6 Desember 2022

Dimensi.id-Saling lapor karena dasar kebencian menjadi budaya di negeri ini dalam sistem sekuler. Mudah tersinggung saat orang yang disanjung dihina, tapi tidak, dan bersikap biasa saja saat agamanya yang dinistakan. Marah saat organisasinya direndahkan, tapi tidak, saat rasullulah dicaci maki. Penistaan agama dianggap bentuk kebebasan berekspresi dan mengungkapkan pendapat. Namun, kritikan dan saran pada penguasa dianggap penghinaan yang bisa dijerat pidana. Negeri yang mayoritas Muslim, tapi terasa minoritas karena para ulama yang harusnya menjadi rujukan dalam memimpin negeri ini, dibatasi dan diawasi bahkan dikriminalkan, sementara Penista agama dibiarkan dan tidak segera diproses hukum, jika tidak didesak umat yang marah menyaksikan agamanya, dan rasullulanya dinistakan.

Di negeri sekuler, pengemban dakwah yang lurus dianggap radikal karena tidak mau kompromi dengan kedzoliman. Mereka dituduh menyebar kebencian, padahal yang disampaikan adalah kebenaran yang bersumber dari ajaran yang lurus dan mulia. Ajaran Islam, tentunya harus disampaikan apa adanya pada pemeluknya, bukan dimodifikasi ataupun disembunyikan karena takut menyinggung pemeluk agama lain. Seorang ulama’ yang lurus tidak boleh ragu untuk menyampaikan kebenaran meskipun harus berlawanan dengan keinginan penguasa yang dzalim. Pengemban dakwah yang mulia tidaklah layak untuk disamakan dengan Penista agama yang hina.

Pengemban dakwah hanya menyampaikan kebenaran hakiki yang bersumber dari hukum Allah SWT dengan tujuan untuk mencari ridhoNya. Dia sungguh mulia karena meniti jalan para nabi dan rasul. Apa yang disampaikan membawa kebaikan dan pencerahan bagi yang mau mendengar dan berfikir dan bagi mereka yang memiliki akal sehat. Kebenaran dari Sang Pencipta pasti akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi umat. Islam harus dijadikan tolok ukur, bukan dihilangkan, dipilah dan dipilih tapi Islam harus diambil secara kaffah. Islam harus disampaikan apa adanya bukan mengikuti pemikiran manusia yang didalam hatinya ada penyakit. Jika ada orang yang tidak sepakat dan merasa tersakiti, bukan lantas ajaran Islam yang harus dirubah, tapi pemikiran manusia yang lemah harus mengikuti petunjukNya, bukan mengikuti hawa nafsu yang membawa pada kesesatan. Allah berfirman dalam Surat. Al-Baqarah Ayat 216, “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

Hanya di sistem sekuler, para pengemban dakwah di framing seperti penista agama. Mereka diawasi dan dicari-cari kesalahannya. Saat pernyataannya dianggap menyinggung satu suku, atau pemeluk agama lain di-blow up dan diviralkan agar menciptakan percikan api kemarahan sehingga bisa dijadikan alasan untuk menjerat mereka, yang lurus hanya menyampaikan kebenaran hakiki yang bersumber dari ajaran yang lurus dan mulia. Harusnya mereka mau mendengar dan berfikir agar mendapatkan pencerahan, bukan malah mengedepankan kebencian, sehingga mencari-cari kesalahan yang bisa dijadikan alasan untuk menjerat pengemban dakwah yang mulia.

Sebaliknya Penista agama hanya menyampaikan sesuatu yang didasarkan pada kebencian terhadap satu keyakinan atau agama. Penista agama hanya mengada-ngada tanpa dasar ilmu yang bersumber dari pemikiran seseorang yang lemah dan didalam hatinya tersimpan penyakit. Penista agama suka mendustakan ayat-ayat Allah, sehingga layak dapat hukuman berat tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat nanti. Hukuman berat akan memberikan efek jera agar tidak lagi ada yang berani melakukan penistaan agama di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Di negeri yang mayoritas muslim, tapi Penista agama tumbuh subur tanpa tersentuh hukum karena sistem yang diterapkan bukan Islam, tapi sekuler. Mereka begitu bangganya dengan pernyataannya yang menistakan ajaran Islam. Khilafah dikriminalkan. Miras, dan babi yang jelas haram dipromosikan dan hendak dihalalkan dalam wacana kebangsaan. Riba yang merupakan dosa besar dijadikan pilar perekonomian negara. Ayat-ayat Allah dinistakan, sebaliknya hukum kolonial diambil dan diterapkan.

Ada tangan-tangan tersembunyi yang ingin mengadu domba umat beragama. Fenomena “Kece” yang menistakan nabi Muhamad dan Islam harus ditindak tegas agar efek jera bagi yang lain untuk tidak melakukan hal yang sama. Banyak Penista agama hidup bebas dan tidak merasa bersalah dengan ucapan dan pernyataannya yang menyinggung umat Islam. Sederet nama Penista agama tidak terjerat hukum sehingga menjadi angin segar bagi mereka untuk melakukan hal yang sama. Harusnya ajaran Islam dijunjung tinggi di dalam satu negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, faktanya penistaan terhadap ajaran Islam dan rasullulah tumbuh subur karena mereka merasa aman dan bisa terbebas dari hukuman dalam sistem sekuler, sementara pengemban dakwah yang membawa kebaikan ditekan agar mengikuti keinginan penguasa.(ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.