut beberapa hal.

Diantaranya adalah pencabutan permendikbud ppks, keharaman crypto, keharaman pinjol, larangan stigma negatif terhadap jihad dan khilafah, larangan melecehkan agama, aturan nikah online, segera sahkannya uu minol, pilkada, bea cukai, aturan toa masjid, masa jabatan presiden dan transplantasi rahim.

Dugaan tersebut bukan tidak berdasar mengingat apa yang di fatwakan MUI ini ada beberapa poin yang bersebrangan dengan kebijakan pemerintah, yang belakangan ini menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya adalah terkait permendikbud ppks yang di usulkan oleh mendikbud. Kemudian jihad dan khilafah yang memang seringkali digaungkan sebagai faham yang bertentangan dengan ideologi bangsa. Begitupun keharaman pinjol yang dimana kita sudah ketahui pinjol yang diawasi ojk ini di bolehkan oleh pemerintah.

Dari ketiga poin ini saja bisa menjadi dasar dugaan oleh masyarakat adanya upaya kriminalisasi terhadap ulama. Ditambah lagi dengan beredarnya kembali cuitan twitter almarhum ustadz tengku zulkarnaen yang mengatakan kekhawatiran beliau setelah pembubaran HTI, kemudian FPI, dan kemungkinan besar terjadi dengan MUI, yang semakin menguatkan dugaan tersebut. Meskipun hal ini dibantah oleh pihak pemerintah dan MUI itu sendiri.

MUI dalam hal ini mendapatkan dukungan dari masyrakat khususnya umat Islam. Dengan munculnya beberapa tagar #savemui #saveulama #stopkriminalisasiulama, menjadi bukti bahwa ulama memiliki peranan penting dan posisi istimewa dihati umat. Dari situasi diatas inilah kita bisa melihat sejauh mana kedudukan ulama saat ini.

Di era kapitalisme kedudukan ulama di anggap sesuatu hal yang biasa saja, tidak memiliki keistimewaan secara khusus. Suara ulama dibutuhkan hanya pada waktu tertentu saja. Misalnya pendapat ulama mengenai vaksin, yakni dari segi kehalalannya dan kebolehan penggunaannya meskipun terdapat unsur yang haram didalamnya dengan alasan kedaruratan. Padahal pemerintah dalam hal ini seharusnya masih bisa mengupayakan pengadaan vaksin yang benar-benar terjamin kehalalannya bahkan masih bisa mengupayakan cara yang lebih aman dalam mengatasi pandemi. Ulama hanya dijadikan alat untuk melegitimasi kebijakan pemerintah dalam perkara ini.

Dimana kita tahu kebijakan ini memberikan keuntungan bagi para kapitalis atau para pengusaha dibidang tersebut.
Akan tetapi ketika ulama menyampaikan fatwa terkait permasalahan yang terjadi di masyarakat. Seperti perkara haramnya pinjo & minol, pencabutan permendikbud ppks, jihad dan khilafah yang merupakan bagian dari ajaran islam dan lain sebagainya. Justru pemerintah seolah tutup kuping dan mengabaikan fatwa/pendapat ulama terkait masalah tersebut.

Perlakuan yang tidak sama pun dapat terlihat dengan jelas terhadap ulama yang berbeda pandangan dengan kebijakan penguasa dan ulama yang mendukungnya. Selain itu dalam sistem kapitalis ini bahkan ada ulama yang menjadi bagian dari badan usaha milik negara bahkan menjabat posisi yang strategis.

Dalam Islam ulama memiliki posisi yang sangat penting. Allah SWT menempatkan ulama dalam kedudukan yang mulia. Ulama berasal dari kata ‘aalim yang berarti orang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ulama dijadikan rujukan karena ilmunya. Juga, ulama menjadi teladan sebab amalannya.

Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11).
Rasulullah SAW bersabda, “Kelebihan orang berilmu atas orang beribadah seperti kelebihan rembulan di malam purnama atas bintang-bintang yang lain.” (HR Abu Naumi dari Muadz bin Jabal).
Maksud dari orang berilmu dalam hadist tersebut menurut syaikh nawawi adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW sendiri memberikan peringatan yang keras kepada umatnya, ketika umat islam tidak lagi menghormati dan menghargai ulamanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Bukanlah bagian dari umatku, seseorang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak-hak para ulama.” (HR Ahmad).

Karena ulama memiliki kedudukan yang mulia disisi Allah, dimana ulama dikatakan sebagai pewaris para nabi yang meneruskan risalah nabi. Yang bertugas mendakwahkan dan menyampaikan syariatNya ditengah-tengah umat.

Abu Ad Darda berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”
[Diriwayatkan Abu Daud no. 3641]

Dari sini kita bisa melihat dan menilai sejauh mana Islam mendudukan ulama kedalam bagian yang sangat penting serta istimewa. Ulama di ibaratkan lentera yang selalu menerangi umat. Kehilangan ulama adalah suatu bencana bagi umat yang artinya kehilangan ilmu ditengah-tengah umat. Dan ulama akan memperoleh posisinya yang seharusnya, dan ini hanya bisa didapatkan ketika Islam dijadikan sebagai satu-satunya aturan kehidupan. Baik dalam ranah individu, sosial kemasyarakatan dan negara. Maka posisi ulama akan berada didalam kedudukan yang mulia sebagaimana mestinya.
Wallahu a’lam bishshawab.

 

Penulis : Nunung (Pemerhati Ummat)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.