7 Desember 2022

Bak fenomena gunung es, itulah gambaran wabah Corona saat ini. Bagaimana tidak? Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda mereda, namun virus tersebut kini rupanya mulai menampakkan eksistensinya kembali. Hal ini ditandai dengan ditemukannya virus Corona varian baru di Afrika Selatan, yakni Omicron atau B.1.1.529. Varian tersebut diketahui lebih berbahaya karena memiliki banyak mutasi melebihi Alpha, Beta dan Delta.

Jenis kasus varian Omicron ini sendiri kini menjadi pantauan ketat WHO dan telah ditetapkan sebagai Varian of Concern (VoC). Diketahui, varian Omicron juga terdeteksi di negara-negara lain, seperti Inggris, Belgia dan Hongkong. Diduga virus ini dibawa oleh pelancong yang baru saja dari Afrika Selatan. (BNBC, 28/11/2021)

Tak ingin kecolongan Omicron, pemerintah Indonesia perketat kedatangan WNA dari luar negeri. Dilansir oleh laman yang sama, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa untuk mencegah Omicron masuk Indonesia, semua jalur transportasi telah diperketat oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah pun membatasi WNA yang berasal dari Afrika dan negara-negara yang berpeluang menyebarkan virus Omicron, memasuki Indonesia.

Menyaksikan fakta di atas, kebijakan pemerintah memperketat semua jalur transportasi dan membatasi WNA masuk ke Indonesia untuk mencegah penularan Omicron, tentu patut diapresiasi. Namun, tentunya kebijakan memperketat kedatangan WNA saja tidaklah cukup. Perlu ada upaya lain yang ditempuh pemerintah agar penangan wabah Corona bisa tepat sasaran.

Meskipun saat ini Indonesia tidak terkategori negara yang memiliki kasus Omicron, tetapi kemungkinan terpapar varian tersebut sangatlah besar. Mengingat kecepatan penularan Omicron diprediksi lebih cepat dari varian lainnya. Untuk itu, mumpung di Indonesia belum terdeteksi ada kasus Omicron, maka yang harus dilakukan pemerintah adalah menutup semua peluang yang akan menjadikan virus tersebut masuk.

Seperti menerapkan lockdown total misalnya. Agar warga asing benar-benar tidak bisa masuk ke Indonesia. Pun demikian sebaliknya, WNI (warga negeri Indonesia) juga tidak memasuki negara bersangkutan (terdeteksi adanya Omicron). Sehingga mata rantai penyebaran varian virus mematikan tersebut bisa diputus.

Kian beragamnya varian Corona (Covid-19), membuktikan virus ini memang bukan masalah sepele. Apabila tidak ditangani serius, maka akan semakin sulit mengendalikannya, agar tidak memakan korban jiwa. Karena itu, varian Omicron yang menyebar di Afrika Selatan dan negara-negara lainnya, seharusnya menjadi pelajaran berharga baik bagi pemerintah Indonesia maupun dunia. Agar mengambil kebijakan lebih menyeluruh untuk menghentikan sebaran virus tersebut.

Tetapi sangat disesalkan sekali dunia tampaknya tidak berdaya mengatasi masalah wabah ganas tersebut. Sekalipun negara-negara besar anggota WHO, namun nyatanya tak mampu untuk segera menghentikan potensi penularan wabah. Sejauh ini yang dilakukan WHO hanya sebatas memantau tanpa mampu melakukan tindakan agar wabah segera berakhir.

Bahkan untuk mendukung penerapan lockdown total saja WHO tampaknya sukar. Padahal seyogyanya, sebagai organisasi kesehatan dunia, WHO harus mampu bertanggungjawab untuk memberikan arahan dalam penanganan kesehatan masyarakat dunia.

Sejatinya, penyebaran wabah Covid-19 yang pesat di dunia hingga bermutasi menghasilkan varian-varian baru, adalah bukti kegagalan sistem kapitalisme dalam menghentikan wabah. Sistem kapitalisme-sekuler pada saat ini, dimana banyak negara mengadopsinya, termasuk Indonesia, nyata gagal memberikan solusi solutif bagi kehidupan.

Pasalnya, hitung-hitungan materi lebih dominan ketimbang kesehatan serta kemaslahatan nyawa manusia. Inilah yang menjadikan para penguasa dalam sistem kapitalisme kerap tidak konsisten dan setengah-setengah dalam mengeluarkan kebijakan.

