7 Desember 2022

Hidup segan mati tak mau, tampaknya itulah ungkapan yang mampu menggambarkan kondisi rakyat Indonesia kini. Bagaimana tidak, keadaan rakyat Indonesia hingga kini masih terombang-ambing dalam kubangan wabah pandemi, virus Corona yang  semakin membabi buta, menyasar setiap jiwa, mencekik dan menerkam tanpa rasa iba.

Dilansir oleh CNBC Indonesia, 26/6/2021, pemerintah akhirnya terbuka dan mengakui bahwa saat ini Indonesia sudah masuk ke dalam tsunami Covid-19 gelombang kedua. Melalui Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, pemerintah menyatakan, gelombang kedua Covid-19 di Indonesia tak terelakkan. Hal ini berkaca pada peningkatan pesat kasus dalam beberapa hari terakhir. Karena itu, Moeldoko menekankan pentingnya peran masyarakat menjaga protokol kesehatan.

Sebelum Moeldoko, Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Pandu Riono telah lebih dulu mengatakan bahwa saat ini Indonesia tengah masuk  gelombang kedua Covid-19 dan bersiap mencapai puncaknya. Pandu memprediksi, kenaikan kasus Covid-19 di gelombang kedua ini akan lebih tinggi dari akhir Januari 2021 lalu.

Menurut Pandu, hal ini lantaran kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan mengalami kemerosotan imbas dari penurunan sosialisasi pemerintah. Ditambah lagi sekarang Indonesia dihadapkan pada kemunculan varian mutasi virus SARS-Cov-2 yang sudah teridentifikasi di beberapa provinsi yang ada di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 13 Juni 2021, dan hasil Whole Genome Sequence (WGS) secara berkala, setidaknya sudah tercatat ada 145 kasus mutasi virus SARS-Cov-2 yang tergolong variant of Concern (VOC) yang berhasil teridentifikasi di Indonesia. Di antara sejumlah varian itu ada yang dinilai memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan epidemiologis, juga mampu menurunkan efektivitas vaksin.

Wabah pandemi masih merebak, beberapa vaksin dari belahan dunia pun  bermunculan. Namun demikian efektifitasnya masih belum bisa dipastikan seratus persen.
Ilustrasi vaksin, sumber: news.detik.com

Sementara itu, hingga kini diketahui penambahan kasus harian di Indonesia terus mengalami peningkatan. Secara kumulatif Pemerintah mencatat 1.989.909 orang positif terinfeksi virus Corona. Sebanyak 1.792.528 dinyatakan pulih, 142.719 menjalani perawatan, dan 54.662 meninggal dunia. (CNN.Indonesia, 21/6/2021)

Menyaksikan fakta di atas, situasi wabah yang makin tak terkendali menunjukkan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalistik sudah kolaps. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang sering dijadikan dalih sejatinya membuktikan ketidakmampuan negara dan penguasa dalam meriayah (mengurusi) rakyat, sekaligus menunjukkan hilangnya wibawa kepemimpinan mereka di atas rakyat.

Sedari awal, negara dan penguasa memang telah salah langkah dalam menyikapi dan menangani wabah. Pertimbangan ekonomi yang menjadikan pemerintah dan negara kerap plin-plan  menerapkan kebijakan dalam penanganan pandemi, nyatanya membuat wabah Corona semakin menggila bahkan mengalami gelombang kedua.

Sejatinya, untuk menyelesaikan masalah Corona maka dibutuhkan kerjasama antara individu, masyarakat, pemerintah hingga negara. Setiap individu dan masyarakat harus tunduk pada protokol kesehatan, sementara pemerintah dan negara mesti bergerak cepat melakukan segala cara demi percepatan penanganan wabah pandemi. Seperti dengan menerapkan lockdown, juga membangun sistem kesehatan yang kuat, didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Baca juga: Kepingan puzzle covid, prokes dan krisis legitimasi

Pemerintah dan negara juga wajib berada di garda terdepan mengatasi situasi sulit ini. Pasalnya, pemerintah beserta negaralah yang mempunyai kekuatan dan otoritas untuk mengeluarkan kebijakan serta mencari solusi terbaik bagi rakyat di tengah wabah. Namun sungguh ironis, fakta hari ini tidaklah demikian. Sejak kehadiran wabah Corona, pemerintah dan negara terlihat tidak serius dalam menangani wabah. Semua ini terlihat dari keengganan pemerintah menerapkan lockdown (karantina wilayah) dan membatasi pergerakan masyarakat secara ketat.

