3 Oktober 2022
Presiden Jokowi gencarkan gerakan wakaf nasional

Penulis : Iim Muslimah  S.Pd | Penulis, Pemerhati Kebijakan Publik

Dimensi.id-Presiden Joko Widodo pada Senin (25/1/2021) meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) di Istana Negara.

Pemerintah menilai potensi wakaf di Indonesia masih cukup besar. Tercatat potensi wakaf secara nasional senilai Rp 217 triliun atau setara 3,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan potensi tersebut berasal dari 74 juta penduduk kelas menengah saja. “Potensi yang besar ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memulai melakukan gerakan wakaf, salah satunya melalui instrumen surat berharga negara syariah (SBSN) atau sukuk,” ujarnya saat konferensi pers virtual ‘Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia’ Sabtu (24/10). ( Republika.co.id)

Dana umat diperas, SDA dilepas

Pemerintah sepertinya sudah mengalami jalan buntu karena pendapatan negara terus menyusut. Terlebih utang luar negeri yang menjadi sumber pendapatan sudah membengkak. Sehingga dana wakaf disinyalir menjadi alternatif untuk kembali meningkatkan pendapatan.

Di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, potensi wakaf tersebut memang sangat besar. Berdasarkan data yang diterima Presiden, potensi aset wakaf per tahunnya mencapai Rp2.000 triliun di mana potensi dalam bentuk wakaf uang dapat menembus angka Rp188 triliun.

Nilai yang menggiurkan memang. apalagi dana wakaf saat ini hanya untuk pembangunan mesjid sekolah dan pembangunan lainnya. Namun gerakan wakaf Nasional dinilai kontradiktif, satu sisi berharap dana umat, tapi sisi lain tidak suka politik Islam.

Ekonom senior Dr. Rizal Ramli juga menyampaikan kritikan terhadap program wakaf. Pasalnya, apa yang dilakukan rezim Jokowi sangat bertolak belakang dengan sikap politiknya selama ini, terutama menyangkut Islam.

Islam-Phobia (Islamfobia) digencarkan, tapi ketika kesulitan keuangan, merayu dan memanfaatkan dana umat, wakaf dan dana haji. Kontradiktif amat sih..,” kata tokoh bangsa ini di akun Twitter miliknya @RamliRizal, Sabtu (27/1). (Reportase Indonesia.com)

Melalui Gerakan wakaf nasional ini terlihat bahwa pemerintah seolah pro terhadap syariat Islam. Padahal sebelumnya pemerintah justru antipati terhadap syariat Islam bahkan mendiskriminasi kelompok yang ingin menegakkan syariat Islam.

Seperti pada tahun ini pemerintah  menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE). Yang dibidik pada (RAN PE) ini jelas adalah orang-orang yang ingin menegakkan syariat Islam.

Selain itu pada tahun-tahun sebelumnya pemerintah juga membuat peraturan seragam perempuan yang tidak sesuai dengan syariat islam, melarang cadar dan masih banyak syariat islam yang dikebiri. Ini menunjukan sikap antipati terhadap syariat Islam. Namun ketika ada syariat Islam yang menguntungkan seperti dana haji dan wakaf sikap pemerintah berbalik sembilan puluh derajat.

Jadi jelas upaya pemerintah menggalakkan gerakan wakaf nasional ini bukan karena pemerintah pro terhadap syariat Islam melainkan hanya ingin meraup keuntungan sebanyak banyaknya. 

Sikap pemerintah yang menebang pilih syariat islam memang wajar dalam Ideologi Kapitalisme. Asas manfaat tidak akan terlepas pada orang-orang yang menganut ideologi kapitalisme. Terlebih Ideologi Islam adalah musuh nyata bagi Kapitalisme. Jika syariat Islam dipakai secara kaffah maka sudah pasti Ideologi kapitalisme akan musnah.

Islam Sebagai Jalan Hidup

Selama puluhan tahun tak ada persoalan dengan agama di negeri ini, khususnya Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan saja dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam) atau seruan dan kajian keislaman menjadi pemicu radikalisme, perpecahan, dsb.

Adanya ketimpangan antara warga dan antardaerah. Rakyat tidak merasakan kemakmuran dari melimpahnya kekayaan alam. Makin menggunungnya utang Negara. Makin kuatnya cengkeraman asing dan kapitalis. Adanya segudang problem ekonomi. Semua itu pun bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem di luar Islam, yakni kapitalisme-liberalisme.

Padahal Islam sesungguhnya merupakan agama yang sangat sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara holistik, universal dan senantiasa up to date, dimana penerapannya secara total dipastikan akan menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang secara fitrah menjadi dambaan manusia tanpa kecuali. Hal ini tidak lain karena, Islam datang dari Dzat yang Maha Adil dan Maha Sempurna, sehingga Islam bisa menjadi rahmat. WaAllahu A’lam

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: