6 Desember 2022
ilustrasi waralaba sumber: tribunnews.com

Dimensi.id-Beberapa waktu silam sedang tren makanan madu beku. Pengguna media sosial Tik tok di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan orang-orang mengkonsumsi madu beku dalam jumlah banyak. Tren makanan ini dimulai oleh Dave Ramirez dan menarik 900 juta penonton Tik Tok.

Dengan cepat tren ini sampai ke Indonesia. Para penikmatnya menyampaikan testimoni beragam. Ada yang mengatakan tekstur madu begitu kenyal seperti permen jelly. Enak dingin dikulum sampai lumer di mulut. Namun ada pula yang menyebut makanan ini menimbulkan ketidaknyamanan sampai keluhan muntah dan sakit perut.

Memang tidak semua hal yang menjadi tren harus ditiru. Selain berkaitan dengan masalah kesehatan, tren khususnya pada makanan tidak terlepas dari gaya hidup yang terpancar dari pandangan hidup sebuah bangsa. Sebagian orang menganggap bahwa konten semacam ini netral, padahal ada banyak hal yang tersembunyi di balik makanan dan tren-tren yang muncul di masyarakat.

Tren Mukbang misalnya, muncul di Korea Selatan kemudian menyebar luas hingga ke Indonesia. Ternyata mengkonsumsi makanan dengan jumlah banyak ini adalah cara untuk mengatasi rasa sepi hingga kepuasan menikmati makanan tanpa aturan.

Kehidupan di era kapitalisme yang serba individualistik telah mempelopori tren ini. Mungkin saja orang memiliki banyak makanan, sayangnya tak cukup teman untuk berbagi. Terlepas dari itu masih ada tren Honbap (me time) yang dilakukan untuk melepaskan diri dari tekanan sehari-hari.

Kepenatan bergelut dengan kehidupan kapitalisme melahirkan jiwa-jiwa yang kering, yang kemudian mencari makna kebahagiaan dan kepuasan dengan cara-cara yang tidak biasa, bahkan tak jarang membahayakan jiwa.

Sisi Kelam Tren Makanan

Tren makanan ternyata memiliki sisi kelam sebagai simbol hegemoni global. Siapa yang tidak mengenal restoran cepat saji Mc Donald`s? melalui brand inilah Amerika mulai mengekspor barang-barang, jasa, dan budayanya ke seluruh dunia.

The Mc Donalds Corporation merupakan simbol industi jasa yang paling penting di AS. Mc Donalds bertanggung jawab menyediakan 90 % lapangan kerja baru di Amerika. Perusahaan ini adalah pembeli terbesar daging sapi, daging babi, dan kentang di seluruh AS. Mc Donald`s juga menjadi distributor mainan anak-anak terbesar.

Saat ini gambar panah emas (huruf M pada lambang Mc Donalds) lebih terkenal daripada tanda salib umat Nasrani. Hal ini tidak hanya terjadi di AS. Secara global restoran cepat saji di Amerika ini juga memiliki arti penting yang sama sekali berbeda. Dalam skala global, lambang panah emas Mc Donalds ternyata mempunyai nilai sombolis yang jangkauannya lebih luas daripada lambang swastika milik Nazi atau lambang palu arit Komunisme.

Fast food Amerika melambangkan gaya hidup yang menjanjikan modernisasi. Pasca runtuhnya Tembok Berlin, McDonal`s membuka gerai pertamanya di Jerman Timur. Tahun 1992 ribuan orang mengantri pada grand opening gerainya di Beijing. Di Kuwait, antrian mobil dan layanan drive-through mencapai panjang 7 mil ketika grand opening.

Pada saat yang hampir bersamaan, KFC mencetak hasil penjualan terbesar, yakni US$ 200.000 dalam satu minggu, pada bulan Ramadhan di Tanah Suci Makkah al- Mukaramah. Begitulah, hanya dengan mengonsumsi Pizza Hut, KFC, Mc Donald`s atau minum Pepsi, secara ajaib seseorang mengalami peningkatan status sosialnya.

Jaringan restoran fastfood ini telah menjadi “kekuatan penjajah” baru yang mengirimkan duta-dutanya ke berbagai belahan dunia. Den Fujita, orang yang membawa Mc Donalds ke Jepang pernah berjanji kepada bangsanya,
“Bila kita (bangsa Jepang) makan hamburger dan kentang Mc Donald
s selama seribu tahun, maka tubuh kita akan menjadi lebih tinggi, kulit kita akan menjadi lebih putih, dan rambut kita menjadi pirang.”

Pernyataan-pernyataan bombastis itu justru membuat tugas “mencuci otak kaum pribumi” yang di emban oleh Mc Donald`s seakan-akan seperti omong kosong dan tuduhan tidak beralasan. Namun kenyataan bahwa makanan cepat saji merupakan bentuk imperialisme Amerika bukanlah sesuatu yang tak disadari.

Banyak pihak telah mengungkap hal ini. Bahwa makanan cepat saji adalah sarana ekspor budaya sampah Amerika ke seluruh dunia. Ekspor budaya ini pada akhirnya memperkokoh pengaruh politik mereka.

Sebagai gambaran, Mc Donald`s mengumpulkan sejumlah data satelit dari seluruh dunia. Sejak 1980-an mereka merupakan pembeli terbesar foto-foto satelit di seluruh dunia. Foto itu digunakan untuk memprediksi kota-kota masa depan. Mereka memiliki piranti lunak komputer yang bernama Quintillion. Piranti ini mengintegrasikan dan memilah informasi dari gambar-gambar satelit, peta-peta, informasi demografi, gambar CAD, serta data penjualan dari gerai-gerai yang sudah ada.

