6 Desember 2022

Dimensi.id-Sambil meyruput secangkir kopi yang masih panas, terjadi perbincangan politik yang lagi hangat di bicarakan di sosmed, mulai dari kasus teroris, bisnis PCR, vaksin covid, PPKM level 3 sampai calon presiden 2024, semua dibincangkan mengalir begitu saja tanpa ada batasan topik bahasan dalam pembicaraan politik di warung kopi. Masih saja menggantungkan penyelesaian masalah pada sosok pemimpin, bukan pada sistem yang rusak sebagain biang masalah. Setiap berganti rezim, harapan tinggal harapan menjadi mimpi yang tidak pernah terjadi, karena perubahan setelah terpilihnya pemimpin yang diidamkan tidak sesuai harapan. Terbukti pergantian rezim tidak mampu menyelesaikan masalah negeri ini. Masalah membelit negeri tidak ada ujung pangkalnya dan bahkan terus bertambah parah. Dan itu mereka sadari dalam satu perbincangan politik di warung kopi. Namun, mereka tidak menyadari sumber dari masalah sebenarnya adalah sistem jahiliyah yang lebih memilih untuk menerapkan hukum warisan penjajah, daripada syariat Islam secara kaffah.

Demokrasi biang masalah, namun banyak orang masih melihat sebatas kegagalan rezim dalam menerapkan demokrasi. Padahal, jika kita cerdas akan mampu melihat akar masalah yang membelit negeri ini yaitu demokrasi itu sendiri. Untang luar negeri yang semakin menumpuk menjadi penyebab hilangnya kemandirian dan kedaulatan dibiarkan tanpa ada itikad baik untuk diselesaikan. Riba dihalalkan sebagai pilar ekonomi negara, padahal dosa besar yang bisa menutup pintu berkah dari langit dan bumi. Wacana melegalkan miras dan zina juga terjadi dalam sistem demokrasi, karena hukum kesepakatan lebih dikedepankan meskipun haram daripada syariat Islam. Sebaliknya, kewajiban yang melindungi manusia dari kerusakan dan kehinaan dilarang dengan alasan kebebasan.

Masalahmya bukan pada sosok pemimpin yang akan menjalankan sistem pemerintahan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tapi sistemnya yang harus diganti. Seperti halnya mobil yang rusak dan mogok, siapapun yang mengendarai hasilnya sama saja kecuali mobilnya harus diganti atau diperbaiki. Sistem demokrasi ini harus diganti agar negeri ini bisa keluar dari masalah. Percuma, ganti pemimpin dengan berbagai kelebihan yang dimiliki jika sistemnya masih tetap. Bukan perbaikan yang didapat, tapi keadaan yang semakin memburuk karena pemimpin dalam sistem demokrasi selalu meninggalkan masalah untuk generasi penerusnya.

Saatnya rakyat melek politik dan perbincangan politik di warung kopi harus bergeser dari yang hanya berkisar pada pencalonan presiden, bergeser menjadi bagaimana mengganti satu sistem yang rusak dan tidak manusiawi dengan Islam. Tidak lagi berkutat pada pembicaraan tokoh yang akan menggantikan rezim yang dianggap gagal, tapi membicarakan sistem terbaik yang bisa membawa negeri ini keluar dari masalah. Siapapun presiden yang terpilih tidak akan mampu mengantarkan pada kehidupan Islami yang kita idam-idamkan selama sistem demokrasi masih diberlakukan. Saatnya demokrasi harus dibuang dan dicampakkan kemudian diganti dengan sistem Islam, khilafah yang akan menerapkan Islam secara Kaffah dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara.

Percakapan di warung kopi harus digeser dari perbincangan calon presiden, menjadi pergantian sistem. Memang pemilihan presiden, masih lama tahun 2024, tapi perbincangan itu sudah mulai menghangat. Ada beberapa nama calon yang dibicarakan baik yang dibenci maupun yang dicintai serta didukung untuk menjadi calon kuat di bursa pemilihan presiden. Saatnya kita ajak mereka untuk membahas perubahan sistem, dari pada perubahan rezim yang tidak membawa pada perubahan ke arah yang lebih baik. Dulu pemimpin yang dipilih terkesan dekat dengan rakyat dengan blusukan tempat-tempat yang merakyat, ternyata semua hanya jargon dan pencitraan. Untuk apa kesan yang merakyat kalau keberpihakan disetiap kebijakan yang diambil tidak berpihak pada rakyat, tapi konglomerat. Rakyat mulai sadar sudah tertipu dengan kemunafikan dan pencitraan yang tumbuh subur dalam sistem demokrasi. Saatnya umat diajak menemukan solusi terbaik, bukan semu dan menipu yang sering membuat kita kecewa. Janji politik manis tidak bisa terbukti karena pemimpin yang kita anggap ideal masih dalam pemahaman demokrasi yang menganggap politik kotor, sehingga cara kotorpun diambil agar bisa memenangkan kekuasaan yang menjadi tujuan politiknya.

Dimanapun kita berada, sampaikan kebenaran Islam, meskipun di warung kopi. Kita harus mewarnai setiap pembicaraan dengan Islam, bukan dengan pemikiran yang nyleneh dan aneh. Jika ada yang bengkok harus diluruskan dengan Islam. Pembicaraan jangan dibiarkan liar, tapi harus terarah agar menghasilkan pemahaman yang benar. Tugas kita sebagai muslim sejati, apapun profesi kita dan dimanapun kita berada harus menjadi sumber inspiratif yang bisa mencerahkan pemahaman umat dengan Islam. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.