Bahkan untuk menerapkan lockdown total pun selalu plin-plan. Prinsip nation state yang diterapkan sistem kapitalisme, menjadikan para penguasa kesulitan menerapkan lockdown total. Hal ini karena masing-masing negara mempunyai kebijakan sendiri-sendiri. Mirisnya, lagi-lagi WHO pun mandul dalam hal ini.

Tersebab itulah, penanganan wabah pandemi hingga kini tak pernah ada habisnya. Bukannya tuntas, malah kian parah. Berlarut-larutnya penanganan pandemi karena pertimbangan memenangkan sektor ekonomi, hingga menyebabkan banyak masalah baru muncul, menjadi bukti otentik bahwa sistem kapitalisme memang tidak pernah mampu mengatasi masalah hingga ke akar.

Untuk mengatasi situasi pandemi yang tak terkendali hari ini, butuh ada perubahan sistemik agar dapat menghasilkan solusi mengakar. Dimulai dari perubahan sistem kapitalisme ke Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat. Hal ini karena sebagai agama paripurna Islam memiliki asas yang kokoh. Dimana terpancar darinya seperangkat aturan mengenai kehidupan. Islam beserta aturannya telah teruji kemampuannya mengatasi seluruh problematika kehidupan, termasuk mengatasi wabah mematikan.

Sejarah membuktikan, negara yang menerapkan sistem Islam mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan, termasuk wabah pandemi. Selama hampir 14 abad lamanya sistem Islam dapat memberikan solusi solutif bagi kehidupan. Yang demikian karena hitung-hitungan dalam Islam bukanlah materi, tetapi rida Illahi. Itulah sebabnya kebijakan yang dilahirkan oleh sistem Islam, adalah kebijakan yang dilandasi oleh keimanan.

Sehingga menghasilkan solusi menyeluruh, tidak setengah-setengah dan hanya berorientasi untuk kemaslahatan rakyat. Islam tidak akan membiarkan rakyatnya dalam bahaya hanya demi memenangkan sektor ekonomi. Inilah yang menyebabkan penanganan wabah dalam Islam cepat selesai serta tidak berlarut-larut.

Dalam Islam, penanganan wabah akan dilakukan ke akarnya sekaligus, sehingga meminimalisir munculnya masalah baru sebagaimana dalam aturan kapitalisme-sekuler. Untuk mengatasi wabah tersebut maka penguasa Islam akan menerapkan lockdown syar’i (karantina/isolasi) di daerah asal wabah.

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kalian berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Imam Muslim)

Lockdown syar’i ini dilakukan secara terpusat dalam satu komando; di bawah tanggung jawab kepala negara (khalifah). Uniknya, Konsep lockdown syar’i dalam Islam tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa atau kedaerahan. Sehingga konsep lockdown syar’i ini merupakan kunci keberhasilan pemutusan rantai wabah. Hal ini sebagaimana wabah Amwas yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Melalui penerapan lockdown syar’i hanya butuh waktu delapan bulan untuk menyelesaikan wabah. Padahal pada saat itu, penanganan wabah dilakukan dengan teknologi seadanya, belum secanggih sekarang. Bisa dibayangkan, apabila penanganan wabah pada waktu itu didukung dengan sarana dan teknologi yang ada saat ini, tentu tak akan berbilang bulan terlebih tahun seperti dampak dari metode penyelesaian dengan paradigma kapitalisme kini.

Demikianlah penjelasan tentang betapa sempurna Islam dalam mengatur dan menyelesaikan masalah kehidupan. Hanya Islamlah satu-satunya sistem yang mampu menjadi solusi solutif dalam menyelesaikan masalah wabah mematikan.

Karenanya, kembali kepada Islam beserta aturannya merupakan hal yang urgent bagi dunia saat ini. Maka dari itu, sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada Islam dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Serta membuang sistem kapitalisme yang telah nyata kebobrokannya dan hanya menyisakan kesengsaraan. Niscaya, wabah virus Corona akan segera teratasi dan peluang munculnya varian Omicron tak ada lagi. Keberkahan dari langit dan bumi pun akan dapat kita raih.

Allah Swt. berfirman:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. (TQS. Al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Oleh: Reni Rosmawati | Ibu Rumah Tangga

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.