30 September 2022

Penulis : Merli Ummu Khila, Kontributor Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Engkau bagai pelita dalam kegelapan.

Engkau laksana embun penyejuk dalam keharusan.

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Dimensi.id-Lirik lagu himne guru menggambarkan betapa seorang guru ibarat cahaya yang dibutuhkan semua orang di dalam kegelapan. Baktinya untuk generasi penerus menjadi penentu masa depan bangsa. Keikhlasannya mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktu demi peserta didiknya sudah seharusnya mendapat penghargaan dari negara.

Namun sayangnya, patriot pahlwan ini benar-benar tanpa tanda jasa. Kesejahteraan hidup seolah barang langka yang sulit didapatkan. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru belum juga dirasakan.

Masa pandemi menjadi masa sulit bagi dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pembelajaran jarak jauh(PJJ) dengan daring menimbulkan beragam permasalahan. Dari sulitnya akses Internet hingga keterbatasan fasilitas bagi wali murid.

Namun permasalahan daring seolah tidak terbaca oleh pemerintah. Kesulitan siswa dan guru dibiarkan membelit tanpa solusi berarti. Kebijakan yang di gelontorkan Kemendikbud justru terkesan tidak berpihak pada guru dan siswa.

Sejak awal pemerintahan, kebijakan Kemendikbud selalu menimbulkan kegaduhan. Ada beberapa kebijakan yang kontroversial diantaranya : kebijakan pemotongan anggaran tunjangan profesi guru di Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) serta yang baru-baru ini tentang Program Organisasi Penggerak.

Pemotongan tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.

Pemotongan tunjangan ini tidak bisa dimaklumi begitu saja karena alasan dialokasikan untuk dana penanganan Covid-19. Karena anggaran ternyata lebih banyak untuk pemulihan perekonomian. Dan tentu saja anggaran lebih banyak untuk pelaku ekonomi atau pengusaha.

Kebijakan lainnya yaitu Program Organisasi Penggerak (POP) lagi-lagi menimbulkan kegaduhan. Program yang dinilai banyak pihak terlalu prematur dan tidak tepat sasaran. Dari ketidakjelasan kriteria pemilihan dan penetapan peserta program organisasi penggerak.

Ketidakberesan program ini terbukti dengan mundurnya tiga organisasi senior sebagai peserta yaitu NU, PGRI dan Muhamadiah. Dan penunjukan dana hibah yang akan diberikan Kemdikbud kepada dua lembaga raksasa yaitu Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation yang terafiliasi dengan korporasi.

Program dengan anggaran mencapai Rp 595 miliar itu terlalu dipaksakan mengingat saat kondisi keuangan negara sedang kritis. Kemendikbud harusnya bisa memilih program skala prioritas. Program yang bisa lansung dirasakan oleh pendidik dan peserta didik.

Caruk maruk sistem pendidikan saat ini memang sudah ada  sejak awal. Salah kelola negara dan sistem pemilihan pemangku kekuasaan yang ditunggangi berbagai kepentingan. Tampuk kekuasaan yang didapat dengan ongkos yang mahal membuat pengusaha tidak lagi menjadikan rakyat sebagai prioritas.

Berbeda dengan Islam yang menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas. Pendidikan menjadi kunci kesuksesan sebuah negara. Bahkan Allah Swt meninggikan derajat orang yang berilmu.

Allah Swt. berfirman :

.. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah 58: 11).

Kesuksesan dunia Islam terbukti dengan lahirnya ulama dan cendikiawan Islam yang termasyhur di dunia. Beberapa tokoh diantaranya : Ibnu Sina seorang ilmuwan di bidang kedokteran. Al-Khawarizmi salah satu ilmuwan di bidang matematika, geografi dan astronomi. Jabir Ibn-Hayyan dibidang kimia, fisika, dan farmasi.

 Ibnu Khaldun merupakan sejarawan dan sosialogi islam.

Perhatian Islam terhadap kesejahteraan guru pun tercatat oleh sejarah peradaban. Pada masa Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji 15 dinar yang jika dirupiahkan berarti sebesar 31.875.000. Angka yang sangat besar dan jauh tidak sebanding dengan gaji guru saat ini.

Lalu, apa yang bisa menafikan kesuksesan sistem Islam dalam membangun peradaban?. Sudah terang benderang sejarah mencatat sejarah kegemilangan dengan tinta emas. Sebuah sistem yang agung nanti paripurna.

Saatnya berjuang menyelamatkan generasi penerus bangsa. Memperbaiki nasib dunia dari kemelut yang menyengsarakan. Dengan kembali pada kehidupan Islam. Mengenyam kembali masa keemasan yang dulu pernah dirasakan beradab-abad. Dalam sebuah sistem pemerintahan yaitu Daulah Khilafah Islamiyah ala Manhajin Nubuwwah.

Wallahu’alam bishawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: