7 Desember 2022
this result on Google when searching for 'Wisuda'

#gambar #toga #wisuda

Oleh : Putri Awaliah ( Member AMK)

Dimensi.id- Terlambat Wisuda 

“Kamu harus terima kesalahan kalau kamu terlambat wisuda!”

Aku hanya bisa tersenyum licik dalam hati mendengar ocehan tante Maya. Kesalahan apa? Lulus lambat bukanlah kesalahan.

“Jangan selalu menyalahkan orang lain, semua ini salahmu”  Tante Maya menambahkan. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa berfikir kalau aku meyalahkan orang lain.

Selama ini aku bahkan tidak pernah mengeluhkan soal skripsiku kepadanya. Lalu mengapa dia mengangggap aku menyalahkan orang lain? Memangnya aku menyalahkan siapa?

Pertanyaan-perntanyan itu hanya sampai dikepalaku, enggan rasanya menanyakan langsung. Aku merasa tidak harus menjelaskan apa-apa karna apapun yang dituduhkannya tidaklah benar. Aku hanya diam, sadar kalau bukan waktunya berbicara. Atau mungkin, aku memang tidak akan pernah bersuara, selain dengan tindakan yang akan mereka pahami dikemudian hari. Itu kalau mereka cukup pandai memahami segalanya.

/Baca juga : Nak, Kapan Wisuda? 

**

“Ayolah, sampai kapan lo mau kayak anak kecil?” Erin, adik perempuanku menghampiriku yang sedang baca novel di atas tempat tidur, lalu menasehatiku sok bijak.

“Emangnya apa yang gue lakuin Rin? Selama ini gue belajar dengan keras, kalau emang belum waktunya gue lulus, yah apa salah gue?” Aku menanggapinya sebentar lalu kembali membaca novel dihadapanku. Sebagai mahasiswi sastra, sudah sewajarnya kan kalau aku kecanduan baca novel?

“Berhenti main-main deh. Mama udah berharap banget lo bisa jadi sarjana Re”. Itu lagi, itu lagi. Berharap jadi sarjana. Memang apa pentingnya jadi sarjana sih? Karna kesal, aku menutup novelku, meninggalkan Erin  lalu membungkus diri dengan selimut.

**

Agak sulit sebenarnya mencari referensi untuk penelitianku, belum ada penelitianan terkait praktek Barzanji menggunakan pendekatan sastra sekaligus Studi Cultural. Beberapa tawaran ganti penelitian, sempat diberikan dosen, tapi aku terlanjur tertarik dengan topik penelitianku ini. Studi Cultural sebenarnya salah satu disiplin ilmu dari poststrukturalsm, yang mana memang merupakan penedekatan yang paling terbaru. Jadi wajar saja jika masih kurang referensi. Apalagi yang objeknya adalah prakter Barzanji, ah jari-jariku rasanya hampir keriting gara-gara berselancar di mesin pencaharian terus saking susahnya dapat referensi yang tepat.

Ketertarikanku pada praktek Barzanji (yang kemudian aku tahu kalau teks barzanji merupakan  berisi sejarah hidup rasulullah yang ditulis dalam bentuk sastra yang indah),  bermula saat di rumahkan sedang ada hajatan pemotongan rambut adek bungsuku yang baru berusia 40 hari. Para tokoh adat, pemerintah setempat, dan kulihat juga beberapa masyarakat termasuk ayahku dan orang-orang berumur lebih dari seperdua abad berdiri melingkar sambil menyanyikan sebuah syair dalam bahasa arab bercampur bahasa bugis yang diselingi sholawat. Aku tidak tahu apa yang mereka nyanyikan itu  selain arti sholawatnya. Tapi walaupun begitu, aku tetap menikmatinya. Dan sampai sekarang aku juga tetap menikmatinya bahkan sampai menjadikannya objek penelitianku.

/baca juga : Tradisi Barzanji 

**

Dengan kaca mata anti radiasi yang bertengger nyaman di hidung mancungku, aku sudah berjam-jam di depan laptop. Mengetik, menghapus, baca jurnal online, bolak-balik halaman buku di samping kiri dan kanan, begitu seteusnya.

“Lagi ngerjain skripsi yah Rere?”, Erin tiba-tiba datang membawakan secangkir coklat hangat.

“Thanks Rin,” ucapku tulus.

“Susah banget yah Re, sampai-sampai lo belum bisa wisuda tahun ini?”.

Demi apa, moodku tiba-tiba hancur mendengar pertanyan Erin. Dasar adik menyebalkan. Aku mematikan internet, mamatikan laptop, menutup buku, lalu menatapnya lekat-lekat. “Sekali lagi lo nanya tentang wisuda, lo mungkin gak akan lagi bisa sekedar say hello sama gue.”

“Eh, lo kok nyolot si Re, kan gue cuma nanya. Atau ego lo keganggu karna belum bisa wisuda? Haha…”

Sial, dia tertawa menyebalkan. “Terserah yah. Terserah kalau lo mau mikir gue bodoh, lamban, gagal, atau apapun itu. Tapi satu hal, jadiin itu tetap ada di pikiran lo. Jangan pernah ngusik jalan hidup yg udah gue pilih.”

