7 Desember 2022

Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan setiap insan, hadist Rasulullah SAW menyatakan pentingnya menuntut ilmu dari sejak lahir hingga akhir hayat, hadist tersebut berbunyi “Uthlubul ‘ilma minal Mahdi ilal lakhdi” (H.R Ibnu Majah no. 224). Mengapa menuntut ilmu ini penting ? karena pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, dengan ini manusia memerlukan ilmu sebagai pengetahuannya pada jalan yang lurus, dengan ilmu segala kebaikan akan di raih, tak habis sampai disitu, setiap insan yang memiliki ilmu diwajibkan untuk mengamalkan serta menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain, sesuai dengan yang dikatakan oleh pepatah “ Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah” serta sabda Rasulullah SAW “sampaikanlah ilmu walaupun 1 ayat”.

Dari sedikit penerangan diatas kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya mempelajari ilmu, terutama ilmu agama. Bahkan dalam islam menuntut ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain, seharusnya, dalam hal ini instansi pemerintahan memiliki kontribusi penting dalam menentukan kebijakan terkait pendidikan kepada generasi penerus bangsa, sekolah memiliki peran yang paling besar terhadap pembentukan pola pikir generasi muda akan pandangannya terhadap dunia

Pola pikir yang ditanamkan melalui pengajaran di sekolah ini terutama pada pengajaran tentang sejarah-sejarah Islam yang faktanya tidak ada generasi yang secara langsung melihat atau merasakan sejarah tersebut, hal inilah yang rentan akan kekeliruan pandangan terhadapnya dan sangat mudah bagi sebagian oknum untuk mendistorsi bahkan memalsukan sejarah.

Kampanye moderasi Islam di sekolah semakin massif, salah satu hal yang dijalankan adalah dengan penyesatan orientasi pengajaran materi sejarah Islam yang sesuai dengan pernyataan dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah menyampaikan bahwa penyampaian.

Sejarah Islam secara komperehensif memiliki andil untuk membentuk generasi muda yang moderat, generasi yang mengambil keputusan ditengah-tengah, toleran terhadap kebenaran dan kezholiman secara bersamaan. Dalam workshop tersebut juga disampaikan salah satu contoh pembelajaan sejarah Islam yang komperehensif yaitu kejayaan Islam di Spanyol yang berlangsung sekitar 750 tahun karena para Ulama dan Muslim di Spanyol mempraktikkan Islam yang Inklusif, terbuka dan toleran.

Berdasarkan pernyataan tersebut, secara tidak langsung menyatakan bahwa kejayaan Islam di masa itu dianggap hadir karena peradaban yang inklusif dan toleran, fakta menyatakan bahwa kejayaan Islam di masa itu tidaklah lain dan bukan bahwa pada saat itu yakni dengan penerapan Islam secara kaffah dalam kehidupan melalui suatu system yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat yakni system Khilafah. Yakni ketika Islam diterapkan secara kaffah/menyeluruh dalam kehidupan, semua makhluk yang bernaung dibawahnya merasakan keadilan dan rahmatNya hingga umat Islam dihormati dan disegani.

Melalui fakta di atas kita dapat menyimpulkan bahwa ketika ingin menyampaikan materi sejarah Islam secara komperehensif hendaknya diajarkan secara utuh, tidak menanggalkan setiap jejak yang terekam oleh sejarah hanya karena ingin membutakan generasi dengan distorsi materi sejarah Islam dan khilafah, yang materi ini seharusnya melekat disetiap kepala generasi muda dan menjadi pembangkit semangat berjuang untuk kembali menegakkan Islam secara kaffah.

Distorsi, pengajaran liberal serta penyesatan orientasi pembelajarannya lainnya yang tujuannya untuk menjauhkan umat dari kebangkitan dan kembali tegaknya Khilafah, dari sinilah kita wajib waspada terhadap rancangan yang sistematis ini dan terus berusaha menuntut ilmu agar dapat mempertimbangkan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Penulis: Risda Tiani

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.