7 Desember 2022
sumber : google.com

Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) sebagai syarat wajib perjalanan hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat. Perubahan biaya tes sendiri juga telah memunculkan presepsi yang beragam di masyarakat, seperti anggapan adanya yang memanfaatkannya. Tes PCR sejatinya diberlakukan sebagai upaya menjaga masyarakat Indonesia dari penularan virus Covid-19. Pada awal pandemi layanan test PCR mencapai jutaan rupiah. Kini, setelah banyak diprotes, harganya turun ke kisaran ratusan ribu rupiah.

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menetapkan batas tarif tertinggi RT-PCR atau PCR test Rp 275.000 untuk wilayah Jawa dan Bali. Sementara untuk luar Jawa-Bali ialah Rp 300.000. Penetapan harga terbaru PCR test tersebut menyusul arahan Presiden Joko Widodo yang sebelumnya meminta adanya penurunan harga PCR test menjadi Rp 300.000, dengan masa berlaku selama 3×24 jam untuk perjalanan pesawat.

Sebagian kalangan menyebut aturan tersebut sudah tepat dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 di pesawat, akan tetapi sebagian lainnya menilai kebijakan yang menyulitkan konsumen dan diskriminatif karena sektor transportasi lainnya hanya menggunakan tes antigen, bahkan ada yang tidak perlu tes.

Aturan wajib PCR bagi penumpang pesawat di wilayah Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali berlaku sejak 24 Oktober 2021. Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Satgas Nomor 21 Tahun 2021, Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 dan Nomor 54 Tahun 2021 dan 4 SE dari Kementerian Perhubungan Nomor 86, 87, 88, dan 89 Tahun 2021.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir mengatakan, hasil pemeriksaan dengan harga tertinggi tersebut dikeluarkan dengan durasi 1×24 jam dari pengambilan sample swab RT-PCR. Memang benar pada faktanya rakyat membutuhkan peran negara untuk kesehatan dan pengobatan, apalagi pada saat wabah seperti ini pelayanan kesehatan semisal tes covid-19  dan perawatan serta jaminan hidup tidak mungkin bisa dipenuhi rakyat secara mandiri.

Pandemi adalah ujian dan pembelajaran agar bangsa ini menjadi lebih kuat dan mendiri. Pemerintah dan mayarakat harus bisa bersatu padu dan saling bergotong-royong. Oleh karena itu, seharusnya negara hadir untuk memberikan pelayanan secara menyuluruh secara gratis. Namun dalam sistem kapitalis saat ini kesehatan dan nyawa manusia menjadi bisnis. Akhir-akhir ada pejabat publik yang terbongkar dalam layanan tes kesehatan PCR.

Jakarta, CNN Indonesia — Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir resmi dilaporkan ke polisi terkait dugaan bisnis tes PCR oleh Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem) ke Polda Metro Jaya, Selasa (16/11).

Dalam Islam, pelayanan kesehatan termasuk kewajiban Negara. Ini sesuai dengan sabda Rasul saw.:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin Negara adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Kebijakan ala kapitalis ini tentu sangat memprihatinkan. Berbeda dengan kebijakan kesehatan pada masa kejayaan terdahulu. Tinta emas peradaban Islam telah menulis tentang pelayanan kesehatan dalam sejarah Khilafah Islam. Hal ini bisa dilihat dari tiga aspek.

Pertama, tentang pembudayaan hidup sehat. Rasulullah Saw. manusia biasa yang diberi wahyu Allah Swt. melalui Jibril As. Sebagai sebaik-baik teladan bagi manusia. Rasulullah pun dikenal sebagai manusia tersehat. Hal ini ditandai dengan tidak banyak riwayat yang menyatakan Rasulullah sering sakit-sakitan. Beliau memberikan contoh kebiasaan sehat sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menekankan kebersihan; makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengkonsumsi madu, susu kambing atau habatussaudah, dan sebagainya.

Kedua, kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang kesehatan. Pendidikan kedokteran yang bebas biaya dan berdasarkan aqidah Islam akan mengeluarkan output yang berkompeten dan jauh dari petaka malpraktek. Berbagai penelitian tentang penyakit dan pengobatannya dibiayai sepenuhnya oleh negara dan dijamin kehalalannya. Berbagai inovasi kesehatan melalui produk-produknya berupa obat atau sarana prasarananya.

Hal ini dikarenakan kemajuan yang dicapai dalam dunia kedokteran adalah semata-mata mengikuti perintah Allah Swt. dalam menjaga urusan rakyat. Salah satu hadits yang terkenal berbunyi, “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR al-Bukhari).

Keberadaan obat untuk berbagai penyakit dan memenuhi segala urusan rakyat akan mendorong umat islam untuk membuat kemajuan ilmu dan teknologi dalam penelitian medis.

Ketiga, tentang penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Kebijakan Khalifah tentang pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, termasuk kualitas dan kuantitas kompetensi para dokter terbaik. Pendidikan kedokteran yang bebas biaya dan berdasarkan aqidah Islam akan mengeluarkan output yang berkompeten dan jauh dari petaka malpraktek.

Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset. Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa. Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.

Semua rumah sakit di dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu. Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi menjadi prioritas pertama dan utama urusan individu masyarakat untuk menjaga kesehatan. Serta ada peran sinergis yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi kedokteran.

 

Wallahu’alam bi ash-shawwab

 

Penulis : Khoeriyah

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.