7 Desember 2022

Oleh Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga

Peringatan Hari Santri Nasional, yang digelar pada tanggal 22 Oktober kemarin, tampaknya menjadi momentum besar bagi para santri di negeri ini. Pasalnya, mereka bukan hanya sekadar dipandang sebagai pembelajar agama, tetapi juga sebagai salah satu pemilik keterampilan yang akan berkontribusi memajukan bangsa.

Dilansir oleh SUARAMERDEKA.com, (22/10/2021), pada peringatan Hari Santri Nasional yang digelar secara virtual dan fisik di Istana Negara Jakarta, Presiden Jokowi berharap ekonomi syariah terus dikembangkan, khususnya di kalangan para santri dan lulusan pesantren. Sehingga dengannya akan terlahir sosok-sosok wirausaha yang akan menjadi penggerak perekonomian yang inklusif. Lebih lanjut, Jokowi pun menyebutkan bahwa ekonomi Islam di negeri ini mengalami kenaikan peringkat. Berdasarkan data The States of Global Islamic Economy Indicator Report, pada tahun 2020 lalu, ekonomi syariah Indonesia menduduki peringkat ke-4.

Senada dengan Jokowi, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mengatakan bahwa santri memiliki peran penting bagi perekonomian desa. Karena, merupakan salah satu penggerak perekonomian desa. Itulah sebabnya, pesantren dan desa tidak dapat dilepaskan. Keduanya saling bersinergi. (inews.id, 22/10/2021)

Tanggal 22 Oktober memang memiliki keistimewaan tersendiri bagi para santri di negeri ini. Bagaimana tidak, pada tanggal tersebut, seruan resolusi jihad kembali dikobarkan oleh para santri dan ulama di seluruh sudut daerah di tanah air, untuk melawan penjajah dan mempertahankan keutuhan Indonesia. Diketahui, waktu itu berselang 2 bulan dari proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda datang kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan melancarkan agresi militer ll di Nusantara. Untuk melawan serangan ini, resolusi jihad diserukan para ulama dan santri. Sehingga akhirnya, Alhamdulillah Indonesia hingga kini berada di pangkuan kita semua.

Berkaca dari fakta ini, kita bisa melihat bahwa pesantren memiliki peranan penting untuk kita semua, khususnya bagi kemerdekaan Indonesia. Karena, dari pesantrenlah lahir para aktor pelaku perubahan sesuai tuntunan syariat. Tersebab itulah, merupakan sebuah ironi apabila pesantren dan santri saat ini diorientasikan sebagai penggerak ekonomi semata dengan program kewirausahaan.

Sungguh, menjadikan santri sebagai salah satu tujuan untuk mendongkrak perekonomian merupakan sesuatu yang tidak tepat. Karena akan berdampak hilangnya potensi santri sendiri yakni sebagai pelopor kebangkitan. Semestinya dari kalangan santri dan ulama diharapkan lahir gelombang perubahan untuk menentang segala bentuk penjajahan berdasarkan tuntunan Islam. Bukan penggerak perekonomian semata.

Jika memang pemerintah ingin mendongkrak dan memajukan perekonomian negara, alangkah eloknya apabila pemerintah adalah pihak pertama yang wajib lebih fokus lagi memikirkan cara agar perekonomian negeri ini mengalami perbaikan. Salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi rakyat serta menerapkan sistem perekonomian sesuai syariat, agar tercapai maslahat.

Sejatinya, menggerakkan roda perekonomian negara dan menciptakan lapangan pekerjaan merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah. Karena tugas pemerintah adalah mengurusi seluruh urusan rakyat. Baik itu yang berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, maupun keamanan. Namun fakta hari ini tidak demikian. Penerapan sistem kapitalisme-sekuler telah menjadikan peran pemerintah bergeser bahkan nyaris hilang dari fungsi yang sebenarnya yakni mengurusi rakyat. Dalam pandangan sistem kapitalisme-sekuler materi demikian agung bahkan dianggap segala-galanya. Itulah sebabnya, tak heran jika dalam sistem ini pesantren dan santri tak ubahnya seperti mesin ekonomi. Hanya dipandang sebagai penggerak perekonomian.

