7 Desember 2022

 

Dimensi.id-Pada Rabu (18/8) lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar webinar Guru Pelopor Moderasi Beragama di Sekolah. Agenda ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para guru terkait bahaya radikalisme dan terorisme. Selain itu juga diharapkan para guru bisa menangkal radikalisme yang ada di kalangan peserta didik. Webinar tersebut juga turut menghadirkan narasumber Kasi Kerjasama Amerika BNPT, Letkol CZi Yaenurendra HAP, ST, MMgt; dan masih banyak lagi.

Agenda penangkalan radikalisme dan terorisme ini tentu bukan kali pertama kita dengar. Agenda provokasi ini sudah sangat sering kita lihat dan dengar beritanya. Mulai dari pentingnya mendeteksi radikalisme di kalangan masyarakat yang dimulai dari RT dan RW, Tes Wawasan Kebangsaan, sampai Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang mengatakan bahwa radikalisme menentukan mutu pendidikan.

Narasi Islam Moderat Adalah Narasi yang Keliru

Dalam kesempatan webinar yang diadakan kemarin, Ketua MUI NTB Prof. Syaiful Muslim menyampaikan cara untuk menangkal radikalisme. Yaitu dengan dakwah kepada umat untuk pengembangan Islam wasathiyah atau Islam moderat. Islam moderat adalah Islam yang mengambil jalan tengah, toleransi, dan bermusyawarah.

Mengapa harus mengembangkan Islam moderat? Karena dikatakan bahwa semua agama itu mengajarkan ajaran yang moderat. Tidak ada agama yang mengajarkan pada umat untuk bertindak ekstrim atau di luar batas. Lantas benarkah pengertian Islam wasathiyah seperti yang telah dijelaskan olehnya?

Islam wasathiyah atau Islam moderat sesungguhnya merupakan pemahaman yang keliru. Alasan terbesarnya adalah karena pemahaman ini disandarkan pada asas selain Islam sehingga selalu mengambil jalan tengah untuk mengatasi berbagai masalah. Hal ini akan cenderung mencampuradukkan Islam dengan pemahaman lain seperti sekularisme kapitalisme dan sosialisme komunisme yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Padahal Allah telah menegaskan di dalam ayat-Nya yang artinya, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. al-Baqarah [2] : 42).

Tak Ada Kata Menyerah Sampai Kita Mengikuti Mereka

Telah banyak fakta yang menegaskan para penjaga ideologi sekuler kapitalis dalam pemerintahan akan terus berusaha menampakkan apa yang telah diembannya itu. Walau terkadang kita harus melihatnya secara jeli. Terkait webinar yang telah dijelaskan diatas, selain Provinsi Nusa Tenggara Barat, webinar tersebut telah dilaksanakan di beberapa Provinsi lainnya. Seperti di Sumatera Barat pada Senin, 23 Agustus lalu, yang dihadiri oleh guru agama, guru umum serta pengasuh pondok pesantren.

Para pengusung sistem sekuler kapitalis amat getol mengampanyekan agendanya itu. Dengan upaya sungguh-sungguh, mereka akan terus menggencarkan berbagai agenda dengan tujuan utamanya yaitu membuat umat Islam jauh dari agamanya. Walau harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit. Karena ketika mereka berhasil membuat umat Islam jauh dari agamanya, maka kaum muslim akan mundur dan terbelakang. Inilah sebenarnya alasan utama di balik pengadaan webinar Guru Pelopor Moderasi Beragama di Sekolah yang telah diselenggarakan di beberapa daerah.

Sampai kapan pun mereka tidak akan berhenti dan menyerah. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. al-Baqarah [2] : 120).

Bagitulah tabiat asli para penganut sekularisme kapitalisme. Ketika “dagangan” mereka berupa narasi terorisme tidak laku lagi, maka dibuatlah narasi baru yaitu radikalisme yang sekarang sedang masif digencarkan. Kelak ketika radikalisme ini sudah tidak mempan lagi, maka akan tetap muncul narasi baru buatan mereka guna mencapai tujuannya tadi.

Umat, Terutama Para Guru, Harus Bangkit

Jika sebelumnya dijelaskan bahwa agenda penangkalan radikalisme ini dimulai dari RT RW, kini mereka menyasar para pendidik yakni para guru. Semakin banyak pendidik yang termakan ide buatan barat ini, maka semakin banyak pencetak generasi yang pemahamannya keliru dan akhirnya tidak memahami agamanya secara utuh. Barat bersama kaki tangannya yakni para pengemban ideologi sekularisme kapitalisme berusaha mengendalikan para guru dengan agenda radikalisme ini. Yang nantinya akan berujung pada hilangnya pemikiran ideologi Islam.

Kapitalis barat dengan masif mempropagandakan ini semua untuk menghalangi kebangkitan Islam. Islam sebagai sebuah ideologi memang amat ditakuti oleh barat. Karena barat meyakini bahwa kelak Islam akan bangkit dan memimpin dalam sebuah institusi negara (khilafah). Ketika Islam bangkit, maka pada saat itulah ideologi sekuler kapitalis yang mereka junjung tinggi musnah dan tergantikan kedudukannya.

Umat Islam seluruhnya, khususnya para guru, sudah seharusnya sadar akan fakta yang terjadi dan bangkit dari kemunduran pemikiran. Agar mampu bergerak bersama menghentikan agenda radikalisme ini, sekaligus meruntuhkan ideologinya. Karena isu-isu semacam ini akan terus ada selama sistem sekuler kapitalis masih diterapkan. Sudah saatnya umat kembali kepada sistem Islam dalam naungan khilafah seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para khalifah setelahnya. Karena hanya dengan khilafah lah segala persoalan bangsa akan teratasi dan negeri ini bisa terbebas dari kontrol kepentingan kapitalis barat.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.