5 Oktober 2022

Penulis : Erdiya Indrarini (Ibu Rumah Tangga)

Dimensi.lid-Gawat, resesi mulai merambat. Setelah melanda singapura dan beberapa negara tetangga, Indonesia pun harus berjaga-jaga dan siap siaga. Jangan sampai terlalu lama menderita karena virus corona. Hingga perekonomian sekarat dengan utang yang menjerat.

Resesi pada dasarnya adalah kondisi ketika Produk Domestik Bruto (PDB) atau keadaan pertumbuhan ekonomi suatu  negara, minus selama 2 kuartal berturut-turut dalam satu tahun atau lebih. Ditandai dengan menurunnya pendapatan negara, bertambahnya jumlah kemiskinan, meningkatnya jumlah kredit macet di perbankan, juga semakin banyaknya Utang Luar Negri (ULN).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah beberapa kali mengingatkan para menterinya  tentang ancaman tersebut. Hal senada juga di sampaikan oleh para ahli seperti Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira. Juga Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah.

Pada umumnya mereka mengatakan bahwa mulai dari sekarang masyarakat agar tidak boros. Juga agar mengurangi belanja yang tidak terlalu diperlukan. Selain itu harus menyiapkan dana darurat untuk mengantisipasinya. Salah satunya dengan gaya hidup hemat, dan mempersiapkan alternatif pekerjaan untuk menghadapi kondisi buruk keuangan saat terjadi resesi, detik.com (19/7)

Pengusaha nasional Sandiaga Uno pun menyampaikan bahwa resesi sudah didepan mata dan diprediksi akan menghantam Indonesia. Terlebih jika 5 agustus mendatang sektor konsumsi belum pulih dan daya beli masih melemah, maka di kuartal II Tahun 2020 ini, perekonomian Indonesia akan mencapai -6%. Detik.com (19/7/2020)

Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Negara yang telah menyatakan  mengalami resesi akibat pandemi Covid-19 ini, diantaranya adalah Singapura yang disampaikan oleh Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura, dengan kontraksi atau minus sebesar 41,2 persen. Dan Korea Selatan yang diumumkan oleh Bank Sentral Korea (BOK) dengan kontraksi 3,3 persen. Sedangkan negara Perancis dan Itali mempublikasikan pada bulan Maret 2020. Kemudian Jerman di bulan April, dan Jepang pada bulan Mei. Semuanya mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus selama dua kuartal secara berturut-turut. Cnbcindonesia.com (23/7/2020).

Direktur CORE Indonesia, Piter Abdulah mengatakan bahwa Negara lain yang bakal mengalami krisis di kuartal II adalah negara-negara Uni Eropa  (UE). Walaupun belum menyatakan resesi secara resmi, namun pertumbuhan ekonomi di kuartal I anjlok, terlebih lagi pada kuartal ke II. Sedangkan negara-negara besar seperti Indonesia dan India, diperkirakan akan mengalami resesi pada kuartal III. Detik.com (23/7/2020)

Indonesia sebelumnya mengalami krisis pada  tahun tahun 2008, juga krisis yang parah pada tahun 1998 dengan kontraksi 13,02 persen, dan berisiko akan terjadi kembali di tahun ini. Tak hanya resesi, pandemi Covid-19 juga akan mengakibatkan Indonesia mengalami depresi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal berturut-turut sejak 2019.

Sejumlah negara yang telah mengalami resesi seperti Singapura, Korea Selatan, juga Perancis, Jerman, Itali dan jepang, tentunya akan memberi dampak pada Indonesia. Resesi akan menyebabkan ledakan gelombang pengangguran, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sehingga akan meningkatkan jumlah kemiskinan. Juga berdampak pada meningkatnya kasus kriminal.

Bukan rahasia lagi bahwa ekonomi Indonesia sangat bergantung dengan konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62% terhadap ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2019 diikuti oleh komponen investasi serta ekspor dan impor. Contan.co.id (22/7/2020)

Dengan adanya kejadian covid-19 ini, mengakibatkan melemahnya iklim investasi, juga rendahnya daya beli masyarakat, dan sepinya kegiatan ekspor impor, maka wajar jika perekonomian Indonesia sangat labil dan mudah jatuh ke jurang resesi. Hal itu akan mengakibatkan lambatnya bahkan minusnya pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dengan rendahnya kesejahteraan masyarakat, maka cita-cita bangsa untuk mengangkat derajat masyarakat menjadi sejahtera adil dan makmur hanyalah mimpi saja. Keadaan seperti itu akan terus berulang bahkan semakin parah, resesi demi resesi akan dialami walau tidak ada pandemi Covid-19.

Mengapa sering mengalami resesi yang berulang-ulang ?