Memang lokasi adalah hal yang sangat penting dalam bisnis. Hanya saja lokasi strategis disini- menurut Doktrin Monroe-adalah seluruh benua. Kriteria yang digunakan untuk menentukan lokasi tersebut adalah tingkat kekayaan sumber mineral, sumber daya manusia, kapasitas produksi pertanian, dan posisi strategis dalam rute perdagangan serta transportasi barang dan jasa.

Oleh karena itu, Dataran Tinggi Golan, Panama, Selat Malaka dan Terusan Suez merupakan contoh lokasi strategis yang ingin dikuasai. Sebagaimana lokasi strategis restoran Mc Donald`s yang ada dimana-mana, pangkalan-pangkalan militer AS juga mulai tersebar di seantero negeri-negeri kaum Muslimin. Inilah cara siluman AS menyebarluaskan imperialismenya ke seluruh dunia, sangat halus namun mampu menghisap semua potensi yang dimiliki wilayah tersebut.

Tunggu dulu, banyak orang akan menggerutu, toh ini hanya makanan. Apa masalahnya? Seandainya saja mereka paham bahwa peradaban Barat tidak lagi memfokuskan dirinya pada ghazwul fikr (perang pemikiran) melawan kaum Muslimin. Kini mereka menggunakan ghazwu tsaqafi (perang budaya), sambil dengan tidak tahu malu tetap menerapkan invasi militer (ghazwu `askari) terhadap negeri-negeri Islam yang lainnya.

Dan sulit menampik umat ini telah masuk perangkap biawak itu. Lihat saja bagaimana kehebohan yang ditimbulkan oleh antrian BTS Meal Mc. Donald`s Indonesia pada bulan Juni silam.

Dalam kasus yang lain misalnya soal roti Prancis. Kini sebagaimana orang Prancis, generasi Muslim bangga sarapan dengan secangkir kopi dan roti croissant. Andai mereka paham sejarahnya. Le croissant adalah sejenis roti kecil berbentuk bulan sabit, yang menggambarkan simbol kekuasaan Islam.

Nampaknya tidak ada kaitan erat antara ilmu memasak (bangsa) Gallia dengan Kesultanan Islam. Tetapi, menurut legenda, le croissant sebenarnya diciptakan untuk memperingati keberhasilan pasukan Austria dalam menahan serangan tentara Utsmaniyah ke Wina. Pada mulanya, le croissant adalah makanan asli Austria, yang kemudian dibawa oleh Marie Antoinette-Putri Kerajaan Austria-ke Prancis ketika ia menikah dengan Louis XVI.

Menurut cerita, ketika tentara Islam mengepung kota Wina, seorang pembuat roti tengah mempersiapkan adonan roti di bawah tanah. Gudang bawah tanah tempat adonan itu disiapkan adalah tempat anaknya biasa bermain kelereng.

Pada saat yang sama, tentara Muslim sudah berhasil menguasai bagian luar kota, tetapi ternyata benteng pertahanan rakyat Austria di tengah kota benar-benar kuat. Maka tentara Muslim berinisiatif membuat terowongan bawah tanah untuk menembus dan menyerang pasukan kafir secara tiba-tiba. Pasukan Austria tentu tidak menyangka akan ada serangan seperti itu.

Ketika tentara Muslim mulai menggali terowongan, ternyata pembuat roti tadi melihat kelereng anaknya bergerak-gerak dan merasakan lantai gudangnya bergetar. Maka ia pun melaporkan kejadian itu pada kepada pasukan Austria. Oleh karena itulah pasukan Austria meminta pembuat roti itu membuat kue spesial untuk merayakan keberuntungan mereka.

Semua ahli sejarah meyakini dan menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi saat pengepungan kota Wina pada tahun 1683 itu dapat mengubah wajah seluruh Eropa bila pembuatan terowongan itu berhasil. Wina adalah ibukota kerajaan Kristen Eropa di sebelah Timur, tepat di jantung kerajaan Austro-Hungaria.

Bila pada waktu itu kota tersebut jatuh ke tangan tentara Muslim, maka akan terjadi gelombang kejutan yang sangat hebat. Sehingga sangat boleh jadi seluruh Eropa akan jatuh satu demi satu ke dalam kekuasaan Islam.

Demikianlah, penemuan le croissant bukan sekedar ungkapan pelecehan, tetapi pertanda perasaan lega orang-orang kafir setelah terhindar dari kekalahan. Saat ini, kebanyakan umat Islam tidak pernah berpikir dua kali ketika melihat suatu jenis makanan yang menarik perhatian.

Inikah sebabnya kita terbiasa menerima keberadaan le croissant, Mc Donald`s, Coca Cola, Pizza Hut, Starbucks? Mungkin karena itu hanyalah sejenis makanan, yang secara alamiah, bersifat netral, tidak ofensif, dan tidak menonjol. Makanan jelas merupakan komoditas ideal yang dapat menembus batas-batas ras dan kebudayaan.

Makanan hanyalah suatu jenis benda yang dimakan; yang sama sekali tidak membawa muatan-muatan budaya. Namun semoga setelah membaca ini kita sadar, dunia tak sesempit cakrawala kita. Bahwa di balik gegap gempita iklan dan promosinya ada banyak pesan yang tak terbaca, bisa jadi salah satu pesan itu adalah pesan penjajahan. (AK)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.