7 Desember 2022

Kekuasaan menjadi tujuan sehingga kudeta politik dilakukan, sungguh kotor dan menjijikkan. Politik dalam sistem demokrasi menggunakan segala cara untuk meraih kekuasaan. Cara elegant ditinggalkan karena hasrat untuk berkuasa begitu kuat. Drama perebutan kekuasaan dengan cara kudeta Politik dipertunjukkan secara vulgar tanpa rasa malu. 

“Langkah Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengambil alih kepemimpin Partai Demokrat dinilai sebagai suatu kebodohan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago. Menurut Pangi, langkah ini malah memperburuk citra Moeldoko sendiri.” (https://m.republika.co.id/berita/qpn2cn409/kudeta-demokrat-dinilai-aksi-bunuh-diri-politik-moeldoko ).

Terlalu berambisi membuat seseorang lupa diri sehingga tidak berfikir jangka panjang dengan mempertaruhkan citra dirinya. Berakhir dengan kehinaan karena cara yang tidak beretika membuat banyak orang tidak simpati. Tujuan politikpun jauh dari harapan karena tujuan untuk mendapat dukungan menurun karena cara kotor dan menjijikkan dilakukan untuk kursi kekuasaan.

Padahal dukungan publik sangat dibutuhkan untuk perebutan kursi kekuasaan. Mimpi menjadi orang nomor satu jauh dari harapan karena kurang bisa menahan diri dengan memainkan rasa untuk mendapatkan simpati dari rakyat.

Itulah demokrasi menghalalkan segala cara asalkan tujuan bisa tercapai. Apapun yang dilakukan semua hanya untuk kekuasaan dalam sistem demokrasi. Perlahan tapi pasti pencitraan akan ketahuan. Janji manis yang ditebar ternyata hanya cara untuk menarik hati rakyat agar tergoda untuk memberi dukungannya.

Wajah lugu dan merakyat serta cara blusukan dilakukan agar rakyat simpati dan mau memberikan suaranya untuk menjadi orang nomor satu di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Kedekatan dengan rakyat bukan ditunjukkan dengan blusukan tapi kebijakan yang membela dan melindungi mereka.

Wajah merakyat tapi tega berbuat dzalim pada rakyat. Dengan dalih investasi, kekayaan negeri yang bak penggalan tanah surga, diserahkan ke asing, sementara rakyat menjadi buruh di negeri sendiri. Rakyat butuh pemimpin yang mampu mengayomi dan berpihak pada rakyatnya dalam setiap kebijakan yang diambil bukan pencitraan yang menipu.

Sangat berbeda dengan sistem Islam, mengurusi rakyat dijadikan tujuan. Kekuasaan hanyalah cara agar bisa lebih mudah untuk mencapai tujuan. Jadi hanya cara yang benar dan halal saja yang diperbolehkan untuk mencapai tujuan. Dengan kekuasaan juga akan lebih mudah untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan. Rakyat merasa aman dan tentram karena keadilan dan kesejahteraan hak semua orang.

Kudeta bukan jalan yang benar. Rakyat yang menginginkan perubahan dengan Islam bukan segelitir orang yang bernafsu untuk berkuasa yang akan melakukan kudeta Politik. Dan ini bukan pertama kali kudeta terjadi di negeri ini, saling rebut kekuasaan dengan cara-cara kotor. Tapi sayang kata kudeta sering dituduhkan pada kelompok Islam yang menginginkan perubahan. Padahal, mereka yang berkuasalah atau yang ingin merebut kekuasaan dalam sistem demokrasi yang terbukti melakukan kudeta, satu tindakan tidak bermoral yang menyulut konflik dan pertengkaran.

Bukankah mereka yang berambisi untuk berkuasa dengan cara curang termasuk kudeta Politik yang sudah menyulut tindak kekerasan. Berpolitik dengan cara demokrasi hanya menciptakan kelompok-kelompok radikal bukan Islam yang hanya menggunakan cara halal dan elegant. Jadi kelompok radikal bukan kelompok Islam tapi mereka yang berambisi untuk berkuasa dengan cara-cara tidak benar. Sementara kelompok  Islam yang menginginkan perubahan lebih baik dengan Islam, tidak menggunakan cara kekerasan tapi sering dituduh radikal.

Islamophobia membuat mereka ketakutan bahkan sekalipun hanya untuk diajak berfikir dengan Islam. Mereka takut akan tercerahkan dan akhirnya memilih kebenaran hakiki yang menentramkan hati dan memuaskan akal yang bersumber dari ajaran Islam. Mereka menutup diri dari Islam dan menjadikan demokrasi sebagai harga mati. Padahal jelas demokrasi sumber masalah yang menganggap politik Itu kotor, dengan menghalalkan segala cara, curang, money politik dan juga kudeta dianggap biasa selama tujuan tercapai.

Sudah saatnya tinggalkan demokrasi dan menggantinya dengan sistem Khilafah yang jelas berasal dari Islam dan terbukti dalam sejarah sebagai sistem terbaik sepanjang zaman. Rakyat hidup aman dan sejahtera, karena pemimpin amanah dalam tugasnya sehingga malu untuk berbuat dzalim pada rakyatnya. Korupsi adalah perbuatan hina, tapi dalam sistem demokrasi adalah biasa dan sebagai cara mudah untuk memperkaya diri. Cara-cara kotor dan menjijikkan harus ditinggalkan dan beralih ke cara Islami.

Saatnya tinggalkan demokrasi yang terbukti menghalalkan segala cara untuk kekuasaan meskipun mengorbankan harga diri dan rakyat sendiri dengan menggunakan cara kotor dan menjijikkan. Manuver kotor kudeta politik yang tidak bisa dilepaskan dari nafas demokrasi sebagai cara untuk meraih tujuan politik yakni kekuasaan tidak layak untuk digunakan dalam sistem kehidupan manusia yang beradab.

Penulis: Mochamad Efendi

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.