7 Desember 2022

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi (penghentian sementara) perdagangan saham emiten Group MNC PT MNC Studios International Tbk (MSIN). Laman cnbcindonesia.com pada 5/7/2021 menyampaikan bahwa suspensi ini dilakukan BEI seiring terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham tersebut akhir-akhir ini. Saham MSIN mengalami lonjakan luar biasa sejak Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2021 tentang KEK Lido ditandatangani Presiden.

Data BEI mencatat saham ini selalu berada di zona hijau selama 6 hari beruntun. Praktis, ini membuat saham MSIN menjadi pemuncak top gainers atau saham dengan kenaikan tertinggi dalam seminggu, yakni sebesar 92,38% ke Rp 404/saham. Boleh jadi kondisi ini sangat membahagiakan bagi kerajaan bisnis MNC namun disisi lain ada realitas yang tak banyak disampaikan pewarta yaitu mengenai mereka yang terdampak oleh KEK Lido ini.

Setidaknya terdapat 600 kepala keluarga (KK) yang terdri atas 1.300 jiwa terancam proyek pembangunan KEK Lido. Mereka adalah warga Kampung Ciletuh Hilir, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Sejumlah 600 bidang tanah seluas sekitar lima hektare masih belum dibebaskan. Sayangnya, proyek pembangunan KEK Lido sudah berjalan. Demikian pula RW 04 dan RW 08 (republika.co.id 15/3/2021).

Konflik antara warga dengan MNC telah berlangsung sekitar delapan tahun lalu. Klaim MNC soal kepemilikan tanah makam, bahkan sampai menyebabkan bentrok antara warga dengan aparat pada tahun 2019. Warga juga mengeluh banjir karena pendangkalan danau Lido, akses jalan yang ditutup dan perampasan hak garap petani.

Boleh jadi kondisi ini sangat membahagiakan bagi kerajaan bisnis MNC namun disisi lain ada realitas yang tak banyak disampaikan pewarta yaitu mengenai mereka yang terdampak oleh KEK Lido ini.
Ilustrasi konflik, sumber: saintif.com

Namun realitas ini diabaikan. Dalam pandangan penguasa, pembangunan KEK Lido justru akan menumbuhkan potensi ekonomi di Bumi Tegar Beriman. Mega proyek ini didapuk ampuh untuk mendukung program pembangunan karena akan merekrut 21 juta tenaga kerja.

Kemakmuran adalah romantisme yang sering dijajakan penguasa kepada rakyat ketika mereka merampas kebun-kebun milik warga beserta rumah tempat tinggalnya bahkan makam para leluhur atas nama investasi. Mereka abai dengan warga dan lingkungan yang terdampak. Hakikatnya konsep Kawasan Ekonomi Khusus mengorbankan kehidupan warga termasuk kelestarian alam demi menyuapi para pemodal.

Baca juga: Penjilat penguasa, penghianat bangsa dan agama

Menarik sekali jika kita membaca ulasan Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis investigasi pendiri Watchdoc. Pada tahun 2015 ia berkeliling Indonesia dengan sepeda motor selama 365 hari di bawah Ekspedisi Indonesia Biru. Kenyataan yang ditemukan Dandhy sungguh miris  tentang bagaimana pariwisata dibangun dari darah warganya.

Pada bulan April 2018, seorang warga Pulau Sumba bernama Poro Duka ditembak karena menolak pembangunan resort wisata. Poro Duka menghembuskan napas terakhir di tangan polisi yang mengawal proses pengukuran tanah. Ia tertembak di dada sementara beberapa warga lainnya tertembak di kaki.

Poro Duka menghembuskan napas terakhir di tangan polisi yang mengawal proses pengukuran tanah. Ia tertembak di dada sementara beberapa warga lainnya tertembak di kaki.
Ilustrasi tertembak, sumber: news.detik.com

Para petani Temon di Kulonprogo di gusur paksa untuk pembangunan bandara baru dalam rangka menjual Borobudur dan Jogya sebagai destinasi prioritas nasional. Dalam kasus yang lain Labuan Bajo dijual lebih dari dua dekade dan telah mendatangkan begitu banyak kekayaan bagi para investor dan pelaku industri, mirisnya Kabupaten Manggarai Barat sendiri tetap setia pada statusnya sebagai “Daerah Tertinggal”. Sementara air bersih dan jernih lancar jaya mengalir ke kamar-kamar hotel dan kolam renang, namuntidak ke rumah-rumah warga.

Dandhy juga menambahkan catatannya tentang betapa mulusnya runway bandara-bandara di destinasi wisata, tapi tidak di jalan sekitarnya atau yang tidak masuk area keluar masuk turis. Kehidupan rakyat dan destinasi wisata bagai dua sisi yang bertolak belakang.

Pada salah satu sisi pulau Cibudak misalnya di Kabupaten Pesisir Selatan, jarak antara industri wisata dan kehidupan warga mewujud dalam bentuk batas-batas eksklusif. Adalah hal yang biasa jika kita mendapati dimana sebuah resort melarang akses masyarakat umum.

 Bukan sekali dua kali pemberitaan tentang pengusiran penduduk lokal dari destinasi wisata, terkadang oleh orang asing pula, investor yang mengelola destinasi wisata. Terdapat film dokumenter tentang seorang penerima Kalpataru bernama Darpius, yang harus meminta izin dan akhirnya diusir dari sebuah resort wisata di kampung halamannya sendiri.