Jika kita telusuri, niatan pemerintah menjadikan santri sebagai penggerak perekonomian, adalah bukti nyata bahwa penguasa dalam sistem kapitalisme-sekuler tidak pernah mampu menyelesaikan masalah perekonomian di negeri ini. Walaupun rezim berkali-kali mengalami pergantian, pengangguran dan keterpurukan ekonomi tetap menjadi persoalan lawas yang tak kunjung tuntas.

Tidak demikian dalam Islam. Sebagai agama sempurna, Islam lahir ke dunia ini dengan seperangkat peraturan untuk mengatasi segala problematika kehidupan. Dalam Islam, pesantren dan santri demikian dimuliakan. Pesantren dan santri memiliki kedudukan tinggi. Pesantren merupakan tempat menimba ilmu (agama) bagi kaum muslimin. Yang darinya lahirlah para santri dan ulama yang merupakan tonggak kebangkitan bangsa sekaligus benteng pertahanan dari segala macam penjajahan. Melalui para santri dan ulama pula amar ma’ruf nahi mungkar dapat ditegakkan. Tersebab itulah, Negara Islam (khilafah) tidak akan menyuruh santri untuk berdikari dan menjadi mesin pendongkrak ekonomi.

Dalam Islam, menggerakkan roda perekonomian dan menciptakan lapangan pekerjaan merupakan kewajiban dan tanggung jawab penguasa. Hal ini karena penguasa Islam menyadari betul bahwa tugasnya adalah meriayah (mengurusi) urusan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:

” Imam (pemimpin) adalah pengatur rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk mengatasi masalah perekonomian, maka penguasa Islam (khalifah) dan negara Islam (khilafah) akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar setiap laki-laki dapat mendapatkan pekerjaan. Negara khilafah juga mewajibkan setiap lelaki baligh, berakal dan mampu untuk bekerja. Karena dengan bekerja ia akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Negara khilafah juga akan menetapkan sistem kepemilikan menjadi 3 bagian, yakni: kepemilikan pribadi, umum, dan negara. Setiap kepemilikan tersebut diatur dan ditetapkan oleh syariat sehingga bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan kepemilikan ini bisa dengan cara membelanjakan maupun mengembangkan kepemilikan dan wajib mengikuti hak yang ada pada kepemilikan tersebut

Selain itu negara khilafah pun akan menerapkan sistem ekonomi berbasis syariat Islam secara menyeluruh dengan Al-Qur’an dan hadis sebagai rujukannya. Hal ini karena sistem ekonomi Islam dibangun atas akidah Islam yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama Islam. Inilah yang menjadikan sistem ekonomi Islam tangguh dan mampu berdiri dalam segala kondisi.

Fakta membuktikan, kesejahteraan dalam sistem Islam bukanlah kaleng-kaleng. Sejarah mencatat, selama 13 abad lamanya Islam telah menorehkan tinta emas dalam kesejahteraan kehidupan manusia. Di antara keagungan peradaban Islam adalah bagaimana perhatiannya kepada seluruh masyarakat dalam memberikan jaminan kehidupan terbaik bagi mereka. Uniknya kesejahteraan ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Baik muslim, maupun nonmuslim.

Demikianlah penjelasan tentang betapa sempurnanya Islam dalam mengatasi seluruh masalah kehidupan. Dari sini, tidak dapat diragukan lagi bahwa hanya sistem ekonomi Islamlah satu-satunya yang mampu menyejahterakan masyarakat. Karenanya, sudah menjadi keharusan bagi kita semuanya untuk kembali kepada Islam dan menerapkannya secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Serta mencampakkan sistem kapitalisme-sekuler biang segala kerusakan. Niscaya, kesejahteraan akan dapat kita rasakan, kedudukan pesantren dan para santri sebagai pelopor kebangkitan pun akan senantiasa terjaga.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.