6 Desember 2022

Pemerintah Turki, Selasa (8/10/2013), mencabut larangan perempuan mengenakan jilbab di fasilitas publik sebagai bagian dari reformasi yang dilakukan pemerintahan Turki yang berhaluan Islam.

Langkah itu disebut PM Recep Tayyip Erdogan, yang istrinya mengenakan jilbab, sebagai langkah awal menuju normalisasi.

“Kami kini mencabut aturan kuno yang bertentangan dengan semangat republik. Ini adalah langkah menuju normalisasi,” kata Erdogan dalam pidatonya di parlemen.

“Masa-masa kekelaman sudah berakhir. Para perempuan yang mengenakan jilbab adalah warga republik seperti halnya mereka yang tak mengenakan jilbab,” tambah Erdogan.

Para pegawai negeri perempuan kini diperkenankan mengenakan jilbab dan pegawai pria boleh memelihara janggut, dua hal yang menjadi simbol Islam yang dilarang oleh presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Attaturk.

Namun, aturan tak boleh mengenakan jilbab tetap berlaku untuk para hakim, jaksa, polisi, dan personel militer.

Pekan lalu, Erdogan yang dikritik akan melakukan Islamisasi Turki, mengungkapkan sebuah paket reformasi demokrasi dan menggunakan kesempatan itu untuk mencabut larangan penggunaan jilbab untuk menjaga sekularisme Turki.

Sejak berkuasa pada 2002, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) tempat Erdogan bernaung sudah berjanji akan mencabut larangan pemakaian jilbab di semua kawasan publik. Saat ini, larangan memakai jilbab di universitas negeri sudah dicabut.

Tidak heran jika di sistem kapitalis ini semua serba bebas dan hanya mementingkan keuntungan dan hanya membuat rakyatnya dalam naungan ketidakamanan.

Jilbab seharusnya dan sudah menjadi kewajiban bagi seluruh wanita muslim tanpa memandang profesi dan gaya hidupnya, sebagai tanda bahwa wanita tersebut seorang Muslim.

Namun, sekarang kita berada disistem dimana wanita tak lagi semulia dizaman naungan khilafah.

Jilbab adalah pakaian dan benteng keamanan wanita pada saat keluar rumah.

Sistem Kapitalis ini tidak akan memungkinkan ummat untuk bisa menjalankan segala syariat termasuk jilbab ini yang sering dilarang dibeberapa negara minoritas Islam. Beda dan sangat jauh dari aturan islam.

Islam sangat memuliakan seorang wanita dari jilbabnya, maka dari itu wanita haruslah tertutup bak intan berlian nan mahal. Islam selalu menjaga aurat wanita sampai ujung kakinya pun terjaga dari mata laki-laki ajnabi (bukan mahrom).

Di dalam negara khilafah, wanita sangat dijaga, bahkan sangat ketat  penjagaan aurat wanita dalam daulah islam.

Sungguh hanya islam lah yang mampu menjaga wanita dari berbagai profesi dan tidak memandang kasta.

Penulis: Dahliyan syaharani

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.