7 Desember 2022

“Kemiskinan sistemik yaitu kemiskinan yang dibuat secara sistematis dan terstruktural, sengaja dirancang sedemikian rupa agar masyarakat dunia dimiskinkan sebanyak-banyaknya dengan tujuan menjadikan segelentir manusia kaya menjadi “tuhan” yang lainnya pengemis”. Garda Revolusi- Blogger

Siapa yang mau hidup miskin? tentu tidak ada. Jika boleh memilih tentu semua orang ingin ditakdirkan sebagai orang yang berkecukupan secara materi. Karena tidak bisa dipungkiri, meskipun materi bukan segalanya tetapi segalanya butuh materi untuk meraihnya. Memperbaiki hidup bisa saja dilakukan dengan berbagai ikhtiar. Namun bagaimana jika kemiskinannya sistemis dan struktural?

Kemiskinan Sistemik: Kaya Tapi Dimiskinkan, Bisa Tapi Tidak Difasilitasi

Coba kita tanya pada mereka yang pengangguran, tentu sebagian besar beralasan karena tidak ada lowongan pekerjaan. Saat ini jutaan pengangguran meningkat setiap tahunnya. Peluang kerja sedikit sedangkan yang membutuhkan pekerjaan membludak. Terlebih saat pandemi, justru banyak perusahaan yang gulung tikar. Hanya perusahaan besar saja yang masih bisa survive menghadapi pandemi.

Bertanya pada petani yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Semua akan kompak mengatakan bahwa hasil panen tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Bahkan kadang kala mereka justru merugi karena permainan harga oleh tengkulak saat panen raya.

Kemiskinan sistemik yaitu kemiskinan yang dibuat secara sistematis dan terstruktural, sengaja dirancang sedemikian rupa agar masyarakat dunia dimiskinkan sebanyak-banyaknya dengan tujuan menjadikan segelentir manusia kaya menjadi “tuhan” yang lainnya pengemis.
Ilustrasi pak tani, sumber: minews.com

Pengetahuan yang minim, sulit mendapatkan bibit unggul, harga pupuk yang mahal menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Akses lansung ke pasar induk tidak bisa didapatkan, sehingga harga jual yang mereka dapat jauh lebih murah dari harga pasar.

Coba bertanya pada pedagang kecil, pengusaha rumahan atau UMKM. Persaingan pasar yang tidak sehat menjadi batu sandungan. Pedagang kaki lima harus berpikir keras demi mendapat keuntungan. Mereka harus membayar “sewa ilegal” demi bisa mangkal berjualan. Belum lagi pandemi yang sudah membuat ruang gerak makin terbatas. Sulit untuk mewujudkan kesejahteraan hidup dari berwiraswasta.

Baca juga: Polemik haji 2021

Begitu juga pekerja kantoran atau buruh pabrik. Upah yang ditentukan dari UMK yaitu berdasarkan standar kebutuhan seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik dalam waktu satu tahun. Tentu saja gaji ini jauh dari kata cukup bagi karyawan yang sudah menikah dan mempunyai anak. Biaya kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan menjadi tanggungjawab secara mandiri oleh pekerja.

Kemiskinan Sistemik Bukan Kesalahan Individu

Kemiskinan yang terjadi saat ini memang sistemis dan struktural. Kemiskinan terjadi bukan karena faktor kemalasan. Bukan pula faktor ketidaktersediaan sumber daya alam. Jika kita menelisik lebih jauh semua hal yang terjadi diatas merupakan kemiskinan yang sengaja dirancang secara sistematis dan terstruktural.

Kemiskinan yang terjadi saat ini memang sistemis dan struktural. Kemiskinan terjadi bukan karena faktor kemalasan.
Ilustrasi kemiskinan, sumber: cikimm.com

Sulitnya lapangan pekerjaan disebabkan oleh perekonomian yang didominasi oleh sektor non riil. Distribusi kekayaan tidak mengalir hingga ke masyarakat bawah. Sebagian besar kekayaan justru berputar di kalangan orang kaya yaitu sektor perbankan dan surat berharga. Sehingga denyut perekonomian tidak dirasakan oleh rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dengan modal tenaga.

Menjadi petani harusnya bisa sukses dengan tersedianya sumber daya alam yang melimpah. Tanah yang subur, air yang melimpah, kaya akan sinar matahari. Namun apalah artinya jika semua itu tidak diimbangi oleh pengaturan yang baik.

Baca juga: Tinggalkan cara kotor untuk meraih kemenangan hakiki

Petani bukan saja cukup bermodal tenaga dan lahan akan tetapi butuh penyuluhan, subsidi pupuk serta pendistribusian hasil panen. Begitu juga dengan harga, akan sulit bagi petani mendapatkan harga yang bagus jika kebijakan pasar tidak dikendalikan oleh negara.

Begitu juga nasib buruh pabrik yang harus berpasrah diri menerima upah yang murah. Kesejahteraan sebagai karyawan yang jarang didapatkan. Terlebih lagi setelah UU Ciptaker disahkan. Setiap ada kecurangan yang dilakukan pengusaha tidak bisa dituntut secara pidana.

Terlebih lagi setelah UU Ciptaker disahkan. Setiap ada kecurangan yang dilakukan pengusaha tidak bisa dituntut secara pidana.
Ilustrasi UU ciptaker, sumber: minews.com

Hal ini menjadi senjata bagi pengusaha untuk semena-mena karena merasa diatas angin. Buruh tidak ada pilihan, bertahan demi tetap mendapatkan penghidupan atau harus kehilangan pekerjaan.

Perlu Perubahan Sistem Yang Pundamental

Kemiskinan tidak hanya menyebabkan penderitaan, tapi membuat seseorang melakukan apapun guna memenuhi kebutuhannya.Sehingga terkikis nilai-nilai kemanusiaan seorang manusia. Akhirnya membuat manusia menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Menuhankan materi dan menafikan peran agama dalam kehidupan. Segala sesuatu tidak lagi menjadikan halal haram sebagai tolak ukur perbuatan.

Maka dari itu, butuh sebuah lompatan yang besar untuk sebuah perubahan. Tidak cukup hanya berganti rezim apalagi kebijakan. Buktinya sudah puluhan tahun kita merdeka, berada di negeri kaya raya. Namun tidak bisa merdeka dari semua kebutuhan hidup.

Harus ada perubahan yang sistemik pula agar bisa lepas dari kemiskinan. Perubahan yang saat ini dilakukan ibarat keluar dari labirin tanpa petunjuk arah. Berlari sekuat tenaga namun berkali-kali harus menemui jalan buntu.

Harus ada perubahan yang sistemik pula agar bisa lepas dari kemiskinan. Perubahan yang saat ini dilakukan ibarat keluar dari labirin tanpa petunjuk arah.
Ilustrasi labirin kemiskinan, sumber: merdeka.com

Sistem bernegara kita yang masih mengadopsi sistem kapitalisme liberal. Menjadikan kekuasaan sebagai kuda tunggangan bagi segelintir elit untuk mendapatkan keuntungan. Kekuasaan di tangan rakyat hanya dijadikan mantera demokrasi. Sejatinya rakyat hanya dijadikan sapi perahan dengan dalih pajak dan beragam pungutan. Kemiskinan sistemik tidak bisa dientaskan selama mata rantai penyebab kemiskinan tidak diputus.

Lalu untuk apalagi sistem bobrok ini dipertahankan?

Wallahu a’lam bishshawaab

Penulis: Merli Ummu Khila | Pemerhati Kebijakan Publik

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.