6 Desember 2022

AUKUS-KOMPLIKASI KONFLIK KEPENTINGAN NEGARA BESAR,

 BAGAIMANA MUSLIM INDONESIA BERSIKAP?Pict 2

 

Bagi sebuah negara super power, sejengkal saja bagian dunia tak akan dibiarkan tanpa ada hegemoni darinya. Begitupula sepak terjang Amerika Serikat (AS) hari ini. Pasca penarikan pasukannya di Afghanistan akhir Agustus lalu, AS telah mengarahkan perhatian -bahkan jauh sebelum itu- ke kawasan Asia Pasifik. Kunjungan Wapres AS, Kamala Harris dengan pandangan spesialnya atas kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik, menjadi bukti kuat bahwa AS menginginkan keterlibatan penuh dirinya di kawasan ini. Terlebih ketika Cina semakin berani menampakkan pengaruh di Laut Cina Selatan (LCS) bahkan Asia Pasifik.

 

Walhasil, lahirlah AUKUS. Pakta pertahanan tiga negara; Australia, United Kingdom dan United States guna memblokade gerak Cina di kawasan. Kemitraan baru tersebut diumumkan dalam konferensi pers virtual bersama antara Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan mitranya dari Australia Scott Morrison pada Rabu, 15 September. Dalam pernyataannya, mereka  mengatakan “Ini adalah kesempatan bersejarah bagi ketiga negara, dengan sekutu yang berpikiran sama. dan mitra, untuk melindungi nilai-nilai bersama dan mempromosikan keamanan serta kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik,”.

 

Komplikasi Konflik Munculnya AUKUS

Dalam aliansi kemiliteran ini, untuk pertama kali selama 50 tahun, AS membagikan teknologi kapal selamnya dengan Australia. Bahkan Australia akan dijadikan negara ketujuh di dunia yang mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir, setelah AS, Inggris, Prancis, Cina, India, dan Rusia. Meningkatnya eskalasi sikap AS dalam menghentikan pengaruh ekonomi-politik Cina di kawasan, menunjukkan bahwa AS bukan tengah bermaksud menghadang Cina. Jauh melampaui itu sesungguhnya AS menegaskan bahwa dia menginginkan berada di kawasan Indo-Pasifik selama-lamanya tanpa ada satu pun negara pesaing seperti halnya Cina.

 

Tak ayal sinyal ketegangan politik yang semakin memanas tersebut dilempar balik dengan kritik keras Cina. Cina mengutuk perjanjian itu sebagai “sangat tidak bertanggung jawab”. Juru bicara kementerian luar negeri Zhao Lijian mengatakan itu “sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional serta mengintensifkan perlombaan senjata”. Kedutaan China di Washington menuduh negara-negara tersebut memiliki “mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis”.

 

Sebagai raksasa regional yang sedang bertumbuh, Cina semakin masif menampakkan ekspansionismenya di kawasan. Baik melalui kerjasama perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur hingga pamer kekuatan militer di LCS. Berbicara kepada BBC, Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan Cina “memulai salah satu pengeluaran militer terbesar dalam sejarah”. “Ini meningkatkan angkatan laut [dan] udaranya pada tingkat yang sangat besar. Jelas itu terlibat di beberapa daerah yang disengketakan,” katanya. Berkenaan dengan sikap Cina ke Australia, Barat juga mengkritik sanksi perdagangan Cina terhadap negara-negara seperti Australia. Padahal sebelumnya, hubungan Cina-Australia berjalan baik dengan Cina sebagai mitra dagang terbesarnya.

 

Posisi strategis Australia ditambah adanya ketegangan dengan Cina menjadi salah satu alasan mengapa Australia dilibatkan dalam AUKUS. Tak hanya berhenti disitu, AUKUS juga menciptakan ketegangan lain dengan Prancis setelah Australia merobek kesepakatan membangun 12 kapal selam Collins bertenaga diesel Prancis seharga US$66 miliar. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian kepada radio France Info menyatakan “Ini benar-benar menusuk dari belakang”. “Kami telah menjalin hubungan saling percaya dengan Australia, kepercayaan ini telah dikhianati,” kata Le Drian.

 

Bagi Prancis, kontrak kapal selam dengan Australia yang dibuat sejak 2016 lalu menggambarkan kesepakatan abad ini dan awal dari pernikahan 50 tahun. Itu dimaksudkan untuk melambangkan aliansi Australia-Prancis yang lebih luas di Indo-Pasifik dan akan meluas ke bidang intelijen senjata serta komunikasi. Kemitraan Australia juga merupakan inti dari strategi Indo-Pasifik Prancis 2018. Hal ini menandakan Cita-Cita Lama Bersemi Kembali (CLBK) dari sisi Prancis.

