6 Desember 2022

Pada bulan Rajab, tepatnya 27 Rajab, kita diingatkan kembali dengan peristiwa penting yang sangat luar biasa dalam sejarah umat islam. Ketika Rasulullah SAW diperjalankan Allah SWT dalam satu malam dari masjidil haram di Makkah menuju masjidil Aqsha di Palestina, hingga dinaikkan ke langit mencapai Sidratul Muntaha. Bukan hanya itu, tepat 27 Rajab 583 H terjadi pembebasan masjid Al Aqsha oleh panglima perang Salahuddin Al Ayyubi.

Pasukan kaum muslim saat itu telah berhasil membuktikan kecintaannya kepada Allah dan umat Rasulullah dengan upaya mereka mengusir penjajah salibis dari negeri islam yang mulia itu hingga Al Aqsha kembali lagi ke tangan kaum muslim. Namun, bukan hanya sejarah yang luar biasa. Tepat di bulan rajab, terukir sebuah sejarah kelam dalam peradaban kaum muslim. Yakni runtuhnya daulah islamiyah pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924) oleh seorang pengkhianat Kamal At Taturk la’natullah ‘alaih yang bekerja sama dengan penjajah inggris saat itu. Sejak saat itulah, kisah kelam kaum muslim dimulai.

Kaum muslim mulai terpecah belah, tertindas, kekayaan negeri muslim dirampok, terjajah, terombang ambing, diliputi kebingunan dan tanpa tumpuan, bagai anak ayam kehilangan induknya. Sejak saat Negara khilafah runtuh, negara islam yang menjadi negara adidaya dunia yang menjadi pelindung umat, disegani kawan, ditakuti lawan dan kokoh menjaga kehormatan dan kemuliaan umat sudah tidak ada lagi.

Kini Rajab akan berlalu, tergantikan dengan terbitnya fajar Sya’ban. Begitulah waktu terus bergulir, dari masa ke masa hingga saat ini menuju seabad umat islam hidup dalam keterpurukan dan kegelapan penerapan sistem kufur. Bulan Rajab tahun ini, kembali kita lalui masih dengan kondisi yang sama, kian terpuruk, dibantai, dibombardir,  dihinakan, dijajah dalam bentuk fisik maupun pemikiran.

Oleh karena itu, dengan berlalunya Rajab seharusnya semakin meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya perjuangan mengembalikkan islam dalam bingkai sebuah negara, yang akan mewujudkan cita-cita umat, hidup dalam kemuliaan.

Tak ada lagi pembantaian kaum muslim, tak ada lagi tanah-tanah negeri muslim yang terjajah, tak ada lagi kepimpinan yang dzolim, semua kembali pada naungan syariat-Nya yang membawa kegemilangan dan cahaya kemuliaan untuk umat. Sebagaimana terterapkannya aturan islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, layaknya kurang lebih 1300 tahun daulah khilafah islamiyah menorehkan tinta emas bagi peradaban kaum muslim.  

Kewajiban Memperjuangkan Tegaknya Khilafah

Khilafah sejatinya adalah ajaran islam. Sebagaimana shalat, zakat dan puasa yang wajib ditegakkan kaum muslim. Kurang lebih 1300 tahun lamanya khilafah menaungi kaum muslim dalam kesejahteraan bahkan hinggan 2/3 dunia. Oleh karenanya, khilfah bukanlah utopis, khilafah adalah ajaran islam yang normatif dan bahkan secara historis mampu ditemukan jejaknya.

Al Qadhi Taqiyudin An Nabhani menjelaskan bahwa makna syar’i yang digali dari nash-nash syar’i adalah “kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariat islam dan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia (yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad)”. Maka dari itu, subtansi khilafah adalah persatuan ummat di seluruh dunia. Hidup dalam naungan syariat Nya yang diterapakan secara kaffah pada seluruh aspek kehidupan.

Saat ini sebagian besar kewajiban umat yang seharusnya sejalan dengan perintah Rabb nya, namun kini tak bisa terterapkan karena ketiadaan Khilafah. Seperti halnya, masih terjeratnya umat dengan sistem ekonomi ribawi, pergaulan hidup yang jauh dari syariat, hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, sangat jauh dari kata adil, munculnya aturan-aturan kufur yang diambil karena asas manfaat.

Meski kewajiban seperti shalat, zakat, puasa dan haji masih dapat dilakukan, namun bukankah kita menginginkan rahmat dan kebaikan islam. Padahal itu hanya bisa terwujud dengan keimanan secara menyeluruh tanpa pandang bulu. Sebab wujud keimanan kepada Allah adalah menjalankan syariat Nya tanpa tebang pilih.

Adapun dalil ijma’ sahabat telah disebutkan oleh para ulama. Imam Ibnu Hajar Al Haitami, menyatakan bahwan para sahabat telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam atau khalifah setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda kewajiaban menguburkan jenazah Rasulullah.

Sehingga diketahui bahwa begitu pentingnya seorang imam/khalifah dalam kepemimpinan kaum muslim, dan adanya khalifah hanya akan bisa teruwujud dengan sistem kepemimpinan yang syar’i pula yakni sistem khilafah. Allah telah berfirman dalm Q.S. An Nisa : 59 artinya “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasulnya serta ulil amri diantara kamu”. Dalam Q.S. Al Maidah : 48 artinya “Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”.

Dengan begitu bahwa perlunya khilafah adalah sebagai sistem yang akan menerapkan apa yang Allah turunkan yakni syariah islam. Maka kewajiban-kewajiban syariah yang belum dapat dilaksanakan secara sempurna untuk meraih ketaqwaan hakiki oleh individu, seperti kewajiban hudud bagi pelaku zina, kewajiban jihad untuk menyabarkan islam, kewajiban qishos dan sebagainya, akan mampu diterapkan umat jika khilafah tegak.

Sebab kewajiban itu membutuhkan kekuasaan yakni khilafah, dengan sistem Khilafah lah setiap kewajiban syari’i dalam segala aspek kehidupan akan terpenuhi dibawa kepemimpinan seorang khalifah.

Penulis: Rafiah Hafid

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.