Baca juga: Cara menulis artikel yang powefull

Padahal ia ikut menanam terumbu karang di Perairan Mandeh, sehingga resort itu ikut menikmati biodiversity yang mengundang para tamu-tamu asingnya. Privatisasi ruang-ruang publik untuk wisata kadung dianggap biasa.Anehnya para pengusaha dan penguasa kerap menyanyikan berulang-ulang tentang multiplier effect dari pariwisata.

Bait yang paling sering diputar adalah tentang mengurangi pengangguran. Pada akhirnya realitas antara destinasi wisata dan warga seperti dua dunia yang terputus. Warga memahat perih di hatinya dan menyimpan kisah pahit untuk generasi yang akan lahir berikutnya.

Pada akhirnya realitas antara destinasi wisata dan warga seperti dua dunia yang terputus. Warga memahat perih di hatinya dan menyimpan kisah pahit untuk generasi yang akan lahir berikutnya.
Ilustrasi sedih, sumber: guideku.com

Demikian gambaran watak egois kapitalisme. Keuntungan bisa diperoleh dengan cara apapun meski harus mengorbankan hajat hidup orang banyak. Kesenangan dan keindahan hanya bisa dinikmati oleh kalangan berduit, rakyat silahkan minggir. Singkatnya kemewahan yang ditawarkan oleh destinasi wisata hanya bisa dinikmati segelintir warga baik infrastruktur yang canggih maupun hiburan standar internasional.

Tentu kita belum lupa dengan jeritan pelaku wisata di Bali akibat jaringan wisata mafia China. Dengan modus menekan bea perjalanan, paket wisata turis China ke Bali selama 5 hari hanya berkisar Rp 2 juta saja. Cara kerja mereka sistematis, mulai dari penerbangan, penginapan, restoran hingga suvenir berada dalam satu rantai lingkaran, semua dibelanjakan dalam mata uang China dan keuntungannya kembali ke China. Jumlah kerugian Bali ditaksir Rp 5 triliun per tahunnya.

Destinasi wisata bukanlah berkah yang jatuh dari langit, namun realitasnya menjadi musibah disatu sisi bagi masyarakat lokal dan juga lingkungan. Saya kembali mengambil Bali sebagai sample karena Bali telah purna sebagai destinasi wisata dunia. Telah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat Bali, dimana seks bebas merebak di kalangan warga lokal dikarenakan terpengaruh oleh gaya hidup bebas pelancong.

Selain itu, oleh karena tuntutan selera pelancong Bali harus mengkomodifikasi budaya lokalnya dengan nuansa yang lebih modern. Hiruk pikuk pariwisata juga berimbas pada polusi, kebisingan dan kemacetan sampai merusak terumbu karang. Belum lagi masalah konsumsi air berlebihan. Konsumsi air satu orang turis di Bali setara dengan konsumsi 100 orang di pedesaan (marketeers.com 7/3/2018).

Hiruk pikuk pariwisata juga berimbas pada polusi, kebisingan dan kemacetan sampai merusak terumbu karang. Belum lagi masalah konsumsi air berlebihan. Konsumsi air satu orang turis di Bali setara dengan konsumsi 100 orang di pedesaan.
Ilustrasi konsumsi air, sumber: gaya.tempo.com

Namun ada permasalahan yang lebih kompleks dari semua itu yaitu munculnya masalah politik dan ekonomi.  Sentra wisata Bali ada di Bali Selatan, mencakup Ubud, Sanur, Kuta, Seminyak dan Nusa Dua. Tentu pembangunan di wilayah selatan lebih massif daripada Bali bagian utara yang tidak seramai Bali selatan. Hal ini menyebabkan kesenjangan antar daerah.

Eits tunggu dulu, apakah dampak kapitalisasi pariwisata hanya terjadi di Indonesia? Tentu saja tidak. Sikap anti-turisme menjangkiti Spanyol karena kebijakan pemerintahnya memunculkan perasaan terasing warga lokal dan rusaknya lingkungan . Dimulai dari Venice dan Barcelona, gerakan ini menjalari Mallorca, San Sebastian, juga Venesia di Italia.

Grafiti itu ada di tembok-tembok kota Barcelona. Bukan pemujaan terhadap Lionel Messi atau hujatan pada Neymar yang memilih hengkang ke klub Paris Saint Germain kala itu, melainkan seruan perlawanan pada pariwisata, salah satu sektor yang menjadi penggerak utama kota itu. “Hentikan roda kapitalisme!” “Lindungi lingkungan ini dari pariwisata!”

Pariwisata menggerakkan roda ekonomi kota, tapi perlahan membunuhnya. Pemodal memanen untung warga gigit jari menahan buntung. Dimana penguasa? Oh, mereka sedang berpesta. Masih ikhlas ditumbalkan kapitalisme?

Penulis: Aisyah Karim | Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Editor: Fadli

1 thought on “KEK Lido, Romantisme Kemakmuran

  1. Maasyaallah..benar2 tulisan yg membuat kita makin melek. Bahwa kapitalisme mustahil mensejahterakan rakyat

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: