7 Desember 2022

Dimensi.id-“Kita ingin supaya fesyen muslim menjadi yang terdepan. Untuk menjadi pusat mode muslim dunia, diperlukan promosi terpadu seperti yang dilakukan Muslim Fashion Festival Indonesia,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam keterangan persnya di Jakarta

Wapres mendorong kegiatan fashion festival untuk fesyen muslim terselenggara secara konsisten dan menjadi panggung strategis untuk memperkenalkan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia. Menurutnya lagi ,”kegiatan Festival Fesyen Muslim tersebut dapat mendorong pembangunan ekonomi dan keuangan syariah, khususnya di industri produk halal Indonesia .”

Mantan Ketua MUI ini mengingatkan agar penyelenggara kegiatan Festival Fesyen Muslim tersebut dapat menjangkau pasar global, sehingga memudahkan strategi promosi. Kita punya perusahaan platform digital, sudah banyak yang melakukan pemasaran global, channel (jaringan) sudah ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkan potensi yang sekarang ada tambahnya.

Sementara itu, desainer Ali Charisma meminta dukungan Pemerintah untuk menyelenggarakan Muslim Fashion Festival Indonesia sebagai sarana mengenalkan fesyen muslim asal Indonesia. “Kami harap event ini tidak cukup kami jalankan sendiri. Kami berusaha meyakinkan aparat Pemerintah semoga impian kami menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya pusat moe muslim dunia akan tercapai,” ujar Ali Charisma.

Pertanyaannya adakah manfaat yang signifikan dengan terwujudnya kesejahteraan jika Indonesia menjadi pusat mode muslim dunia? Rasanya terlalu mengada-ada dan inilah syahwat kapitalis yang kembali membara, memburu receh di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi. Kali ini sasarannya adalah fesyen muslim. Nada baiknya, bahwa apa-apa yang berbau Islam kini mulai diendus dan dijadikan sebagai alternatif yang menjanjikan.

Nada buruknya, kita mesti waspada sebab disinilah Neoimperialisme itu berawal. Penjajahan gaya baru, mencoba mengawinkan antara fesyen dan industri. Mengawinkan syariat dengan Islam moderat yang mengikuti zaman. Secara praktis dari hari ke hari kaum milenial muslim memang sedang Gandrung dengan kata hijrah. Maka fesyen hijrah menjadi daya tarik tersendiri . Lantas benarkah jika gelombang hijrah kemudian ditandai dengan perkembangan industri halal?

Jauh sebelum dunia mengenal revolusi industri, dunia Islam telah mengembangkan berbagai teknologi terkait pakaian. Hal ini beranjak dari perintah Allah SWT untuk menutup aurat sebagaimana firman Allah SWT dalam Qurat surat An-Nur 24:31 yang artinya,“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat darinya.”

Maka sepanjang waktu kaum Muslim mengembangkan berbagai bahan dari alam dan teknik-teknik pembuatan baju bahkan hingga mempelajari ilmunya ke berbagai negeri. Hal ini dilakukan bukan untuk diperlombakan, dipentaskan atau bahkan untuk menghasilkan royalti atas desain termutakhir, namun untuk taat, tunduk dan patuh kepada syariat Allah SWT.

Sedikitnya ada empat jenis tekstil yang dikenal di dunia Islam pada masa kekhalifahan, yakni; wol, linen, katun, dan sutera. Dari keempat jenis tekstil yang berkembang pesat di era kejayaan itu, wol dan linen telah berkembang dari peradaban pra-Islam.

Sejatinya, sutera pun sudah mulai diperkenal kan pada abad ke-6 M dari Asia Tengah ke utara Suriah. Namun, ketika itu sutera belum mampu berkembang secara luas. Katun dan sutera justru mulai berkembang pesat pada abad ke-7 dan ke-8 M, ketika Islam mulai menguasai peradaban dunia. Berkembangnya sutera memang tak lepas dari keberhasilan Islam yang mampu menyatukan ke – kuatan ekonomi, teknologi, serta wilayah meliputi Jazirah Arab, Afrika hingga ke kawasan Medite – rania.

Suriah negeri yang menjadi pusat kekuasaan Dinasti Umayyah menjelma menjadi sentra produksi katun di abad pertengahan. Katun yang diproduksi di Suriah kemudian di ekspor ke Mesir dan kawasan dekat Mesopotamia. Orang Mesir Kuno juga menganggap wol sebagai sesuatu yang kotor, sehingga tak mau memanfaatkannya. Namun, pada era ke emasan Islam wol justru dijadikan bahan mentah terpenting kedua untuk membuat kain setelah linen. Produksi wol berkembang dengan pesat di wi – layah pinggiran dan Mesir tengah.

Perkembangan industri tekstil di dunia Islam telah memberi pengaruh kepada peradaban Barat. Ketika Perang Salib meletus, katun buatan Suriah sudah mencapai negara kota di Italia. Ini menandakan bahwa majunya peradaban, dan kemudian sebuah negara menjadi pusat perhatian bukan karena mode fesyennya, namun dari kemajuan teknologi yang dilandasi dengan ketakwaan, semata karena ingin menjalani salah satu kewajiban kaum Muslim yaitu menutup aurat.

Dari sini pula bisa diketahui bahwa penguasa Muslim ketika itu sangatlah fokus terhadap pengembangan teknologi maju, sehingga setiap kali futuhad atau penaklukan sebuah daerah bukanlah untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya, namun justru mendorong adanya kreatifitas dan inovasi baru yang kemudian bisa dikembangkan secara masal untuk kemaslahatan umat.

Wajar, jika kemudian peradaban mulia nan cemerlang ini bertahan hingga 1300 tahun lamanya, sebab ada sinergi antara teknologi dengan sistem pengaturan yang diberlakukan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Baik muslim maupun non muslim. Sebab, jika bukan sistem Islam, mustahil akan ada perkembangan yang signifikan bagi industri halal, minyak tak akan mungkin disatukan dengan air, halal dan haram tak mungkin bersatu. Faktanya, demokrasi menghalalkan festyen muslimah yang sejatinya berlawanan dengan maksud wanita harus berpakaian syar’i, bukan untuk dilombakan dan tidak ada mode tertentu sebab semua, baik bahan, model maupun potongan standarnya adalah syariat.

Wanita khususnya, berpakaian juga bukan semata untuk dinilai keindahannya, mindset inilah yang harus dirubah, sebab kapitalisasi syariat adalah ciri sekularisme yang diharamkan dalam Islam. Negara tidak akan mendorong para desainer menciptakan pakaian hanya untuk aspek komoditas semata, namun juga berdasarkan halal dan haram. Akankah dunia mau menerima fesyen Islam jika tidak dibarengi dengan tegaknya institusi penerap syariat itu sendiri? Wallahu a’ lam bish showab. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.