 

Gagasan CLBK Prancis juga tampak pada beberapa sikap berani Prancis menentang pengaruh Amerika. Di daratan Eropa -pasca Brexit Inggris-, Prancis memimpin Uni Eropa dan mendorong pembentukan kekuatan militer Eropa yang terpisah dari payung Amerika “NATO”. Prancis juga meningkatkan keberaniannya melawan pengaruh Amerika di Afrika, yang kemudian muncul dalam kudeta Guinea dan sebelumnya dalam aktivitas militer Prancis di negara-negara Sahel Afrika, Tentu saja hal ini menciptakan kebencian Amerika melawan Prancis dengan pembentukan AUKUS yang sama sekali mengisolir Prancis.

 

Komplikasi ketegangan AUKUS dengan Prancis tak hanya mengena pada AS, namun juga Inggris. Setelah negosiasi perdagangan Brexit Inggris dengan negara-negara Uni Eropa, tampak dipermukaan bahwa hubungan Inggris-Prancis telah memburuk secara signifikan, dan tak satu pun dari konflik kedua negara menunjukkan tanda-tanda berakhir. Sengketa Irlandia Utara dan Pulau Jersey sebelumnya juga menambah daftar isu yang memperparah hubungan Inggris-Prancis.

 

Sebagai negara besar di eranya, Inggris sendiri akan lebih bebas bergerak mewujudkan mimpinya setelah ‘bercerai’ dari Uni Eropa. Meski Inggris menyadari tidak mungkin mengungguli AS untuk saat ini. Dubes Inggris di Indonesia, Jenkins menyatakan “Kami percaya bahwa meninggalkan Uni Eropa merupakan peluang untuk menunjukkan apa arti dari visi kami yakni ‘Global Britain’,” Jumat (31/1). Jenkins menjelaskan bahwa Global Britain juga berarti Inggris menjadi lebih ambisius untuk memperluas perdagangan global mereka, terutama dalam menggarap pasar baru di Asia. Itulah mengapa Inggris melihat Indo-Pasifik sebagai kawasan masa depan yang dapat memperkuat tak hanya aspek perdagangan namun juga perekonomiannya. Untuk merealisir hal tersebut, Inggris akan menempatkan kapal perangnya disetiap sisi kapal dagangnya. Sebagaimana pernyataan Laksamana Tony Radakin. Oleh karenanya, sebagai oportunis sejati, Inggris tidak akan menyia-nyiakan peluang mendapatkan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik sekalipun berada didalam gerbong AS.

 

Faktor Pendorong Konflik Antar Negara

Merujuk pada kitab Mafahim Siyasi disebutkan bahwa konflik  internasional  sejak  awal sejarah  hingga Hari Kiamat nanti tidak akan keluar dari dua motif. Pertama, cinta kepemimpinan dan kebanggaan. Kedua, dorongan dibalik manfaat-manfaat material. Cinta  kepemimpinan (hubb  alsiyadah) bisa berupa cinta kepemimpinan terhadap umat dan bangsa seperti halnya Nazisme  Jerman dan Fasisme Italia. Bisa jadi berupa cinta kepemimpinan terhadap ideologi dan penyebaran ideologi sebagaimana halnya Daulah Islam selama hampir 1300  tahun. Demikian  pula halnya negara komunis selama 30 tahun sebelum keruntuhannya pada awal tahun 90an  abad yang lalu,setelah 70 tahun sejak kelahirannya.

Adapun motif untuk membatasi pertumbuhan kekuatan negara lain, seperti halnya yang terjadi  pada berbagai negara melawan Napoleon, Daulah  Islam, atau  Nazi  Jerman,  termasuk dalam  motif  cinta  kepemimpinan, sebab  hal  itu  akan  mencegah kepemimpinan pihak lain. Dengan hancurnya Daulah Islam dan Uni Soviet, motif yang mendominasi  dunia  secara  keseluruhan  adalah nafsu dibalik keuntungan-keuntungan material. Hal  ini akan terus demikian hingga  kembalinya Daulah Islam sebagai negara adidaya yang akan mempengaruhi persaingan internasional dan pada saat yang sama akan mengembalikan motif  cinta  kepemimpinan  dan penyebaran  ideologi.