“Benar yah kata orang, orang egois emang gak bisa nerima nasehat.”

**

“Benar yah kata orang, orang egois emang gak bisa nerima nasehat”_

Walau aku berusaha untuk tidak peduli, nyatanya perkataan Erin terus terngiang-ngiang dalam otakku. Apakah aku memang seeogis itu? Apakah setiap anak yang tidak bisa lulus tepat waktu harus di cap sebagai anak egois, tidak tau diri?

Kenapa kebanyakan orang harus menganggap mendapat gelar/selembar ijazah itu lebih penting dari pada mendapat ilmu yang bermanfaat secara praktis untuk orang banyak?

Sampai kapan, mereka akan menutup mata tentang realitas pendidikan saat ini? Dimana pembuatan skripsi sebagian besar hanya menjadi ajang menumpuk-numpuk limbah kertas revisi. Belum lagi setelah 5 tahun, skripsi yang menumpuk kalau tidak dibuang yah dibakar. Padahal penggunaan kertas terbukti menyebabkan global warming. Tapi siapa peduli? Mahasiwa yang katanya kritis, pecinta alam, nyatanya juga tidak bisa berbuat apa-apa saat skripsian di semester akhir.

/baca juga : Kertas dan Pemanasan Global 

Belum lagi, masih banyak mahasiwa semester akhir yang masih bertanya-tanya, kenapa mereka harus kuliah di jurusan yang tidak mereka sukai. Lihat, bahkan di semester akhirpun masih ada  yang belum menyukai jurusannya. Walau mereka harus menutupi itu dengan bumbu kesyukuran. Dengan alibi “ah, ini sudah takdir”.  Ini yang menyebabkan banyak bakat yang harus terkubur. Yang harusnya bisa menjadi koki handal, malah terjebak dengan rumus-rumus menyebalkan, dan masih banyak contoh lain.

Tapi lagi,  apakah memilih untuk menyadari semua ini adalah keegoisan seperti sangkaan Erin?

**

“Gue minta maaf Re, gak ada maksud buat ngusik pilihanmu. Gue cuma mau lo sedikit peduli sama keinginan orang tua kita. Lo tau sendiri kan, lo anak pertama.” Erin datang dengan wajah memelasnya, yang mungkin juga karna terpaksa, karna dia tahu, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku akan dengan mudahnya melupakan bahwa dia saudariku kalau aku memang sudah tidak menyukainya.

“Udahlah Rin, gue ngerti maksud lo. Lo pikir gue gak peduli dengan orang tua kita kan? Karna gue anak pertama, gue juga mikirin kalian, adek-adek gue.  Gue gak mau kalian nanti kuliah, cuma karna tututan orang tua, bukan karna keinginan kalian sendiri. Gue mau, dengan ngeliat gue yang kayak gini, kelak kalian sadar kalau kalian bisa milih mau hidup seperti apa.”

“Tapi gimana dengan kebahagiaan mama papa? Itu gak penting buat lo?”

“Hmm.. kebahagiaan yah Rin, emangnya elo pikir bahagia itu apa sih? Punya gelar? Kerjaan? Duit yang banyak? Dihormati, disegangi banyak orang?”

“Yah, itu bukan kebahagiaan sejati sih, tapi orang tua kita dengan segala pengorbannya selama ini,  juga berhak merasakan sebagian kecil dari kebahagiaan itu Re..”

“Rin, lo mau mama papa bahagia dengan sebagian kecil itu atau yang sebagian besar?” melihat Erin terdiam, aku berusaha menjelaskan lagi. Walau yah, aku sebanarnya tidak suka menjelaskan semua ini pada Erin ataupun pada keluargaku.

“Gue punya jalanku sendiri untuk bahagiain mama papa, walau mungkin agak terjal. Tapi aku milih jalan ini. Yang gue butuhin dari kalian dan mama papa adalah bersabar, sampai gue berhasil ke tujuan. Gue gak berharap dukungan kalian, cukup jangan halangin gue. Elo boleh kok milih jalan sendiri untuk bahagian orang tua kita,  Rin.”

“Hmm.. lo emang gak bisa ngusahain dikit buat milih jalan yang biasa-biasa aja Re? Yang biasa ditempuh banyak orang. Kemungkinan gagalnya lebih kecil kan? Gimana nanti kalau lo gagal di jalan lo ini?”

“Kalaupun nanti gue gagal, gue gagal karna pilihan gue sendiri. Gue gak akan nyalahin siapa-siapa. Gue bahagia, puas dengan pilihan ini, dan itu cukup.”

Aku berusaha tetap tenang,  sebenarnya aku sudah sangat muak membicarakan ini.

“Erin, tugas lo sekarang, jelasin ke mama papa, kalau anaknya ini, Rere Anjani menyayangi mereka, dan akan membahagikan mereka dengan caranya sendiri.” [Dms]

-end

baca juga : karna hanya lillah yang takkan membuat kita lelah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.