7 Desember 2022

Saat ini kita berada dalam Bulan Rajab 1442 Hijriah. Bulan ini menyimpan peristiwa sejarah yang penting bagi umat islam yakni runtuhnya Kekhifahan Islam di Turki pada tanggal 28 Rajab 1324 H (3 Maret 1924 M) oleh Mustafa Kemal Ataturk. Seorang etnis Yahudi Dunama yang merupakan antek Inggris. Sejak saat itu, umat islam kehilangan sosok pelindung dan perisainya. Kaum muslim terpecah belah dalam sekat-sekat nasionalisme. Tepat satu abad atau 100 tahun sejak keruntuhan Kekhilafahan Islam yang terakhir di Turki.

Keruntuhan Kekhilafahan Islam menandai sekularisasi di dunia islam, kapitalisme menjadi ideologi yang menguasai dunia dengan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa di dunia. Setelah Kekhilafahan Usmaniyah diruntuhkan dunia islam mengalami kemunduran, makin parah setiap harinya. Kezaliman merajalela, ketidakadilan terjadi, kemiskinan di negeri muslim dan keterbelakangan dunia islam.

Benarlah riwayat yang dikatakan oleh Imam Ahmad ra., dalam riwayat Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan Al-Hamshi: “(Akan terjadi) fitnah (kekacauan) jika tidak ada seorang imam (khalifah) yang mengurusi urusan manusia” (Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra’, Al-Ahkamus Sulthaniyyah, hlm.23).

Tanpa adanya Khiafah banyak kerugian yang menimpa umat islam dan dunia secara umum. Dunia islam terpecah belah atas dasar nasionalisme di lebih dari 50 negara. Akibatnya umat islam menjadi lemah, padahal jumlahnya lebih dari 1,5 miliar. Umat islam ibaratnya sleeping giant, yakni raksasa yang tertidur. Kondisi tersebut dimanfaatkan barat untuk menguasai dunia islam, menjadi sasaran imperialis barat.

Demikianlah, yang menimpa umat islam di Palestina, Kashmir, Afghanistan, Irak, Muslim Rohingya, Xinjiang dan lainnya. Jumlah umat islam yang banyak tidak berdaya dibawah kekuasaan kaum kafir. Umat islam tersakiti, tersiksa dan terzalimi. Masih kah kita berdiam diri melihat penderitaan umat ini? Masih kah kita hanya sibuk dengan urusan sendiri?

1 abad dunia tanpa Khilafah, negeri-negeri muslim terjajah dan kekayaannya dirampok penjajah. Negeri-negeri muslim adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun, sayangnya kekayaan alam tersebut diambil alih oleh negara atau perusahaan-perusahaan swasta baik dalam negeri atau luar negeri yang diberikan kewenangan untuk mengelolanya, tidak luput pula negara-negara kafir barat melalui perusahaannya menjarah kekayaan negeri muslim dengan nama investasi.

Belum lagi, munculnya penguasa ruwaybidhah. Sosok orang bodoh yang mengurusi urusan banyak orang sehingga kekacauan dan ketidakadilan yang terjadi seperti saat ini. Tanpa Khilafah, umat islam juga kehilangan wibawanya, dihinakan oleh kafir barat. Padahal, umat islam adalah umat terbaik (khoiru ummah). Tempat suci umat islam juga ternoda, salah satunya Al-Quds yang menjadi kiblat pertama kaum muslim. Sejak khilafah islam diruntuhkan, maka Zionis Israel telah menguasai Al-Quds hingga hari ini.

Ketidaan adanya Khilafah Islam membuat hukum islam terbaibaikan, syariah islam tidak diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Aturan yang kaffah digantikan dengan nilai-nilai sekuler ala barat sehingga umat islam asing dengan agamanya sendiri. Aturan islam dianggap tidak sesuai dengan tuntunan zaman, bahkan dimusuhi dan ditakuti oleh umatnya sendiri seperti khilafah. Penghinaan dan pelecehan terhadap syariah islam, Al-Qur’an dan Rasulullah saw juga terus terjadi dan terus berulang dilakukan oleh kafir barat dan muslim munafik itu sendiri. Inilah akibat dari proses sekulerisasi yang terjadi di dunia islam.

Dengan semua nestapa yang menimpa umat islam, masih kah kita tutup mata dan telinga dengan penderitaan kaum muslim hari ini? Tentu tidak, saatnya kaum muslim di seluruh dunia bergerak dan berjuang untuk mengembalikan perisai kaum muslim yakni Khilafah Islamiyah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Apalagi menegakkan Khilafah adalah kewajiban syariah. Begitu juga langkah yang harus ditempuh oleh pemuda muslim, sosok muda yang harus bergerak dan bersemangat menjemput kemenangan islam jilid kedua. Pemuda muslim harus mencurahkan segenap kemampuannya guna memperjuangkan tegaknya islam, berkonsentrasi dan istiqomah sampai Allah memberikan kemenangan tersebut.

Khilafah adalah mahkota kewajiban (taj’ul furudh), dengan adanya semua kewajiban dalam islam akan terlaksana. Tanpa adanya khilafah,  syariah islam terabaikan dan tidak bisa diterapkan secara kaffah. Kewajiban menegakkan khilafah  telah menjadi Ijma’ Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah khususnya empat mazhab yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali. Syaikh Abdurahman al-Jaziri menuturkan: “Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib”.

Oleh karena itu, peringatan 100 tahun dunia tanpa khilafah bukanlah seremonial belaka, seharusnya ini menjadi pelecut semangat kaum muslim guna menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Hal ini menjadi tugas bersama seluruh umat islam karena ketidaan ini akan menjadi dosa bersama umat islam jika diabaikan tanpa adanya kepemimpinan islam. Terutama, pemuda muslim yang mengikrarkan dirinya sebagai penerus generasi umat islam dimasa depan. Pemuda muslim harus menyadari perannya sebagai agen perubahan guna menghantarkan kepada perubahan hakiki yakni islam kaffah.

Usaha tersebut dilakukan dengan mengkaji islam kaffah mulai dari akar hingga daunnya, mengamalkan islam dalam kehidupannya serta mendakwahkannya. Bergabunglah bersama kelompok islam ideologis yang istiqomah memperjuangkan tegaknya islam dan mempelajari sejarah peradaban islam yang gemilang sehingga muncul kecintaan dan semangat juang guna mewujudkan kembali kegemilangan islam jilid ke dua. Wallahu’alam bisshawab.

Penulis: Salamatul Fitri | Aktivis Dakwah Kampus

Editor: Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.