 

Motif paling berbahaya dalam persaingan internasional adalah motif penjajahan (imperialisme)  dalam segala bentuknya. Sebab,penjajahan itulah yang menyebabkan meletusnya perang-perang kecil dan juga dua perang dunia. Motif  itu  pula  yang  tak  henti-hentinya  menyebabkan berbagai keresahan dan krisis dunia. Persaingan, perselisihan, dan  konflik yang ada  saat  ini, antara AS, Inggris, Perancis dan Cina, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi tak lain karena penjajahan dan karena dominasi dengan motif meraih manfaat material dan  sumber-sumber daya  alam.

 

Adapun pakta-pakta (perjanjian), ia  merupakan perkara yang sudah lama adanya. Pakta-pakta itu dilakukan oleh berbagai negara untuk memperkuat dirinya di  hadapan  negara lain atau untuk mencegah dominasi satu negara atas yang lain agar tidak merusak keseimbangan diantara mereka. Sebagaimana AUKUS yang dibentuk untuk melawan kekuatan Cina dan Prancis. Inilah jenis pakta yang dianggap salah satu alat konflik internasional. Adapun pakta-pakta atau perjanjian-perjanjian yang dilakukan negara-negara adidaya dengan negara-negara kecil,atau yang dilakukan antar negara kecil. Pakta-pakta ini tidaklah dianggap sebagai alat konflik internasional secara langsung, melainkan hanya dianggap sebagai sarana penjajahan,atau sarana untuk memperkuat negara adidaya yang merekayasa perwujudannya.

 

Khiththah Siyasi Negara Besar

Khiththah siyasi merupakan politik umum yang dirancang guna mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut oleh penyebaran ideologi atau oleh thariqah penyebaran ideologi. Strategi politik sebuah negara cenderung bersifat tetap dalam jangka waktu lama dan tidak mudah berubah dibanding dengan uslub politik. Sebab, uslub politik adalah politik  khusus mengenai salah satu bagian  langkah  yang mendukung  perwujudan  atau  pengokohan  khithah  politik. Dengan demikian kita dapat menelaah dari kecenderungan tersebut seperti apa khiththah dan uslub politik Barat atas negara atau kawasan lain.

 

Atas dasar itu, kaum  Muslim  wajib  mengetahui  dengan  penuh keyakinan, bahwa Barat tidak akan mengubah fikrah dan thariqah politiknya, tapi akan mengubah khithah dan uslub politiknya untuk merancang khithah politik lain atau uslub politik baru, guna dapat menyebarkan  ideologinya. Jika  uslub  politiknya  dapat dihancurkan, akan hancur khithah politiknya dan akan gagal pula rencana-rencana Barat yang telah disusun atas dasar  khithah dan uslub  politiknya  tersebut. Maka  dari  itu,  perjuangan  politik  (al-kifah  al-siyasi) diarahkan  untuk  khithah  dan uslub  politik  (dengan membongkar serta melawannya), dan  pada  saat  yang  sama  diarahkan  untuk memerangi  fikrah  dan  thariqah  politiknya.  Oleh karenanya, sudah menjadi  kepastian  bagi  kaum  Muslim untuk  mengetahui  khithah politik  yang  telah  dirancang  bagi politik  tiap  negara  dan mengkaji uslub-uslub  politiknya  dengan  seksama.

 

Dari mengikuti beberapa peristiwa politik skala global yang terjadi sebelumnya, kita dapat memahami bagaimana khiththah politik negara besar berdasar fikrah dan thariqah yang dimiliki. Dalam isu AUKUS disertai beragam trik dan intrik didalamnya, dapat dipahami sebagai berikut:

