6 Desember 2022

Herd Immunity – Pandemi telah muncul hampir 2 tahun lamanya, tetapi tanda-tanda kesudahannya belum nampak. Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran covid 19 yang semakin menjadi.

Selain PPKM Darurat, Pemerintah tengah menggencarkan program vaksinasi massal, 1 juta suntikan per hari di bulan Juli dan 2 juta suntikan per hari di Bulan Agustus. Target capaian vaksinasi bulan Juli 43,7 juta suntikan. (kompas.com, 30/6/2021).

Pemerintah Kabupaten Sumedang pun punya tekad mengakhiri pandemi Covid-19 dengan secepatnya terjadi Herd Immunity atau kekebalan Komunal di wilayah Kabupaten Sumedang.

Kekebalan tersebut dapat segera terjadi apabila jumlah masyarakat yang disuntik vaksin sudah 70 hingga 75 persen dari populasi penduduk di Sumedang. (Sumber : RADARSUMEDANG.ID).

Dengan vaksin bisa menciptakan herd immunity
Ilustrasi vaksin, sumber: kompas.com

Efektifkah vaksinasi massal dalam memberantas wabah?

Permasalahan terbesar program vaksinasi selain terletak pada pengadaan dan distribusi vaksin, juga pada kesadaran masyarakat tentang vaksin itu sendiri. Banyak warga yang masih ragu untuk divaksinasi dengan alasan keamanan vaksin, efikasi, dan kehalalan vaksin itu sendiri.

Baca juga: Kebijakan Whatsapp! Penjara Kapitalisme Global

Padahal pemerintah sudah mendapatkan EUA atau Emergency Use Authorization dari BPOM berdasarkan uji klinik fase 3 baik dari Indonesia, Turki maupun Brazil.

Lalu terkait kehalalan, MUI pada tanggal 11 Januari 2021 juga telah mengeluarkan vaksin Covid Sinovac halal dan suci. MUI sendiri yang datang ke Beijing melihat pabriknya dan bahan-bahan yang dipakai. Dua hal ini semoga bisa menjawab keraguan masyarakat.

Seharusnya dengan dua hal diatas yaitu EUA dari BPOM dan Sertifikat Halal MUI, masyarakat sudah tidak usah ragu lagi. Namun, kepercayaan publik yang sudah terlanjur menurun pada pemerintah, membuat semua itu mental. Inilah fenomena publict Distrust, saat kepercayaan publik rusak pada para penguasanya, akibat ulang penguasanya sendiri.

Terkait efikasi vaksin, ahli biologi molekuler Ahmad Rusjdan Utomo menyampaikan bahwa vaksinasi dalam rantai pengendalian wabah merupakan tahap terakhir. Ibarat rumah bocor, kita harus menyediakan ember untuk menampungnya agar air tidak ke mana-mana.

Vaksinasi adalah embernya. Namun solusi vaksin tanpa disertai dengan solusi fundamentalnya, tentu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Solusi hulunya adalah kebijakan pemerintah yang konsisten. Harus ada kebijakan makro pemerintah yang benar-benar pro rakyat dan konsisten, serta merujuk pada para pakar.

Memahami Makna Herd Immunity

Dikutip dari tirto.id (03/04/2020), konsep herd immunity meniscayakan peperangan antara virus dengan manusia di tengah pandemi dalam soal adu cepat siapa yang lebih dulu bisa beradaptasi.

Yakni virus dengan mutasi genetiknya atau manusia dengan kekebalan tubuhnya. Vaksin semata-mata diciptakan agar manusia memenangkan pertempuran tersebut.

Konsep “adu cepat” terhadap adaptasi inilah yang agaknya perlu dikritisi. Jika karantina tidak sempurna dilaksanakan, terlebih diiringi telah berlangsungnya kehidupan normal baru, maka kurva landai angka korban pandemi masih berpeluang untuk kembali menanjak.

Wabah penyakit akibat infeksi virus akan hilang ketika mayoritas populasi kebal, dan individu berisiko terlindungi oleh populasi umum. Dengan begitu virus akan sulit menemukan host atau inang untuk menumpang hidup dan berkembang. Kondisi itu disebut dengan Herd Immunity atau kekebalan kelompok.

Untuk mencapai kekebalan kelompok, mayoritas populasi harus sembuh dari infeksi patogen agar sel memori imun merekam ciri-ciri patogen penyebab penyakit. Caranya bisa ditempuh dengan vaksinasi atau membiarkan tubuh mendapat paparan penyakit secara alami.

Kekebalan kelompok dari infeksi alami berisiko menimbulkan sakit parah bahkan kematian. American Heart Association bahkan mengatakan pemulihan infeksinya memakan waktu lama hingga hitungan bulan bahkan tahunan. Bayangkan berapa banyak negara harus menanggung kerugian dengan menempuh cara ini.

Infeksi SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19) pada satu orang diperkirakan dapat menular kepada 2-3 orang lain. Rata-rata algoritma kekebalan kelompoknya harus mencapai 50-67 persen populasi. Dengan jumlah penduduk 271 juta jiwa (proyeksi 2020), Indonesia perlu membuat 182 juta rakyatnya terinfeksi dan membentuk herd immunity.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk lansia di Indonesia berkisar 10 persen. Dengan asumsi tersebut pemodelan kelompok rentan yang harus mendapat penanganan khusus mencapai 18,2 juta jiwa.

Jumlah tersebut belum ditambah kelompok rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dll. Sementara jika dihitung dari persentase kematian akibat Covid-19 sebesar 8,9 persen, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 16 juta jiwa dari total 182 juta jiwa yang terinfeksi.

Ini bukan angka yang kecil. Dan inilah potensi buruk yang sangat mungkin terjadi di negeri kita. Na’udzu billaahi

Back to Islam Kaffah

Keseriusan penguasa mengurusi rakyat di era pandemi ini harus mencapai standar ikhtiar tertinggi. Agar dapat menghadang peluang buruk dengan munculnya gelombang corona jilid dua bahkan herd immunity.

Sabda Rasulullah Saw. “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad). Juga sabda beliau Saw.: “Tidaklah dari seorang hamba yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati, yang pada hari ia mati ia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan baginya surga.” (HR Muslim).

Tidak selayaknya penguasa menumbalkan kemampuan adaptasi imunitas tubuh masyarakat dalam rangka ambisi menjajal kenormalan baru, namun sejatinya hanya bentuk lain keengganan berkorban yang terbaik hingga berakibat pada terjadinya herd immunity.

Selayaknya kita akhiri pandemik ini dengan kembali kepada SyariatNya. Kuncinya adalah mengembalikan kepercayaan umat pada penguasa. Agar penguasa dan umat bahu membahu bekerjasama dalam menyelesaikan pandemi.

Namun penguasa yang cinta pada rakyatnya, bekerja hanya untuk melayani rakyatnya, hanya akan kita temui dalam masyarakat islam yang kehidupannya dinaungi sistem buatan illahi, Khilafah Islamiah.

Penulis: Ai Oke Wita Tarlina, S. Pt. | Pengajar SMK Informatika Sumedang

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.