6 Desember 2022


Narasi Sejarah – Peran sejarah sangat penting bagi sebuah kaum. Sejarah adalah salah satu bahan baku dalam membentuk watak dan kepribadian sebuah kelompok, suku, ataupun bangsa.

Sejarah juga dapat menginspirasi visi masa depan mereka. Oleh karena itu sejarah menjadi kekayaan non benda yang sangat vital bagi sebuah bangsa. Dan menulis sejarah adalah sebuah pekerjaan yang sangat penting.

Sejarah umat Islam, di manapun dan pada zaman apapun, senantiasa diisi oleh kisah heroisme dan perlawanan terhadap imprealisme. Islam menjadi bahan bakar dan sumber perlawanan terhadap penjajah.

Fakta sejarah membuktikan, bahwa umat Islam adalah elemen yang paling sulit berkompromi dengan penjajahan dan paling sulit ditundukkan.

Fakta sejarah membuktikan, bahwa umat Islam adalah elemen yang paling sulit berkompromi dengan penjajahan dan paling sulit ditundukkan.
Ilustrasi perlawanan islam terhadap penjajah, sumber: kompasiana.com

Oleh karena itu, setelah kemenangan peradaban barat terhadap dunia Islam, mereka harus memastikan bahwa Islam tidak lagi menjadi semangat perlawanan terhadap imprealisme barat.

Salah satu cara untuk mewujudkan hal itu adalah dengan menulis ulang sejarah dan mengaburkan peran Islam dan umat Islam dalam sejarahnya sendiri.

Sebab jika umat Islam membaca sejarah yang benar kemudian menyadari sikap anti imprealisme yang diambil oleh para pendahulunya serta motivasi perlawanan mereka adalah ajaran Islam yang anti kezhaliman.

Maka perlawanan akan kembali terulang dan itu akan menimbulkan kerugian besar di pihak penjajah. Pasca Perang dunia II, penjajahan beralih dari penjajahan fisik menuju neokolonialisme (penjajahan gaya baru).

Maka perlawanan akan kembali terulang dan itu akan menimbulkan kerugian besar di pihak penjajah. Pasca Perang dunia II, penjajahan beralih dari penjajahan fisik menuju neokolonialisme (penjajahan gaya baru).
Ilustrasi perang dunia 2, sumber: studiobelajar.com

Penjajah tidak lagi menduduki wilayah kedaulatan sebuah bangsa dengan kekuatan bersenjata, akan tetapi kini penjajahan itu lebih modern bentuknya berupa penjajahan non fisik.

Penjajahan gaya baru ini baru berupa penjajahan budaya, ekonomi, dan politik yang menggunakan skema kerjasama pendidikan, budaya, ekonomi, politik dan militer.

Baca juga: Kek lido, romantisme kemakmuran

Dengan memanfaatkan instrumen berupa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga bantuan ekonomi atau lembaga kerjasama ekonomi, lembaga kerjasama militer, serta lembaga persatuan antar negara dan bangsa.

Meskipun gaya penjajahan telah berubah, namun kepentingan penjajah untuk memanipulasi sejarah umat Islam tidaklah pernah berubah.

Meskipun gaya penjajahan telah berubah, namun kepentingan penjajah untuk memanipulasi sejarah umat Islam tidaklah pernah berubah.
Ilustrasi manipulasi sejarah, sumber: bersamadakwah.net

Peran Islam dan umat Islam tetap dikaburkan, semangat darul Islam, jihad dan amar makruf nahi munkar sebagai motivasi perlawanan dihilangkan.

Sebagai gantinya, semangat kelompok, kesukuan dan nasionalisme dinarasikan sebagai satu-satunya motivasi perjuangan.

Sebab antara rasa fanatisme kelompok, primordialisme, dan nasionalisme tak ada satupun yang dapat mengancam penjajahan secara permanen.

Di Indonesia, sejarah gerakan yang menuntut Syariah dan Khilafah sengaja distigma sebagai gerakan makar dan radikal, disejajarkan dengan gerakan komunis yang bengis dan kejam.

Di Indonesia, sejarah gerakan yang menuntut Syariah dan Khilafah sengaja distigma sebagai gerakan makar dan radikal, disejajarkan dengan gerakan komunis yang bengis dan kejam.
Ilustrasi stigmatisasi, sumber: rmoljabar.com

Narasi “pemberontakan DII/TII” telah menciutkan nyali orang-orang yang diajak untuk kembali memperjuangkan Darul Islam atau Khilafah.

Semua itu tanpa penjelasan memadai mengapa sampai timbul gerakan itu dan apa urgensi gerakan mereka tersebut.

Baca juga: Esensi dari berdirinya kesultanan Bima

Peran kelompok Islam dalam memajukan pendidikan dan ekonomi pribumi pun dimarjinalkan, peran tokoh-tokoh Islam disembunyikan. Sebaliknya peran kelompok sekuler dan anti Islam malah ditonjolkan.

Tokoh-tokohnya ditampilkan sebagai simbol perjuangan. Sejarah penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta sengaja direkayasa, peran umat Islam dalam pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dihilangkan.

Tokoh-tokohnya ditampilkan sebagai simbol perjuangan. Sejarah penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta sengaja direkayasa, peran umat Islam dalam pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dihilangkan.
Ilustrasi tentara pembela tanah air, sumber: esqnews.com

Perlawanan para kyai disederhanakan hanya sebagai perlawanan terhadap perintah seikerei, dan peran laskar-laskar umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan hanya diberi porsi sedikit dalam penulisan sejarah nasional.

Sungguh penulisan sejarah sangat tidak ramah terhadap Islam dan umat Islam. Sebab ternyata Islam adalah ancaman nyata bagi keunggulan peradaban barat pasca keruntuhan Uni Soviet.

Pan Islamisme dan seruan restorasi Khilafah Islam tentu saja menjadi momok yang menakutkan barat. Kaum muslim ibarat singa yang sedang tertidur.

Sekali ia bangun, maka habislah kekuasaan peradaban kapitalisme barat atas dunia. Oleh sebab itu, penulisan sejarah umat Islam harus kembali diluruskan.

Sekali ia bangun, maka habislah kekuasaan peradaban kapitalisme barat atas dunia. Oleh sebab itu, penulisan sejarah umat Islam harus kembali diluruskan.
Ilustrasi menghilangkan kesalahan, sumber: topbrand-award.com

“Jihad” untuk meluruskan penulisan sejarah ini memang tidaklah mudah dan bukan tanpa hambatan. Agen-agen sekularisme pasti akan menghadang dan berusaha menggagalkannya.

Namun harus ada usaha dari dalam tubuh kaum muslim sendiri. Dan usaha itu harus dimulai dari sekarang.

Penulis: Faisal Mawa’ataho | Komunitas Gemar Sejarah (KGS)

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.