5 Oktober 2022

Penulis : Indi Lestari

Dimensi.id-Wacana New Normal Life yang terkesan memaksakan demi mendongkrak ekonomi, ternyata  menghantarkan Indonesia naik menjadi peringkat ketujuh dalam kawasan Asia. Menurut data Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins yang dikutip CNNIndonesia.com, Senin (3/8/2020), kasus positif Covid-19 di Indonesia sampai Minggu kemarin tercatat sebanyak 111.455 kasus. Dari jumlah itu diketahui 68.975 orang sembuh dan 5.236 pasien meninggal.

Tidak kalah rekor Badan Pusat Statistik melancir Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019. (www.bps.go.id) 15/07/2020.

Kondisi ini membuktikan bahwasannya Indonesia tidak baik-baik saja, pandemi covid-19 masih diambang kematian, kemiskinan pun semakin hari semakin menjerat. Tetapi para elit politik menjadikan ajang kemalangan ini menjadi ajang unjuk diri, maraknya penyalahgunaan bantuan sosial Bansos Pemerintah daerah yang bersumber dari APBN serta bantuan tunai dana desa BLT-DD, diakui sebagai perjuangan diri akan betapa besar tanggung jawab kepada masyarakat dan negeri. Kasus yang terjadi di Klaten itu salah satu kasus yang terblow up.

Meskipun ditengah pandemi pesta demokrasi tetap digelar, dilansir KOMPAS.com – Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar mengatakan, Pilkada 2020 harus tetap dilakukan di tengah pandemi Covid-19, “Satu hal yang terpenting adalah pelaksanaan Pemilukada untuk menjaga hak politik masyarakat tetap berjalan,”  (7/8/2020)

Tentu sudah pasti masyarakat membutuhkan hak politik untuk mendapatkan hak nya sebagai warga negara terlindungi dan terjamin kesejahteraannya. Tetapi apa daya kasih tak sampai kepayahan masyarakat semakin nampak, dengan kondisi turunnya angka partisipasi pemilih akibat banyaknya angka kematian saat pandemi, hilangnya sumber penghasilan, dengan angka kemiskinan makin melonjak naik, sehingga penggunaan materi dan bujukan material menjadi senjata untuk dukungan politik bahkan membangun kesetian politik.

Mahalnya menjadi seorang pemimpin dalam sistem demokrasi membuktikan ke cacatannya, dalam perwujudan sosok pemimpin penuh pencitraan bukan pemimpin yang memiliki jiwa pemimpin sehingga mampu memantaskan diri sebagai pemimpin yang mampu memenuhi kewajibannya akan hak masyarakat.

Pemimpin sejati ialah mereka yang memiliki ideologi yang tepancar dari akidahnya. Dengan ideologi tersebut ia memiliki prinsip dan rela berkorban demi ideologinya. Tidak bersikap pragmatis, apalagi memiliki sikap politik yang cenderung berubah-ubah. Tidak akan menjadikan manfaat sebagai penentu sikap politiknya. Seorang Pemimpin wajib mempunyai akidah yang benar, mengakui dan senantiasa terikat dengan hukum syariat, meyakini takdir Allah, memiliki kemampuan memimpin masyarakat, jujur, adi, pemberani, senang berkorban, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain, bijaksana, sabar, memiliki keteguhan hati, memiliki keinginan yang kuat dengan cita-cita yang tinggi, mampu menyelesaikan semua permasalahan dengan solusi.

Dan pemimpin sejati hanya ada pada diri para pemimpin Islam yang menempatkan dirinya sebagai rain (pengurus/penggembala) sekaligus junnah (pelindung) bagi umat. Tentu pemimpin Islam akan lahir dari pemerintahan islam yang dibentuk oleh Daulah Islamiyah. Tidak akan lahir dari sistem demokrasi dengan pencitraannya.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: