7 Desember 2022

Dimensi.id-Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Di era yang penuh disrupsi seperti sekarang ini menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri sangat penting. Jokowi juga mengajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen, agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata. Arah pendidikan selalu berubah mengikuti arus kebijakan industri dengan harapan mudah terserap lapangan kerja.

Dipaksa Tunduk Pada Industri
Sebagaimana yang kita ketahui saat ini, industri sudah mulai menyasar para generasi. Kini hal tersebut telah masuk ke perguruan tinggi (khususnya teknologi). Beberapa mata kuliah pun telah disesuaikan dengan kebutuhan industri. Bahkan magang di industri diperpanjang atau ditambah SKS-nya. Industri diberikan keleluasaan untuk meminta pelajaran tertentu diberikan di kampus. Tujuannya agar mahasiswa mampu bersaing dengan tenaga kerja lain dan memenuhi kriteria mereka.

Hal ini tentu akan membahayakan karena fokus pendidikan yang didapat dari mahasiswa tidak lagi berupa keahlian di bidang ilmu tertentu, namun bergeser hanya sebatas memenuhi kebutuhan pasar industri. Kalau memang demikian berarti dunia industri dan korporasi telah membajak potensi intelektual generasi.

Perlu kita ingat bahwa Tridarma perguruan tinggi merupakan kewajiban perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Fungsi pengabdian kepada masyarakat yakni kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak semata-mata untuk bekerja menghasilkan harta.

Adanya kurikulum industri ini malah justru menciderai Tri Dharma perguruan tinggi, mahasiswa dituntut sesuai kriteria pasar industri. Apabila Kurikulum Industri ini jadi diterapkan, walhasil kampus tak lagi mencetak para intelektual melainkan sekadar buruh yang memiliki pemikiran siap kerja. Mereka hanya dididik bak mesin industri yang harus berjalan sesuai kemauan tuannya (para pengusaha).

Hal ini harus kita renungkan, karena merupakan ancaman jangka panjang bagi sebuah bangsa. Bagaimana tidak, karena sebuah bangsa akan kehilangan sumber daya manusia dan pakar ilmu yang seharusnya menjadi sumber lahirnya inovasi.

Peran Perguruan Tinggi Yang Seharusnya
Wajib kita akui bahwa intelektual adalah aktor kunci kebangkitan. Jika intelektual selaku aktor kunci kebangkitan ini berfungsi dengan baik, pengaruhnya bagi masyarakat juga akan besar. Fungsi aktor kunci ini dapat diwujudkan ketika terjadi keserasian antara pemikiran dan perasaan di dalam benak kaum intelektual. Ketika fungsi ini sudah terealisasi, niscaya mereka akan berjuang demi negerinya dengan benar.

Mereka juga akan berkorban demi kepentingan rakyat dengan sempurna. Perjuangan mereka pun bukan sebatas emosional sesaat, yang akan langsung habis ketika mereka telah beroleh capaian pribadi maupun jabatan.

Islam Melahirkan Orang-Orang Hebat yang Peduli Masyarakat
Sudah terbukti berabad-abad silam, perguruan tinggi bersistem Islam telah mampu melahirkan ribuan ilmuwan hebat. Bahkan, seluruh penemuan mereka menjadi cikal bakal kemajuan teknologi saat ini. Sebut saja Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran dunia, sebagai penemu manfaat etanol dan teori penularan penyakit TBC. Al-Zahrawi menemukan teori menjahit luka dan buku panduan kedokteran Al-Tasrif.

Selain bidang kesehatan, ada juga matematika. Sebagai contoh, Al-Khawarizmi sebagai penemu teori aljabar, trigonometri astronomi, algoritma, dan angka nol. Ada lagi Abbas Ibnu Firnas yang ahli di bidang aerodinamika sebagai penemu ide pesawat, serta masih banyak ilmuwan lainnya. Mereka semangat melakukan riset semata-mata agar ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

Sungguh jelas berbeda antara kedua kurikulum itu, bukan? Maka, jika kita ingin mahasiswa tak apatis atas kondisi masyarakat, perlu memilih kurikulum yang tepat. Tentu bukan Kurikulum Industri yang berorientasi pada materi, melainkan kurikulum Islam. Wallahu a’lam bish-showab.

 

Penulis: Eka Zhakiah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.