7 Desember 2022

 

Penulis : Fitri Awaliyah Panggabean | Mahasiswa

Dimensi.id-Masa pandemi ini memperjelas kemampuan Demokrasi. Faktanya Pandemi covid -19 membuat kinerja ekonomi dan layanan kesehatan tertekan. Selama 14 tahun terakhir surve dan studi menunjukkan demokrasi mengalami kemunduran. Apalagi mengingat kebijakan dan pembatasan pembatasan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi Pandemi. Pembatasan pembatasan sementara itu bersinggungan dengan kebebasan individu. Ditambah Indonesia dinobatkan sebagai negara yang paling buruk dalam menangani covid-19.

Hal ini terlihat dari laporan ketahanan terhadap covid-19 yang di buat oleh Bloomberg pada 27 juli 2021. Dalam laporannya Indonesia berada di posisi terbawah dengan skor 40,2 dan turun empat peringkat dari laporan sebelumnya.

Solusi dalam sistem Islam dan khilafah
Secara umum sebuah sistem pemerintahan bisa disebut sebagai Khilafah apabila menerapkan Islam sebagai ideologi, syariat sebagai dasar hukum, serta mengikuti cara kepemimpinan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam menjalankan pemerintahan.

Kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah Khalifah Umar
Wabah penyakit juga pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab, tepatnya pada bulan Rabiul Awwal tahun kedelapan hijriyah. Umar sempat berdebat dengan Abu Ubaidah, Gubernur Syam soal wabah penyakit dan takdir. Wabah terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam. Awalnya sang Amirul Mukminin itu berencana melakukan kunjungan ke Syam yang ketika itu sudah bergabung dengan kekuasaan Islam. Sampai di Saragh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang ketika itu disebut menjabag Gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahu Umar bahwa wilayah Syam sedang terjadi wabah penyakit. Mendapat kabar tersebut Umar memutuskan berhenti di Saragh.

Abdullah Ibnu Abbas seperti diriwayatkan dalam hadits Abdurrahman bin Auf menceritakan bahwa ketika itu Umar meminta dipanggilkan beberapa Muhajirin sepuh. Dikutip dari Kitab Al Lu’lu wal Marjan karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, Umar kemudian berdiskusi dengan tokoh-tokoh senior Muhajirin. Terjadi perdebatan antara tokoh senior Muhajirin dengan Umar bin Khattab. Ada yang menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan ke Syam, tak sedikit yang meminta Singa Padang Pasir itu kembali ke Madinah.

Tak ada titik temu, pertemuan itu pun dibubarkan. Umar kemudian minta Ibnu Abbas untuk memanggil orang-orang Anshar. Lagi-lagi tak ada titik temu karena terjadi perdebatan soal perlu tidaknya Umar pergi ke Syam. “Sekarang tinggalkan saja aku. Tolong panggilkan aku sesepuh Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukkan Makkah,” kata Umar kepada Ibnu Abbas”. Ibnu Abbas pun memanggil tokoh Quraiys yang dimaksud Umar dan ternyata tinggal dua orang saja. Kepada Umar mereka menyarankan agar mengurungkan niat untuk mendatangi Syam mendatangi daerah yang terkena wabah penyakit.

Umar sepakat dan kembali ke Madinah. “Aku akan berangkat besok pagi (ke Madinah) mengendarai tungganganku, maka kalian pun berangkat besok pagi mengendarai tunggangan kalian,” kata Umar. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. “Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?” kata Abu Ubaidah.
“Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya,” Jawab Umar bin Khattab.

Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah. Hingga kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah SAW: “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”

Umar bin Khattab kemudian meminta Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam juga meninggal dunia terkena wabah. Wabah penyakit di Syam baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat gubernur. Dia mencoba menganalisa penyebab munculnya wabah dan kemudian melakukan isolasi, orang yang sakit dan sehat dipisahkan. Wabah penyakit di Syam pun perlahan-lahan mulai hilang.

Namun kondisi saat ini sangatlah pelik, tak ada yg dapat menolong kita selain Allah, bertaubat dan memohon ampun pada Allah karena Allah lah yang mendatangkan wabah dan Allah pula yg menghilangkan wabad dari suatu negeri. Karna Allah memiliki kekuasaan atas itu semua. Maka dari itu kita sebagai hamba sudah selayaknya hanya meminta pertolongan hanya kepada Allah.

Dengan menerapkan sistem kehidupan yang Allah perintahkan pula yakni dengan menegakkan Khilafah dan mengubah sistem kehidupan Demokrasi (yg dimana para pembuat aturan hanyalah sekelompok manusia) dengan sistem kehidupan Islam (yg menentukan aturannya itu yakni Allah sang maha pengatur lagi maha pencipta manusia). Wallahualam bissawab.[Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.