6 Desember 2022

Oleh: Ita Mumtaz

Dimensi.id-Dalam negara kapitalisme, kebijakan apapun yang ditetapkan kepada rakyat nyata-nyata telah berpihak kepada korporasi ketimbang demi kemaslahatan rakyat. Termasuk wacana kurikulum industri yang kembali digalakkan.

Presiden Jokowi menyerukan perguruan tinggi agar berkolaborasi dengan praktisi dan pelaku industri dalam mendidik mahasiswa. Bahkan mengganti kurikulum dosen dengan kurikulum industri. Pengetahuan dan keterampilan mahasiswa harus mengikuti perkembangan terkini dan masa depan. Nantinya mereka akan diarahkan untuk menjadi industriawan yang bisa membuka lapangan pekerjaan. (kompas.com, 27/07/2021) .

Jika dilihat konsep pendidikan yang dicanangkan lebih mengarah pada aspek kemampuan bersaing di dunia usaha dan siap untuk bekerja. Yakni memberikan berbagai macam keahlian yang diperlukan saat memasuki dunia kerja. Nampaknya sekularisme semakin nyata merangsek masuk dalam dunia pendidikan hari ini. Hanya berbasis pada skil dan ilmu teknis dan dijauhkan dari akidah, syariah dan akhlak Islam.

Kurikulum yang diberikan begitu padat, sehingga membuat mahasiswa tersibukkan dengan tugas-tugas dan ujian. Hampir tidak ada waktu untuk mendalami ilmu Islam, upgrade kepribadian dan mengabdi kepada masyarakat, kritis dan melakukan muhasabah kepada kebijakan penguasa yang kurang tepat. Padahal mahasiswa adalah kalangan intelek  yang menjadi tumpuan harapan bangsa. Jika begini, maka “Agen Perubahan” tak layak lagi disematkan ke dalam jiwa-jiwa para mahasiswa. Mereka dipaksa tunduk pada target-target kurikulum yang telah dirancang oleh para korporasi.

Apa yang dicanangkan Presiden Jokowi sebenarnya mencederai tujuan pendidikan perguruan tinggi. Dari awal, Perguruan Tinggi adalah industri pencetak generasi intelektual. Dari sana diharapkan lahir sosok-sosok generasi hebat dengan ketinggian ilmu, kepribadian yang unggul, ketakwaan, dan kreativitasnya dalam melayani kebutuhan umat. Sehingga segala ilmu dan kemampuan didedikasikan untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Namun di era ini dibajak potensinya menjadi budak industri yang sangat dibutuhkan oleh korporasi.

Dari sini semakin nyata bahwa Perguruan Tinggi di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, tidak lagi berjalan secara independen sesuai fungsinya. Namun begitu besar intervensi dari para pemilik modal untuk menentukan arah, melalui penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha. Tentu saja hal ini mengancam para generasi harapan bangsa yang akan menggantikan pemimpin di masa mendatang.

Memang fakta telah banyak berbicara, bahwa nusantara, sebuah negeri yang kaya dengan sumber daya alam ini sejatinya negeri yang terjajah. Bagaimana tidak? Hampir di segala aspek kehidupan telah dimangsa oleh kerakusan orang-orang kapitalis. Undang-undang yang ditetapkan selalu berpihak pada korporasi. Rakyat hanya dibutuhkan suaranya ketika pemilihan kursi. Setelah menjabat bukan lagi menjadi pelayan umat, namun sibuk memenuhi ambisi para konglomerat.

Anak-anak negeri terbaik pun dikorbankan untuk dijadikan budak asing. Mereka disiapkan agar menjadi pemutar mesin industrialisasi yang merupakan sumber penghidupan kapitalis. Sehingga kuku-kuku hegemoni semakin kuat mencengkram di negeri ini. Begitulah sejatinya kapitalisme, sangat licik dan keji.

Dalam Islam, penyelenggaraan pendidikan untuk warga merupakan  kewajiban negara. Pendidikan terbaik oleh negara akan menciptakan sosok-sosok yang beriman dan bertakwa dengan kedalaman ilmu, berkepribadian Islam, sekaligus menguasai sains dan teknologi. Dengan begitu mereka tak akan menjadi beban masyarakat dan negara, tapi justru akan tampil sebagai problem solver. Ilmunya akan didedikasikan untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Bukan malah melayani kepentingan korporasi asing dengan menjadi mesin Industri bagi para kapitalis yang tentu akan membawa kerugian bagi diri dan masa depan akhiratnya.

Sungguh saat ini penguasa telah teperdaya oleh agenda penjajah dengan mengorbankan generasi muda serta membajak intelektualitas mereka. Padahal potensi anak-anak bangsa ini sangat bernilai dan selalu dibutuhkan bagi kemajuan agama dan peradaban. Saatnya kembali melakukan pengabdian tertinggi kepada Allah, Islam dan umatnya.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzaariyaat 56).

Wallahu a’lam bish-shawwab.[IMZ]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.