30 September 2022

Penulis : Siti Mutia, Ibu Rumah Tangga

Dimensi.id-Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bergulir dan berganti dari masa ke masa hingga akhir zaman nanti. Hidup terus berputar bagai roda pedati, yang terus berjalan dan takkan pernah berhenti.

Ada yang datang, ada pula yang pergi. Ada suka ada pula duka, dan kesemuanya itu merupakan tradisi dalam kehidupan. Semua orang telah paham dan tau akan hal itu, karena dunia hanyalah kehidupan yang sementara dan bukan keabadian.

Karena itulah Allah -Azza Wa Jalla- mengingatkan kita,

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُون

“dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Karena itulah, sifat orang yang cerdas adalah orang yang memilih kehidupan yang sebenarnya lagi abadi bukan kehidupan yang sementara.

Namun dalam kenyataannya, karena alasan untuk bertahan hidup, manusia lebih banyak memilih kehidupan dunia yang sementara dan meninggalkan kebahagiaan akhirat yang kekal.

Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman,

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“sekali-kali janganlah demikian. sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Qiyaamah: 20-21)

Ketahuilah, bahwa hidup di dunia sebenarnya tidaklah susah. Namun yang susah bagaimana cara kita untuk hidup.

Kadang dengan pertanyaan ini, kita lebih berpikir ke arah dunia semata yaitu masalah perut. sehingga kita merasa bahwa hidup ini hanya untuk makan.

Memang menjadi sesuatu yang wajar kita butuh makan untuk hidup dan kita sadari akan hal itu. Tapi mengapa pertanyaan, ”untuk apa kita diciptakan” terlupakan?

Karena itulah, banyak manusia yang hidup seperti hewan ternak tanpa mengenal aturan dari penciptanya. Ia hidup bebas tanpa mau diperintah dan dilarang sehingga mempertuhankan hawa nafsunya.

Allah -Azza Wa Jalla- mencela orang-orang seperti itu dalam firman-Nya,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيل

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon: 43-44)

Berbeda dengan orang yang memiliki pemahaman Islam, ia tentu akan memahami dengan pasti bahwa ia berada didunia ini hanya untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an surat Adz Dzariyat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat:56).

Imam Syafii berkata : “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (baligh) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal ghaib dari pengamatannya dengan indera dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang usluhuddin”. (Fikhul Akbar : Imam Syafi’i)

Dengan begitu jelaslah bahwa Islam sangat mendorong ummatnya agar selalu berpikir dan tidak menjadi seorang yang buta ilmu. Sebab dengan melalui proses berpikir lah keimanan tersebut dapat diraih. Seorang tidak akan mungkin dapat mencapai keimanan yang benar tanpa berpikir tentang eksistensi Allah, sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Dengan berpikir seorang muslim akan mampu mengetahui dengan jelas tentang tugas dan kewajibannya diatas bumi ini. Ia akan mampu menjalani kehidupan dialam dunia ini tanpa rasa pesimis, bahkan sebaliknya ia akan sangat optimis. Hal ini dikarenakan ia telah mengetahui akan tujuan hidup dan keinginannya di dunia ini.

Berbeda dengan paham yang telah memandulkan Tuhan dalam hal eksistensi ataupun kekuasaan-Nya. Orang yang memiliki pemahaman seperti ini, akan lebih cepat pesimis dan frustasi dan ia pun dalam menjalani proses kehidupan jika terbentur oleh sebuah masalah yang berat, dengan mudah ia akan putus asa hingga bunuh diri.

Hal ini dikarenakan ia tidak memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, cara pandang yang keliru dalam menjalani kehidupan tentu akan berakibat keliru dalam menjalani kehidupan. Jika ia sukses dalam hidup tersebut maka sesungguhnya hal tersebut bersifat temporal dan semu. Bahkan ia berada dalam putaran roda yang terus berputar tanpa henti dan akhir, hidupnya dipenuhi dengan kesibukan yang hingga akhirnya ia akan jatuh dan susah untuk bangun lagi.

Banyak sekali contoh didepan mata kita semua, bagaimana orang dengan sangat mudah untuk bunuh diri setelah mencapai kesuksesan dunia. Kehidupan dunia yang ia cari dengan susah payah, justru membuatnya ia lelah dan tidak bahagia. Hal ini disebabkan mereka tidak mengetahui dengan jelas apa tujuan hidupnya dialam dunia ini.

Ketika seorang telah mengetahui dan memahami tentang asal-usul dirinya dan tujuan hidupnya, maka akan muncul pertanyaan yang sama pentingnya yaitu, akan kemana manusia setelah meninggalkan dunia?

Orang yang memiliki pandangan segala sesuatu berasal dari materi tentu akan menjawab setelah mati akan kembali menjadi materi dan selesai. Berbeda dengan seorang muslim yang telah memahami kedua pertanyaan sebelumnya, setelah alam dunia ini ia akan menjawab bahwa ia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala apa yang telah diperbuatnya selama didunia.

Seorang muslim yang telah memahami bahwa ia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya dihadapan Hakim yang Maha Adil, tentu akan bersifat hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Seluruh hidupnya akan digunakan hanya untuk mengikuti seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ia akan mengingat firman Tuhannya,

“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” (QS. Yaasin : 51-52)

Seorang muslim yang telah memahami hal ini akan semakin bertambah keimanannya kepada Allah. Dengan begitu ia akan selalu berusaha menjaga hati, kata dan perbuatannya agar selalu sesuai dengan aturan-Nya. Jika ia tergelincir kedalam khilaf dan dosa, dengan cepat ia segera sadar dan segera memohon ampunan kepada Allah SWT dan belajar dari kesalahannya tersebut untuk tidak diulanginya lagi.

Pertanyaan ketiga tersebut diatas merupakan penentu dari aktivitas kehidupan seorang muslim. Setelah mengetahui bahwa dirinya akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya dihadapan Hakim yang Maha Adil, ia akan menjalani seluruh aktivitas kehidupan ini dengan aturan dari Allah SWT yang telah menciptakannya.

Segala sesuatu tentang kejadian setelah kematian, sudah banyak diceritakan baik dalam Al Qur‘an maupun hadits-hadits yang diriwayatkan secara mutawattir dari baginda Rasulullah SAW. Diantaranya adalah seperti berikut ini :

“Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya.”

Suatu hari ada seorang yang bertanya:

“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi)

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: