7 Desember 2022

Dimensi.id-Erupsi gunung Semeru, ada apa dengan negeri ku. Bencana lagi bertubi-tubi menyerang negeriku yang tercinta. Saat ada bencana menimpa, pada siapa kita meminta pertolongan? Hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan meminta seperti yang selalu kita ucapkan dalam sholat kita saat membaca surat al-Fatihah. Lalu layakkah kita menuhankan selain Allah. Harusnya kita hanya takut kepadaNya dengan mengikuti semua perintah dan menjauhi laranganNya dengan sebenar-benar taqwa. Sungguh apa yang dibanggakan, dan dikejar mati-matian tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali pertolongan Allah saja yang bisa menyelamatkan kita.

Semeru bergolak, baru kita menyebut nama Allah untuk meminta pertolongan. Padahal, sebelumnya banyak kita mendengar penistaan terhadap ayat-ayat Allah. Bahkan, ada pula yang berani membandingkanNya dengan sesuatu yang lain. Padahal jelas didalam al-Qur’an surat al-Ikhlas bahwa Allah itu Ahad dan tidak satupun yang menyerupaiNya. Namun, seorang jendral berani membandingkan Allah dengan manusia. “Kalau saya berdoa setelah sholat, doa saya simpel aja, ya Tuhan pakai bahasa Indonesia saja, karena Tuhan kita bukan orang Arab,” ucap Dudung saat menjadi bintang tamu Deddy Corbuzier di Podcaast Youtubenya, dikutip di Jakarta, Rabu (1/12/21).https://wartaekonomi.co.id/read377822/dudung-abdurachman-sebut-tuhan-bukan-orang-arab-imam-shamsi-ali-bersuara-bapak-jenderal)

Agama dalam demokrasi bukan sesuatu yang dianggap penting, sehingga mudahnya mereka menistakan Allah, rasullNya, dan Islam. Meskipun seorang jendral, penista agama harus dihukum berat agar bisa menjadi efek jera bagi yang lain, karena tidak sepantasnya Allah, Al Khalik dibandingkan dengan makhluk, ciptaanNya. Pemimpin yang cerdas tidak akan mudah mengumbar pernyataan kontroversi yang melukai keyakinan rakyatnya. Pemikirannya menyimpang jangan diumbar, harusnya dirubah dan diperbaiki dengan terus belajar dan upgrade diri tentang Islam. Enggan menutut ilmu agama dan memperdalam Islam, tapi merasa benar. Kewajiban seorang muslim untuk menuntut ilmu agama agar pemahamannya lurus dan tidak tersesat dan menyesatkan. Sayang, pemahanannya yang merasa benar, tapi sering salah karena tidak suka mengkaitkan pemikiran dan tingkah lakunya dengan Islam.

Kesombongan membuat seseorang lupa diri. Lupa bahwa semua yang dimiliki; kekuasaan dan kekayaan serta apa saja nikmat dunia diberikan atas izin Allah. Semuanya bisa diambil dan dicabut sewaktu-waktu. Adzab dari Allah termasuk bencana alam berupa gunung meletus juga datang menghampiri kita dengan izinNya. Mumpung masih hidup, dan pintu taubat masih terbuka untuk kita, bersegeralah mengikuti petunjukNya, jalan lurus dan mulia agar kita bisa hidup mulia dan bahagia tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti saat kita kembali pada kehidupan yang sesungguhnya.

Pemimpin muslim tapi enggan untuk mendalami Islam dan tidak pula mau menerapkan Islam dalam kehidupan bukanlah pemimpin ideal. Bahkan, tidak jarang mereka menebarkan kebencian pada Islam agar umat Islam merasa ragu dan menjauhi agamanya sendiri. Padahal, Islam adalah peta jalan hidup agar tidak tersesat dan bisa kembali pada sebaik-baik tempat kembali, surgaNya. Sungguh, ngeri dipimpin oleh orang-orang fasik, yang mengaku Muslim tapi memusuhi dan membenci agamanya sendiri. Umat yang memperdalam agamanya dianggap memiliki pemahaman yang menyimpang. Yang berpegang teguh pada Islam secara Kaffah dianggap radikal. Kenapa harus Islam yang diawasi dan dimusuhi. Padahal, Islam akan membawa kebaikan dan merubah tatanan kehidupan jahiliyah yang rusak dengan Islam. Kehidupan Islami akan menghancurkan kedzaliman, kemaksiatan dan penyimpangan yang sudah tumbuh subuh di alam demokrasi yang mengangungkan kebebasan bertingkah laku. Sementara, mereka yang membawa perubahan dengan Islam dicurigai dan diawasi bahkan tidak sedikit yang diberi label sebagai teroris. Padahal teroris sevanarnya, adalah penguasa dzalim yang menimbulkan keresahan ditengah umat dengan menebarkan kebencian dan juga ancaman pada rakyatnya sendiri yang ingin menyuarakan kenebaran sesuai dengan keyakinannya. Rakyat jauh dari rasa aman dan juga kata sejahtera karena pemimpinnya sibuk mempertahankan kekuasaan agar terus dalam genggaman.

Pernyataan kontroversi dari pemimpin negeri yang menolak Islam sungguh hanya mengundang murka Allah dan bencana bertubi-tubi menimpa negeri ini. Pemimpin muslim harusnya memberikan kesejukan dengan menyampaikan kebenaran yang bersumber dari hukum Islam, bukan dari pemikirannya semata yang sering salah dan menyesatkan. Bencana bertubi-tubi dan meletusnya gunung Semeru harusnya diambil sebagai pelajaran atau hikmah agar kita kembali pada syariat Islam, bukan hukum kesepakatan, jahiliyah yang bisa salah dan tidak sesuai dengan Islam.

Allah sudah memberikan kita, petunjukNya dalam surat Al-Araf ayat 96,”Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” Jika kita ingin berkah dari langit dan bumi serta keluar dari masalah, jalan satu-satunya adalah kita semua harus beriman dan bertaqwa dengan mengikuti semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang dalam Islam. Untuk mewujudkan kehidupan Islami dengan penduduk suatu negeri yang beriman dan bertaqwa, Islam harus diterapkan secara Kaffah. Hanya Sistem khilafah yang akan bisa menerapkan Islam aecara Kaffah, bukan sistem demokrasi. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.