Karena negara menerapkan system kapitalisme. Yaitu sebuah system yang diusung oleh Barat. Yang membolehkan sumber kekayaan alam dikuasai oleh individu atau swasta, bahkan dibolehkan untuk dikelola asing.

Dengan system Kapitalisme ini, Indonesia hanya bisa menggantungkan perekonomiannya pada beberapa sumber saja yaitu Pajak, hasil Sumber Daya Alam (SDA) yang di kelola BUMN, sumbangan, dan utang luar negri.

Dengan sumber pendapatan yang kecil dan terbatas itu, walaupun tidak mengalami resesi tidaklah mungkin bisa melayani masyarakatnya pada kebutuhan sandang pangan papan, juga pendidikan dan kesehatan yang memadai bahkan gratis. Apalagi penerimaan pajak yang menjadi penopang pendapatan negara, yang pada kondisi resesi seperti sekarang ini tentunya akan sangat bermasalah.

Sehingga tidak ada jalan lain untuk menanggulangi keterpurukan ekonomi negara kecuali dengan cara Utang Luar Negri (ULN). Atau terkadang memakai nama lain yaitu investasi. Sedangkan dengan banyaknya utang luar negri, maka negara memposisikan diri menjadi negara yang lemah dan semakin tidak berdaulat, serta mudah di kendalikan. Sehingga Sumber Daya Alam (SDA) mudah di kuasai asing.

Padahal, SDA adalah sumber kekayaan terbesar yang dimiliki negara. Mencukupi segala kebutuhan masyarakat dan negara. Baik kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan, juga kebutuhan kesehatan, pendidikan, keamanan dan pertahanan. Dengan banyaknya sumber kekayaan alam itu, maka mengantisipasi krisis dengan berhemat dan tidak boros serta rajin menabung saja tidaklah cukup. Tapi perlu solusi tuntas atas resesi akibat berlakunya system ekonomi kapitalisme.

Lalu adakah system yang mampu memberi solusi tuntas atas resesi akibat Covid-19 maupun sebab lain ?

Tentu saja ada. Yaitu system yang bukan berasal dari kecerdasan akal manusia. Tapi dari pencipta manusia dan alam semesta itu sendiri, yaitu system Islam. Alloh menciptakan manusia dan alam semesta tentunya disertai dengan peraturan/panduan dalam mengoperasikan agar bisa berjalan dengan baik.

Sebagaimana pembuat mesin cuci menyertakan buku panduan bagaimana mengoperasikan mesin cuci agar bisa dipakai dengan benar dan tidak rusak. Jika di operasikan dengan buku pedoman yang lain, maka mesin cuci itu akan rusak, bahkan tidak bisa dipakai.

Begitu juga saat dunia mengalami resesi karena Covid-19. Cara menanganinya adalah dengan system yang berasal dari Ilahi, pencipta manusia dan alam semesta, yaitu Islam. Dalam Islam, saat terjadi wabah maka harus dilakukan isolasi. Sehingga tidak menjalar dan berdampak pada hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sabda Rosul dalam hadits yang artinya :

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Jadi saat terjadi wabah, maka harus segera dilakukan isolasi pada daerah yang terkena wabah. Dan mengerahkan ilmuan untuk memproduksi vaksin. Serta menanggung segala kebutuhan masyarakat terdampak wabah. Sehingga wabah tidak sampai menjalar dan mempengaruhi perekonomian.

Dan yang tidak kalah penting adalah, negara juga harus menggunakan system perekonomian Islam. Dimana system Islam tidak membolehkan Sumber Daya Alam (SDA) yang terdiri dari unsur air, api dan padang gembalaan (tanan) dikuasai oleh individu maupun swasta, apalagi dikelola Asing.

Negara akan mengerahkan sekuat tenaga  untuk mengelola SDA yang berasal dari dalam bumi, permukaan bumi, dan lautan. dengan merekrut semua anak bangsa, hingga tidak ada lagi pengangguran. Dan hasilnya akan dialokasikan pada semua kebutuhan masyarakat seperti sandang pangan papan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertahanan dan keamanan dan sebagainya.

Jadi system perekonomian Islam tidak akan terpengaruh oleh pandemi apalagi sampai berulang-ulang. Karena tidak menggantungkan perekonomiannya pada pajak maupun investasi luar negri. Bahkan tidak ada pajak dalam system Islam.

Dengan demikian, maka masyarakat hendaknya memahami buruk dan cacatnya system kapitalisme yang hanya menghasilkan ketidak adilan, kesengsaraan, juga krisis termasuk resesi yang berulang-ulang.

Dan negara seyogyanya segera beralih dengan menggunakan system ekonomi Islam yang menciptakan perekonomian selalu stabil, dan tidak rentan resesi.

Wallohu a’lam bishowab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: