7 Desember 2022

Dimensi.id- Namanya Mochamad Wildan al Hafiz, remaja lugu dan kurang bergaul, sukanya di rumah saja. Di sekolah dia dipanggil Wildan, tapi di rumah keluarganya lebih suka memanggilnya Hafiz dengan harapan dia menjadi penghafal al-Qur’an. Dia tidak suka bercanda dan terlihat selalu serius dari wajahnya yang tidak pernah tersenyum apalagi tertawa, sehingga tidak satupun yang mau berteman dengan dia. Terlihat aneh karena sikapnya tidak seperti remaja kebanyakan yang suka bermain-main, ngobrol sana-sini, cekakak cekiki tak jelas apa yang dibahas, tentang hal-hal sampah yang tidak penting. Remaja kebanyakan biasanya tidak suka membaca ataupun berbicara hal yang serius, tapi tidak bagi Wildan, buku adalah teman setia yang selalu menemaninya dalam kesendiriannya.

Memang sangat berbeda dengan remaja kebanyakan, hari-hari Wildan sering dihabiskan untuk membaca. Dia betah belajar berjam-jam di kamarnya sendirian. Nampak banyak buku yang disusun rapi di rak yang hampir semuanya sudah dia baca. Pantas, dia selalu menjadi juara di kelasnya, bahkan sudah beberapa tahun ini dia menyabet juara umum di sekolahnya. Meskipun, pendiam dan tidak banyak bicara, hampir semua guru di sekolah suka dengan Wildan, si-kutu buku. Setiap kata yang terucap dari mulutnya adalah bukan sesuatu yang sia-sia, tetapi sesuatu yang bermakna yang membuat gurunya bangga.

Tidak hanya membaca Wildan juga suka menulis. Dia juga rutin mengirim tulisannya di media remaja di sosmed. Meskipun tidak dapat imbalan materi, dia terus menulis karena menulis membuat hatinya tenang meskipun dia tidak punya teman. Dan bahkan banyak yang mencibirnya sebagai remaja kuper. Dia tidak suka banyak ngomong, tapi semua isi hatinya dan pemikirannya lebih suka diungkapkan lewat tulisan. Dia berfikir bahwa menulis adalah cara paling tepat untuk mengungkapkan semua pemikiran yang ada dalam kepalanya dan apa yang dirasakan dalam hatinya tanpa harus takut disanggah ataupun membuat orang marah dan tersinggung atas apa yang disampaikan. Dia terus menulis karena itulah cara dia untuk menghilangkan kebosanan dalam kesendiriannya di kamar, tempat yang paling disukainya.

Pada akhirnya dia dipertemukan dengan sahabat dalam satu komunitas “Teman Surga” yang mengajak untuk mengkaji Islam. Dia merasa nyaman dan senang saat bersama dengan mereka. Dia senang dengan pembahasan serius tentang Islam. Pemahamannya mulai tercerahkan atas satu kewajiban dakwah, tidak cukup hanya sholih tapi juga harus muslikh. Dia mulai membuka diri untuk memiliki teman untuk diajak mengatur hidup dengan Islam. Banyak pelajaran yang didapat dari teman-teman barunya yang mengajak untuk berislam kaffah. Dia tidak peduli dengan tudingan radikal dan radikul tentang komunitas remaja, “Teman Surga” yang sekarang dia bergabung dengannya. Yang dia Komunitas “Teman Surga” adalah kumpulan remaja cerdas yang rela mengatur hidupnya dengan Islam dan menyeru untuk berislam kaffah.

Setiap pengajian dia ikuti dengan penuh perhatian. Pemahamannya terpuaskan dan hatinya merasa tentram dengan jawaban yang selama ini dia pertanyakan tentang hakekat hidup. Bersama teman-teman surga dia mulai tercerahkan untuk berdakwah dan mulai membuka diri untuk berkomunikasi dengan teman yang lain. Ternyata, dia merasakan nikmatnya hidup yang lebih berwarna dengan mengajak orang lain untuk mengenal Islam dan mau mengatur hidup mereka dengan Islam secara kaffah.

Dia baru menyadari bahwa dunia adalah tempat persinggahan baginya untuk mempersiapkan bekal nanti di akhirat. Dia senang bersama dengan teman-teman surga yang mengajak berbuat kebaikan dan menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Tidak seperti teman-teman pada umumnya yang hanya mengajak pada kesia-sian, bermain game online atau hanya sekedar ngobrol sesuatu yang tidak ada faedahnya

Dia bersyukur sudah dipertemukan dengan mereka yang membuat hidupnya lebih indah dan berwarna. Warna yang indah telah menghiasi hidupnya. Setidaknya, perasaan terkucilkan dari kehidupan mulai menghilang berganti dengan semangat dakwah untuk menginspirasi teman yang lain agar mau berislam kaffah. Inilah jalan terindah, meskipun banyak tantangan yang tidak mudah, tapi kebahagiaan hakiki terasa dalam hidup.

Disaat banyak orang sibuk memikir dunianya dengan mengumpulkan banyak harta dan kesuksesan di dunia, sungguh bahagia bisa menempuh jalan yang tidak biasa, jalan para nabi dan rosul. Itulah yang dirasakan Wildan, hidupnya lebih berwarna sejak bertemu dengan teman dalam satu komunitas remaja “Teman Surga”, yang mengajak dia untuk menyeru pada kebenaran Islam. Nikmat tertinggi saat Iman dan Islam bisa terjaga di dalam dada, sehingga setiap langkah, detak jantung dan hela nafas tidak ada yang sia-sia. Semua bernilai ibadah yang akan mengantarkan kita ke surgaNya, sebaik-baik tempat kembali. Berbagi itu indah dari pada sendiri. Saling menguatkan dan menasehati untuk kebenaran hakiki dan dengan kesabaran sungguh menyenangkan dari pada sikap cuek dan tidak perduli satu sama lain. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.