6 Desember 2022

Orang-orang yang dungu yang hanya berfikir untuk dirinya sendiri akan suka menjilat penguasa. Berfikir jangka pendek yang hanya untuk dunia tapi lupa akhirat, itulah para Buzzer Istana. Suka mengadu domba anak bangsa dan membuat gaduh tapi tidak memberikan solusi apa-apa. Digaji dari uang rakyat, tapi tidak membawa kebaikan untuk rakyat. Penjilat penguasa mendekat pada rezim yang sedang berkuasa, idealisme hanya untuk siapa saja yang berani bayar mahal, bukan kebenaran yang dipegang erat untuk diperjuangkan.

Penjilat penguasa sungguh menjijikan bagaikan pemakan bangkai saudaranya sendiri.  Tidak perduli apakah satu kebijakan dzolim, penjilat penguasa pasti mendukungnya karena itulah tugasnya agar tetap mendapatkan cipratan nikmat kekuasaan yang semu dan menipu. Mereka mengedepankan prasangka dan menyerang siapa saja yang tidak sepakat dengan penguasa rezim.

Mencari-cari kesalahan dan menggorengnya untuk mempermalukan dan menjatuhkan lawan dengan membunuh karakter siapa saja yang dianggap musuh dan dibenci oleh penguasa rezim. Orang seperti ini digambarkan dalam  surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Penjilat penguasa hanya membawa masalah tapi tidak menyelesaikan masalah. Sungguh, menjijikan karena mereka hanya menjadi beban negara. Gaji tinggi dari rakyat tapi tidak membela rakyat. Tega melihat rakyat  diperlakukan tidak adil. Merasa senang saat melihat rakyat sengsara.

Penjilat penguasa sungguh menjijikan bagaikan pemakan bangkai saudaranya sendiri.
Ilustrasi penjilat penguasa, sumber: kuansingterkini.com

Walaupun bergelimang harta, tapi hidup mereka tidak berkah di dunia terlebih di akhirat nanti, adzab pedih menanti mereka para penjilat kekuasaan. Tapi sayang banyak mereka tidak percaya akhirat dan hal gaib lainnya. Mereka hanya percaya apa yang mereka lihat dan rasakan di dunia. Apa yang membuat dia senang dan memuaskan nafsunya itulah yang mereka puja.

Penjilat penguasa di setiap zaman selalu ada. Mereka tercatat sebagai orang yang mencari aman dan keuntungan di dunia tapi tidak berfikir tentang pengadilan akhirat nanti. Di dunia mereka bebas melakukan apa saja karena hukum sudah menjadi alat penguasa dalam sistem demokrasi. Meskipun, ketidak adilan nampak didepan mata, dan dunia internasional mengutuknya tapi mereka tidak perduli, yang penting mereka aman karena menjadi penjilat kekuasaan.

Mereka tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang buruk seperti Sengkuni atau orang Yahudi yang culas, licik dan penuh kebencian yang menyebarkan keburukan dengan memfitnah dan memutarbalikkan fakta. Mengaku sebagai orang baik-baik, tapi perkataan yang keluar dari mulutnya dan perbuatannya tidak menunjukkan sebagai orang yang baik. Mengaku beragama tapi ternyata tidak, mengaku Muslim tapi malah memusuhi dan membenci Ulama’. Bahkan, sering keluar kata-kata yang menistakan ajaran Islam yang lurus dan mulia.

Baca juga: Esensi dari berdirinya kesultanan Bima

Bahkan mereka  bermunculan dengan mengaku sebagai ulama’, namun gila jabatan dan kekayaan sehingga menggunakan dalil Islam tapi menyesatkan. Mengajak umat Islam untuk membenci Islam yang lurus dengan hujah yang salah. Diawali dengan membenci orang Arab, sehingga muncullah Islam dengan saling menonjolkan dan bangga dengan budaya lokal dan mengecilkan ajaran Islam yang dianggap sebagai budaya arab.

Sungguh, mereka para penjilat penguasa terlalu cinta dunia, tapi lupa akhirat. Keyakinan mereka tentang akhirat mulai memudar bahkan sudah mulai luntur sehingga menganggap akhirat dan hal gaib lainnya yang dikabarkan oleh Allah SWT. Yang Maha Benar, dianggap sebagai ramalan. Jika mereka benar-benar yakin terhadap kehidupan akhirat yang kekal untuk selama-lamanya, tidak mungkin kemudian menggadaikan dan menukarnya dengan nikmat kehidupan dunia yang sementara, semu dan menipu.

Jika mereka benar-benar yakin terhadap kehidupan akhirat yang kekal untuk selama-lamanya, tidak mungkin kemudian menggadaikan dan menukarnya dengan nikmat kehidupan dunia yang sementara, semu dan menipu.
Ilustrasi dunia yang semu, sumber: islampos.com

Ketahuilah bahwa sungguh kekuasaan akan cenderung untuk berlaku dzalim ditangan orang-orang yang tingkat keimanannya rendah, oleh karena Itu kita bersama-sama harus mengawasi bukan karena benci tapi karena cinta yang tidak menginginkan para pemimpin negeri ini tergelincir pada kedzaliman yang nyata. Bukankah afdhohul jihad adalah mengatakan kalimat haq pada penguasa, bukan menjadi penjilat yang semakin menjerumuskan mereka pada kedzaliman yang nyata. 

Al-Hafidz at-Turmudzi dalam Kitab Jami’ nya meriwayatkan, Bahwa Rasulullah bersabda, “Jihad yang paling Afdhol adalah menyampaikan kalimat keadilan di hadapan penguasa yang dzalim.” Sebagai seorang umat Islam kita tidak boleh diam, menutup mata dan telinga atas fakta yang ada disekitar kita.

Baca juga: Vonis HRS vs jaksa pinangki: pseudo keadilan demokrasi

Ibarat tinggal diatas kapal besar kehidupan dengan membiarkan kedzaliman dan kemaksiatan terjadi didepan sama halnya kita menghalalkan adzab Allah yang berupa bencana alam atau wabah terjadi yang tidak hanya menimpa pelaku maksiat atau para penguasa dzalim tapi juga orang-orang baik yang diam atas kedzaliman dan kemaksiatan yang mereka lihat.

Penulis: Mochamad Efendi

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.