6 Desember 2022

Dimensi.id-Menulis itu mudah, selama ada kemauan dan usaha maksimal. Modal dasar mungkin sudah kita kuasai sejak kita bisa baca tulis ketika masih Sekolah Dasar, kemudian tinggal membiasakan diri dalam keseharian dalam menyampaikan buah buah pikiran dan isi perasaan kita dengan cara ditulis. Namun, banyak orang menganggap menulis adalah bakat, sehingga mereka enggan mencoba karena merasa tidak punya bakat. Mereka juga berfikir tidak ada ide sehingga tidak bisa terus menulis. Berani mencoba untuk menulis memang tidak mudah, tapi lebih sulit lagi, mempertahankan produktifitas dalam menulis. Ada 5 tips agar menjadi penulis produktif.

Pertama, luruskan niat menulis untuk mencari ridho Allah, bukan nilai materi. Untuk pemula, tidak usah berfikir bayaran yang akan diterima, tapi menyampaikan ide kita yang dikaitkan dengan Islam imbalannya lebih besar dari nilai materi yang kita harapkan. Meskipun, tidak dapat bayaran harus terus menulis, karena pahala jariyah dari orang yang sudah tercerahkan setelah membaca tulisan kita, nilainya jauh lebih besar. Teruslah menulis bukan untuk mengharapkan pujian atau jempol karena semua itu bisa hilang sehingga semangat menulispun bisa padam. Berbeda jika kita menulis untuk beribadah sebagai cara kita untuk menjalankan kewajiban dakwah. Goresan kata-kata yang tertuang dalam tulisan kita tidak akan pernah sia-sia. Tetaplah menulis dan share tulisan kita agar lebih banyak pahala jariyah yang kita dapatkan dari orang-orang yang tercerahkan setelah membaca tulisan kita.

Kedua, luruskan mindset bahwa kita bisa menjadi penulis dengan membiasakan diri mengungkapkan apa yang kita pikirkan dan rasakan lewat tulisan karena menulis bukanlah bakat, tapi kebiasaan. Jangan takut mencoba untuk menuangkan ide-ide kita dengan kemampuan maksimal yang kita punya dalam merangkai kata-kata. Tidak usah takut salah atau kurang bagus, karena untuk menjadi penulis perlu proses, dan salah itu wajar dalam mengawali sesuatu. Dan memang awalnya harus dipaksa agar kita terbiasa dan akhirnya suka. Jika sudah suka, tidaklah sulit menjadi penulis yang produktif.

Ketiga, Perhatikan ide yang berseliweran disekitar kita. Siapa bilang tidak ada ide untuk ditulis. Mungkin kita kurang tanggap saat ada ide datang, dan tidak segera diikat dengan menulisnya. Tidak mesti satu ide bisa langsung diselesaikan menjadi satu tulisan utuh namun perlu tahapan dan kesabaran. Jikalau ide hanya datang dalam satu kata atau kalimat, tulis saja dan simpan dalam satu “bank ide” yang suatu waktu bisa dibuka dan dilanjutkan saat ada waktu luang. Buka ide-ide yang sudah tersimpan satu persatu, kemudian, coba kembangkan ide yang sudah ada menjadi satu kalimat, paragraf dan bahkan jika mungkin buatlah satu tulisan utuh, baru kemudian diedit. Biarkan tanganmu menuliskan apa saja yang ada didalam kepalamu sampai tidak ada lagi yang bisa kita alirkan lagi. Kamupun bisa pindah ke ide yang lain jika dirasa sudah tidak ada lagi hal yang bisa ditambahkan. Saat kau sudah bisa membuat dua halaman tulisan baru kau edit, mungkin ada kata atau kalimat yang kurang tepat atau menarik dan perlu untuk dirubah. Atau bahkan bisa dihilangkan dan ditambahkan kalimat yang lain. Baca berkali-kali hingga kamu merasa puas dengan tulisan yang kau buat. Paling tidak itulah hasil tulisan terbaik yang bisa kau buat saat itu. Setelah itu, beranikan diri untuk memposting tulisanmu dengan menambahi illustrasi gambar yang sekiranya mendukung isi tulisanmu.

Keempat, semangat terus menulis dengan memahami manfaatnya. Banyak manfaat menulis yang jika kita ketahui akan menjadi daya dorong bagi kita untuk terus menulis. Ketahuilah menulis adalah cara terbaik untuk mengungkapkan gagasan kita dan perasaan sampai tuntas tanpa harus terganggu oleh pendapat yang tidak sepakat dengan apa yang kita sampaikan. Menulis juga bisa digunakan sebagai cara aman untuk jurhat dengan mengungkapkan segala permasalahan dan kegundahan hati. Dengan tersalurkan semua beban perasaan, membuat hidup jadi lebih ringan dan mudah sehingga pada akhirnya mudah bagi kita untuk menemukan solusi dan juga cara tepat dalam menyikapi setiap masalah. Saat kita dalam kesendirian dan juga kebosanan kita bisa menggunakan untuk menulis. Menunggu itu membosankan, tapi dengan menulis sungguh menyenangkan karena waktu berjalan tidak ada yang sia-sia tapi bermanfaat bagi kita untuk menyelesaikan satu tulisan yang sempat tertunda karena kesibukan. Jadi tidak ada waktu yang sia-sia dengan menulis. Lebih dari itu, tulisan kita yang inspiratif bisa menjadi tabungan amal jariyah yang bisa menjadi bekal kita nanti saat harus kembali pada Allah SWT. Jadi tidak ada alasan untuk berhenti menulis, kerena apa yang kita lakukan bisa dilakukan disela-sela kesibukan kita. Pasti ada waktu luang dari 24 jam sehari untuk menulis.

Kelima, bergabung dengan satu komunitas menulis akan membuat kita terpacu untuk menulis. Sebagai contoh, tergabung dalam “Komunitas Garis Bawah”, kita bisa saling menyemangati untuk menulis. Tulisan sebagai media dakwah agar bisa menginspirasi banyak orang. Kitapun bisa mendapatkan masukan dan saran agar tulisan kita menjadi lebih baik dan layak untuk dibaca banyak orang. Pastinya, tergabung dalam komunitas menulis ghiroh untuk menulis akan terus menyala, meskipun seiring berjalannya waktu dengan berbagai permasalahan yang melingkupi hidup kita, semangat untuk menulis bisa jadi mengalami penurunan. Namun, memiliki teman sesama penulis bisa menjadi api semangat agar kita bisa Istiqomah dalam berkarya. Semoga kelima tips diatas bisa bermanfaat bagi kita, terutama bagi penulis yang ingin tetap produktif dengan tulisan-tulisan inspiratif yang bisa mencerahkan umat agar mau berislam kaffah dalam kehidupan ini.(ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.