6 Desember 2022

Dimensi.id-Pekik kemerdekaan terdengar penuh semangat pada malam tasyakuran 17 Agustus. Pekikan itu membakar semangat warga yang ikut dalam acara itu. Mereka nampak bahagia saat itu pada malam tasyakuran peringatan HUT RI ke-76, lupa masalah yang membelit mereka. Pandemi sudah memberikan banyak pembatasan, bahkan untuk mencari makan saja sulit. Rakyat ditakuti dengan covid-19, sehingga rakyat tidak benar-benar merdeka. Lalu milik siapa kemerdekaan hakiki?

Rakyat belum merdeka karena hidup mereka dalam ketakutan dan ancaman oleh makhluk super kecil yang bisa mengancam jiwa mereka. Belum lagi penanganan pandemi yang tidak membela rakyat. Mereka dibatasi dam dipaksa tinggal dirumah tapi kebutuhan keseharian tidak dicukupi. Terpaksa, rakyat tidak mengikuti instruksi tinggal di rumah karena mereka harus keluar dan menyebar ke seluruh penjuru bumi agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga.

Rakyat belum merdeka karena keadilan tidak dirasakan untuk semua orang. Mereka yang dianggap musuh penguasa rezim sulit mendapatkan keadilan. diberlakukan pembatasan untuk rakyat kecil yang susah mencari makan, TKA China dibiarkan masuk padahal mereka berasal dari negeri yang menjadi sumber awal covid-19.

Mereka yang mengekspresikan diri lewat mural atas kekecewaan pada penguasa rezim dalam menangani pandemi, harus diburu dan berurusan dengan penegak hukum. Kreatifitas mereka dibunuh dan kebebasan mereka dalam menilai penguasa dikebiri karena dianggap menghina orang nomor satu di suatu negeri dan dianggap sebagai simbol negara. Rakyat hanya boleh memuji dan memberikan dukungan jika ingin hidupnya aman dari ancaman hukum yang sudah menjadi alat politik penguasa rezim.

Berkali-kali para pejabat dan bahkan pemimpin nomor satu di negeri ini melakukan pelanggaran prokes dan memicu kerumunan, tapi tidak sanksi hukum bagi mereka. Namun pelanggaran prokes bisa menjadi sanksi pidana jika yang melakukan orang yang dianggap musuh oleh penguasa. Apakah kemerdekaan sudah menjadi milik semua orang di negeri Ini. Tentu tidak demikian, karena keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum bisa diwujudkan dan hanya ilusi dalam sistem demokrasi kapitalis. Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkannya dan itu sudah terbukti.

Bahkan umat tidak bisa berkata apa yang bersumber dari keyakinan mereka secara kaffah. Banyak kriminalisasi ulama’ adalah bukti nyata bahwa umat belum merdeka. Mereka yang ingin berislam kaffah dianggap radikal dan harus diinvestigasi. Sebaliknya sesuatu yang haram dicoba untuk dihalalkan dengan alasan kebangsaan dan kearifan lokal. Umat tidak bisa mengatur hidupnya sesuai dengan keyakinannya secara kaffah. Padahal, solusi yang diterapkan saat ini tidak membawa kebaikan. Harusnya umat yang mayoritas muslim bisa menjadikan Islam sebagai solusi fundamental untuk seluruh masalah kehidupan yang membelit negeri. Sudah terbukti kapitalisme demokrasi tidak berpihak pada rakyat.

Kesejahteraan bukan milik seluruh rakyat tapi segelintir orang yang dekat penguasa rezim dan para penjilat. Mereka pendukung dan tim sukses rezim mendapatkan posisi yang bisa mendatangkan penghasilan tinggi. Mereka bisa hidup sejahtera diatas penderitaan rakyat yang hidupnya semakin terjepit karena pandemi. Mereka bahkan bisa berbisnis mencari keuntungan dari penderitaan rakyat. Korupsi dilakukan ditengah pandemi, sungguh orang-orang yang tidak punya hati.

Kemerdekaan Milik siapa? Apa hanya milik penguasa rezim dan para penjilat kekuasan. Tentunya tidak, saat penguasa tidak mampu memimpin dengan keyakinannya, pada hakekatnya dia belum merdeka. Mereka diperbudak dengan ambisi untuk terus berkuasa sehingga meninggalkan kebenaran yang bersumber dari keyakinannya. Seorang pemimpin muslim harusnya mampu untuk menerapkan ajaran Islam secara kaffah, tapi faktanya tidak bahkan tidak jarang pemimpin muslim tapi phobia dengan Islam. Pemimpin boneka yang tidak memiliki kemerdekaan hakiki tidak akan mampu mengucapkan kebenaran yang bersumber dari keyakinannya. Dia juga tidak mungkin bisa memimpin dengan Islam. Dia sudah diperbudak kekuasaan sehingga tidak mungkin bisa berpihak pada rakyat dan Islam.

Lalu, milik siapa kemerdekaan hakiki? Mereka yang mampu mengucapkan kebenaran yang bersumber dari keyakinannya, bahkan jikalau harus berhadapan dengan penguasa yang dzalim. Jiwa yang merdeka tidak pernah takut melakukan sesuatu yang dianggap benar karena takutnya hanya pada Sang Pemilik Hidup, Tuhan langit dan bumi. Jiwa-jiwa merdeka hidupnya akan bahagia karena terlepas dari rasa takut untuk mengatur hidupnya sesuai dengan keyakinannya, Islam secara kaffah dalam kehidupan nyata, meskipun bertentangan dengan kebenaran Umum yang diyakini masyarakat bahkan meskipun harus berhadapan dengan keinginan dan kebencian penguasa.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.