7 Desember 2022

Setiap tanggal 8 Maret seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day).  Momentum yang biasanya yang digunakan kalangan para pegiat kesetaraan gender untuk mengavaluasi capaian perjuangan mewujudkan keinginan mereka. Bahkan, biasanya setiap tahun mereka memiliki catatan tahunan tentang persoalan wanita yang belum mendapatkan keadilan secara paripurna atau mendapatkan hak yang sama dengan para kaum pria yaitu mereka menginginkan kesetaraan (equality).

Tahun ini, tema yang diusung Hari Perempuan Internasional tahun 2021 adalah ‘Choose to Challenge’ atau ‘Memilih untuk Menantang’. Tema tersebut bermakna sebagai seruan kepada semua pihak untuk menantang dan menyerukan tentang bias dan ketidaksetaraan gender, serta merayakan pencapaian perempuan. Mereka kampanye diseluruh dunia tentang bagaimana menolak bias-bias gender.

Tiap tahunnya menjadi momentum refleksi khusus bagi aktivis dan kelompok penggiat isu keperempuanan. Setiap kalangan ikut andil dalam aliansi perempuan dari berbagai organisasi dibelahan dunia. Hari Perempuan Internasional juga dirayakan sebagai kampanye untuk mempercepat tercapainya kesetaraan gender yang sejak lama mereka dambakan.

Wacana barat adalah mewujudkan planet 50:50. Yaitu kesetaraan yang paripurna pada semua bidang dalam kehidupan. Barat mengiming-imingi bahwa semuanya akan berjalan dengan baik apabila semua mendapatkan peran yang sama tanpa memandang gender karena pada hakikatnya semua orang memiliki hak yang sama tanpa perlu lagi memeperhatikan adanya perbedaan.

Salah satu ranah yang sering dipropagandakan ialah tentang kesetaraan wanita dalam ranah publik. Para kaum wanita dipaksa dan terpaksa mengadopsi peran laki-laki sebagaimana sistem hari ini inginkan. Pengistimewaan posisi perempuan dalam dunia kerja tak jarang turut memelihara mental ketidakpedulian laki-laki terhadap tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

IWD melihat sejumlah rencana untuk membantu mewujudkan dunia yang setara gender. Merayakan pencapaian wanita dan meningkatkan visibilitas, sambil menyerukan ketidaksetaraan, adalah kuncinya.

Permasalahan yang berkaitan dengan perempuan, baik itu KDRT, pelecehan seksual dan diskriminasi  sebenarnya bukan masalah yang terpisah dan menjadi problem bagi perempuan saja. Sebab yang menjadi akar masalah tidak terlindunginya hak-hak perempuan adalah aturan yang tidak tepat dan pandangan yang salah tentang interaksi laki-laki dan perempuan.

Mereka mengeploitasi semua potensi perempuan demi mendokrak pertimbuhan pada segala sektor terutama ekonomi korporasi. Padahal sudah Nampak, kampanye kesetaraan gender yang eksis hanya hegemoni para kaum kapitalis yang tak akan pernah mampu membuat suatu negara mencapai kesetaraan gender dengan cara dan jalan apapun yang ditempuh.

Pengakuan yang tak pernah terucap oleh kaum pengusung kesetaraan gender ini menjadi pembuktian bahwa ide gender adalah ide absur yang harus segera dibuang dan dihilangkan dalam pandangan umat. Gender yang dipropagandakan hanyalah mantra sihir yang menyuburkan mimpi-mimpi perempuan untuk meraih kebahagiaan yang semu. Semua parameter yang digunakan hanya bernilai materialistis.    

Kaum barat menciptakan ukuran untuk menilai sebagaimana keseriusan setiap negara menderaskan opini terkait dengan kesetaraan gender demi memenuhi target pembangunan sebuah negara. Keseriusan mereka terlihat dengan seberapa besar manfaat yang akan diberikan para pengusung gender pada kaum korporasi.

Dunia gagal dalam menyelesaikan masalah ini akibat dari sistem sekuler yang mereka terapkan.  Bentuk kegagalan sistem hari ini sudah menyebar diseluruh tubuh umat muslim, yang tak kunjung membenah diri.

Fenomena kerusakan yang dirasakan diseluruh penjuru dunia. Bagaimanapun, sistem hari ini adalah sistem destruktif hingga mampu menghancurkan tatanan masyarakat.untuk menghentikan destruksinya. Butuh solusi struktural bukan individual ataupun komunal. Dunia butuh khilafah. Negara yang memiliki wibawa untuk menolak ketundukan pada undang-undang kufur yang telah lama menyerang tubuh umat diseluruh penjuru negara dan yang memiliki kemandirian hokum islam secara menyeluruh (kaffah).

Sesungguhnya hanya islam yang menjamin kesejahteraan perempuan. Allah SWT. Telah menetapkan aturan-aturan dalam islam yang memuliakan dan juga melindungi perempuan, serta memberikan hak-hak kepada perempuan dalam mengarungi kehidupan. Islam menetapkan kemuliaan manusia hanya dari ketakwaannya kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam surah Al-Hujurat:13.

Di sisi lain, islam juga membolehkan perempuan bekerja untuk mengamalkan ilmunya dan berkiprah untuk sesamanya. Islam mengharamkan perempuan untuk menjadi penguasa, namun tidak  merendahkannya. Islam membolehkan perempuan berkiprah dalam berbagai bidang di luar kekuasaan.

Semua itu hanya hanya akan terwujud jika islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Tegaknya khilafah islamiyah akan menjadi sarana untuk melangsungkan kembali kehidupan islam dalam menyejahterakan umat manusia dan hanya khilafah yang mampu melaksanakan semua ketentuan Allah sekaligus menjamin keberkahan kehidupan (Qs. Thaha:123).

Wallahu A’lam Bish-Shawab

Penulis: Fataya Widi

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.