  1. Khiththah politik AS atas Indo-Pasifik. Sebagai negara ula, AS akan menggunakan berbagai macam cara untuk hadir di kawasan, mengakuisisi dan membangun hegemoninya.
  2. Khiththah politik AS atas Cina pasca runtuhnya Uni-Sovyet mengalami perubahan. Dengan keberadaan Cina hari ini yang tidak memiliki ambisi mengemban ideologi sosialis kecuali secara regional dan bertumbuh dalam hal ekonomi di level global, menuntut AS untuk membelenggu laju Cina dibalik tembok besar nya saja. AS tidak memandang Cina sebagai musuh ideologinya, melainkan pesaing ekonomi dan hehemoni di kawasan.
  3. Khiththah politik AS atas Uni Eropa. Dengan potensi Eropa, AS berupaya menancapkan hehemoninya di Eropa dan membelenggu Eropa agar tidak kembali pada mimpi dimasa lampau dengan kepemimpinan Prancis. Melalui strategi menempatkan NATO -meski sudah tidak relevan lagi eksistensinya pasca runtuhnya Uni-Soviet-, di Eropa dan, memasukkan negara-negara Eropa Timur kedalam keanggotaan Uni Eropa sebagai kepanjangan tangan AS.
  4. Khiththah politik Prancis. Memimpin Eropa dan mengembalikan impian masa lalunya. Sehingga Prancis akan berupaya melepaskan hegemoni AS di Eropa. Salah satunya dengan membentuk pakta keamanan Eropa berlepas dari NATO. Prancis juga secara terbuka bersebrangan dengan AS dan menghadang manuver AS.
  5. Berbeda dengan Prancis, Inggris lebih memilih bertahan sebagai oportunis tulen demi mewujudkan mimpi masa lalunya. Dengan demikian dia bisa bekerjasama dengan AS meski berambisi menyaingi AS.

 

Posisi Strategis Indonesia dan Sikap yang Harus Dimiliki

Sebagai salah satu negeri muslim terbesar di kawasan, sekaligus negara demokrasi ketiga serta memiliki sumber daya melimpah dengan posisi dipersilangan dua samudra dan dua benua, Indonesia tentu akan dilirik oleh negara-negara besar yang berhasrat menguasai kawasan Indo-Pasifik. Apalagi selama ini, Indonesia sudah sering menjadi endorser cuma-cuma ‘produk’ negara besar. Seperti demokrasi, moderasi, kesepakatan ASEAN dll. Bahkan Indonesia sendiri telah masuk dalam banyak jebakan politik dan ekonomi negara-negara besar tersebut.

 

Bertahan pada sikap netral bukanlah solusi. Apalagi menjadi juru damai ditengah konflik raksasa dunia hanya akan semakin menjatuhkan posisi Indonesia sebagai korban dan obyek penjajahan. Realitas ini telah terbukti di sepanjang pertarungan negara-negara besar, mulai dari Perang Dunia (PD) I, PD II hingga Perang Dingin. Umat Islam senantiasa menjadi korban manakala tidak memiliki sikap yang tepat ditengah konflik negara besar.

 

Apabila kita pelajari, seluruh negara-negara yang berkonflik di kawasan, semuanya merupakan negara kapitalis yang memiliki visi. Maka untuk bisa bersikap di depan mereka, Indonesia setidaknya memiliki visi ideologis yang bisa diperhadapkan dengan kapitalisme. Umat Islam Indonesia harus memiliki kesadaran politik. Kesadaran politik tidak  lain  adalah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang khusus. Bagi kita (kaum  Muslim) sudut pandang itu  adalah  Akidah Islam, yaitu sudut  pandang  Laa  ilaha  illa  Allah  Muhammad Rasulullah. Rasulullah  SAW bersabda yang artinya: ﹸAku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata  Laa  ilaha  illa  Allah Muhammad  Rasulullah. Jika mereka  mengucapkannya  berarti  mereka  telah  memelihara darah  dan  harta  mereka  dariku,  kecuali  dengan  alasan  yang benar.”

 

Dengan demikian, umat Islam Indonesia akan mampu mengidentifikasi mana negara lawan mana negara kawan. Mana negara penjajah dan bukan. Bahkan Indonesia bisa menentukan sikap melawan serta membongkar khiththah politik mereka. Dan mewaspadai setiap manuver yang diciptakan maupun mewaspadai peristiwa politik dalam dan luar negeri sebagai pintu masuk penjajahan. Maka, satu-satunya harapan Indonesia hanyalah kembali pada ideologi Islam. Islam sajalah dan satu-satunya yang akan menyelamatkan Indonesia serta terbukti mampu mengantarkan Umat Islam menjadi negara adi kuasa.

 

Sejarah telah mencatat bagaimana Kekhilafahan Islam memimpin dunia secara damai bukan peperangan. Menebar keharmonisan bukan ketakutan. Menunjukkan kewibawaan bukan keangkuhan. Kekhilafahan Islam akan menerapkan ideologi Islam didalam dan mengembannya keluar. Maka, satu-satunya jalan untuk bisa bersikap bahkan bermartabat sebagai negara besar, tak ada lain kecuali dengan mengambil ideologi Islam dan mendirikan institusi politik Khilafah Islam.

Wallahu a’lam bish-showab.

 

Penulis: Yuyun Pamungkasari

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.