7 Desember 2022

Dimensi.id-Belajar dari kematian orang-orang yang sudah mendahului kita, ternyata hidup ini hanya sebentar. Kemarin masih bisa bercanda dan berkomentar di sosial media, tiba-tiba ada berita bahwa dia sudah meninggal bahkan tanpa ada firasat apa-apa. Sehat bugar dan sedang melakukan perjalanan tiba-tiba mengalami kecelakaan yang membawa pada kematian. Mobil, dan rumah mewah serta keluarga tercinta yang dimiliki di dunia harus ditinggalkan, yang dibawa hanyalah amalan kebaikan yang dikaitkan dengan Islam yang bisa menolong, disaat kita sadar bahwa sudah berada di alam yang berbeda. Orang terdekat dan sahabat yang selama ini ikut membela dan melindungi kita tidak lagi bisa memberi pertolongan. Benar-benar sendiri, terhimpit bumi dalam liang lahat yang sempit dan semua kemewahan dan ketenaran yang dimiliki tidak lagi berguna dan tidak ada artinya.

Kemewahan dan popularitas yang selama ini jadi tujuan hidup dan dikejar mati-matian tidak lagi berharga. Apa yang kita banggakan tidak lagi punya nilai apa-apa. Penyesalan tidak ada gunanya jika selama hidup tidak menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati. Sibuk dengan kepentingan dunia yang semu dan menipu, hingga kehidupan akhirat, tempat kita kembali untuk selana-lamanya, terlupakan. Mumpung masih ada waktu dan kesempatan untuk bertaubat segeralah berubah dengan mengikuti putunjukNya, jalan lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat bukan jalan sesat yang akan membawa pada seburuk-buruk tempat kembali.

Belajarlah dari kematian yang sudah menimpa orang-orang dekat yang kita kenal. Jangan sampai kita nanti menyesal, saat malaikat maut datang menjemput, tapi bekal untuk menempuh kehidupan akhirat belumlah cukup. Sibuk dengan mengumpulkan nikmat dunia, dengan menghitung – hitungnya dan gila hormat dan jabatan seolah- olah hidup untuk selama-lamanya di dunia padahal tanpa kita sadari hidup kita semkin mendekat pada kematian. Malah kesibukan untuk meraih nikmat dunia sering membuat kita tidak bahagia bahkan melupakan kehidupan akhirat yang sesungguhnya. Kalau kita mau jujur, semua yang sudah kita raih bukan jaminan untuk hidup bahagia. Tidak jarang kita merasa hampa dan tidak puas dengan apa yang sudah dalam genggaman. Kebahagiaan sebenarnya ada pandainya hati untuk menyukuri nikmat Allah yang luar biasa yang kita tidak akan mampu menghitungnya. Semua terlupakan karena hati sudah kufur atas semua nikmat sehingga mendatangkan adzab Allah yang sangat pedih.

Gaes, perhatikan mereka yang sudah mati tidak akan kembali lagi, diantar ketempat peristirahatan terakhirnya. Semua orang terdekat, keluarga dan orang-orang yang selama ini mencintai dan memujanya bersedih dan merasa kehilangan. Tapi tidak lama setelah tubuh kaku yang tidak bernyawa itu disemyamkan, dikubur dan ditimbun dengan tanah, satu per satu dari mereka pergi meninggalkannya. Tidak ada lagi yang tetap tinggal disana untuk menemaninya. Perlahan, seiring bertambahnya waktu, dia mulai dilupakan. Dia sudah berpindah menuju kehidupan yang lain, alam keabadian , dan tidak bisa kembali kepada keluarga dan orang-orang yang dicintai dan mencintainya yang masih hidup di dunia.

Sendiri dan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama hidup di dunia. Sungguh rugi jika selama di dunia lupa diri dengan mengejar nikmat dunia yang semu dan menipu hingga lupa tempat kembali yang sesungguhnya, kampung akhirat. Padahal apa yang dikejar terkadang tidak membawa pada kebahagian. Resah, gelisah, ketakutan akan kehilangan sesuatu yang sudah ada dalam genggaman. Lupa menyukuri atas nikmat yang sudah melingkupinya sehingga kebahagian menjauh karena hati yang tidak pandai bersyukur atas semua nikmat yang sudah dirasakan. Selalu merasa kurang dan bermimpi mendapatkan yang lebih, padahal jika hati pandai bersyukur, kebahagiaan akan datang dan terus bertambah dalam hidup . Celakalah jika nikmat dunia melupakan akhirat yang harusnya disiapkan agar bisa meraih surgaNya.

Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, siap, mau ataupun tidak. Meskipun sedang dipuncak kesuksesan di dunia dengan harta melimpah dan juga popularitas lagi di puncak, kematian bisa datang tiba-tiba dan tidak pandang bulu, mendekati setiap jiwa yang jatah waktunya untuk hidup di dunia sudah berakhir. Meskipun kecelakaan dalam satu mobil, ada yang ajalnya datang, ada pula yang belum. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, kitab yang menuliskan seluruh catatan takdir dan kejadian di alam semesta. Jadi jangan merasa hidup masih lama karena masih muda, sehat dan kuat, karena malaikat maut bisa tiba-tiba datang menjemput tanpa bisa kita menundanya meskipun hanya sejenak agar kita bisa bertaubat. Penyesalan penghuni neraka yang tidak ada gunanya, karena waktu tidak bisa diputar kembali untuk kembali hidup di dunia agar bisa menebus semua kesalahannya.

Mumpung kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan. Tidak ada jaminan besok kita bisa hidup. Segera perbaiki amalanmu untuk bekal akhiratmu, seolah-olah besok kamu akan mati. Bersegeralah berbuat banyak kebaikan dan saling menasehati pada jalan kebenaran Islam dengan penuh kesabaran agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Ingatlah mati agar kamu tidak lupa diri. Ketahuilah hidup ini hanya sebentar dan pasti jiwa yang hidup akan menuju pada kematian. Hanya soal waktu saja, pasti kematian akan dirasakan oleh semua orang. Sesuatu yang pasti harus disiapkan dengan sepenuh hati. Jangan main-main dengan waktu dengan menyia-nyiakannya hanya untuk hal mubah, tapi enggan berbuat kebaikan dan berat untuk menyampaikan kebenaran Islam karena merasa waktu masih panjang, padahal tidak kerena waktu sudah pasti berjalan mendekati ajal seseorang. Sungguh beruntung saat ajal datang kita sedang melakukan kebaikan yang dikaitkan dengan Islam. Sedang berbuat baik karena Allah dalam ketaqwaan, sungguh merugi saat yang kita lakukan hal yang sia-sia, dan celaka bagi mereka yang berbuat maksiat, melanggar aturan Allah. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.