Adanya gelombang kedua Covid-19 sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme-sekuler yang diemban negeri ini. Keuntungan materi yang menjadi landasan sistem ini, menjadikan sistem kapitalisme-sekuler tidak pernah mampu menyelesaikan persoalan secara mendasar. Tersebab itulah, penanganan wabah pandemi hingga kini tak kunjung ada habisnya. Bukannya tuntas, malah kian parah.

Untuk mensolusikan situasi tak terkendali hari ini, butuh ada perubahan sistemis dan mendasar. Dimulai dari perubahan sistem kapitalisme ke Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat. Hal ini  karena sebagai agama paripurna Islam memiliki asas yang kokoh. Dimana terpancar darinya seperangkat aturan mengenai kehidupan. Islam beserta aturannya telah teruji kemampuannya mengatasi seluruh problematika kehidupan. Termasuk mengatasi wabah mematikan.

Sejarah menunjukkan, hampir 14 abad lamanya penguasa Islam (khalifah) dan negara Islam (khilafah) mampu berdiri di garda terdepan dan selalu ada bagi rakyatnya dalam segala kondisi termasuk saat wabah pandemi. Penguasa dan negara Islam akan berupaya maksimal secara menyeluruh memutus mata rantai penyebaran wabah pandemi agar tidak terus memakan korban jiwa apalagi mengalami gelombang kedua.

Dalam catatan sejarah islam dengan sistem khilafahnya mampu mengatasi wabah pandemi yang terjadi dengan penanganan yang cepat dan tepat.
Ilustrasi sejarah khilafah islam, sumber: kozio.com

Negara khilafah pun akan memberikan bantuan kepada seluruh warga yang terdampak wabah secara merata, mendirikan posko-posko kesehatan yang didukung sarana dan prasarana memadai, serta mengerahkan seluruh lembaga riset agar secepatnya menemukan vaksin dan obat-obatan anti virus yang teruji klinis secara teknologi, sehingga wabah segera teratasi.

Seorang pemimpin yang bervisi Islam, akan menjadikan keimanannya sebagai landasan dalam memutuskan kebijakan. Itulah sebabnya, pemimpin Islam akan mengurusi dan memberikan pengamanan kepada umat dengan sungguh-sungguh. Sekalipun harus kehilangan materi. Yang demikian karena pemimpin Islam tahu betul bahwa kepemimpinannya adalah amanah besar dan akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir kelak.

Dalam Islam, penanganan wabah akan dilakukan langsung ke pangkal pokoknya, sehingga meminimalisir munculnya masalah baru sebagaimana dalam aturan kapitalisme-sekuler. Hal ini karena dalam menangani wabah konsep Islam mengharuskan pembatasan wilayah di daerah asalnya (lockdown syar’i).

Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kalian berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Imam Muslim)

Konsep lockdown yang syar’i ini tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa atau kedaerahan. Sehingga, konsep lockdown syar’i inimerupakan kunci keberhasilan pemutusan rantai wabah. Hal ini sebagaimana wabah amwas yang terjadi  pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H. Melalui penerapan lockdown syar’i hanya butuh waktu delapan bulan untuk menyelesaikan wabah. Ini membuktikan bahwa dengan konsep ini wabah tidak akan menyebar ke daerah lain dan celah wabah pandemi mengalami gelombang kedua pun akan tertutup rapat.

Demikianlah penjelasan tentang betapa sempurnanya Islam dalam mengurusi umat. Dari sini, maka tak dapat diragukan lagi bahwa hanya Islamlah satu-satunya sistem yang mampu memberikan solusi mendasar atas seluruh masalah kehidupan. Penerapan syariat Islam secara kafah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan dapat dipastikan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sedangkan penerapan sistem kapitalisme-sekuler hanyalah akan menimbulkan kesengsaraan.

Karenanya, sudah sepantasnya kita kembali kepada Islam beserta aturannya dan menerapkannya secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan serta mencampakkan sistem kapitalisme-sekuler biang segala kerusakan.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Penulis: Reni Rosmawati | Ibu Rumahtangga, Pegiat Literasi AMK

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.