3 Oktober 2022

Penulis : Anggraini Putri Mahardita (Aktivis Mahasiswa)

Dimensi.id-Baru-baru ini ramai trending Gilang Predator “Fetish Kain Jarik” di twitter (wowkeren.com). Berawal dari kesaksian korban dengan akun twitter @m_fikris yang membeberkan modus pelaku dalam melancarkan aksi pelecehan seksual berkedok riset. Korban beserta temannya diminta oleh pelaku untuk membungkus dirinya dengan kain jarik, dan sebelum dibungkus dengan kain jarik, tubuh korban harus dilakban terlebih dahulu di bagian kaki, tangan, hingga mulut kecuali hidung.

Tentu hal ini membuat ramai jagad persosmedan. Pasalnya banyak yang belum mengetahui dengan jelas jenis pelecehan seksual yang dilakukan oleh akun intagram bernama @gilangeizan.   Namun karena keberanian @m_fikris untuk speak up membuat korban-korban lainnya turut membeberkan kesaksian. Dan ternyata tak sedikit yang menjadi korban-korban kejahatan seksual si pelaku yang diketahui berstatus mahasiswa di universitas ternama negeri Surabaya tersebut.

Dari kasus “Kang Bungkus” ini setidaknya ada 2 fakta penting yang harus menjadi perhatian bagi kita semua.

Apa saja 2 fakta tersebut ?

 *1. Bahaya LGBT Mengancam Generasi*

Lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) memang menjadi persoalan krusial yang tak boleh kita remehkan. Ingatan Kasus Reynard Sinaga, Predator Gay yang ramai awal tahun 2020 seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua, sudah sepantasnya kita masyarakat Indonesia, apa pun agamanya, membendung arus pengaruh kampanye pro-LGBT.

LGBT adalah kelainan orientasi seksual dengan kata lain adalah sebuah penyakit baik di dunia medis maupun dalam agama. LGBT bukanlah faktor genetik, akan tetapi disebabkan oleh beberapa faktor yakni lingkungan, kejiwaan seseorang dan kondisi sosial masyarakat. Para psikolog dan psikiater, menyebutnya sebagai gangguan kejiwaan yang sebenarnya bisa disembuhkan. Dengan syarat mereka mau diterapi agar bisa meninggalkan perilaku mereka yang menyimpang tersebut.

Penyimpangan orientasi seksual ini jelas merupakan ancaman bagi generasi. Orientasi seksual yang seharusnya diwujudkan dalam perkawinan yang awalnya bertujuan untuk melestarikan keturunan, namun dalam perilaku menyimpang ini berubah sekedar pemuas nafsu birahi atau pelampiasan nafsu saja.

Bahkan dalam Al-Quran Allah menyebut kaum LGBT sebagai makhluk yang melampaui batas.

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.”

(Asy Syu’araa’, Ayat 165 dan 166)

Sehingga dukungan bagi kaum LGBT artinya sama saja melindungi perkembangan LGBT sebagai penyakit masyarakat.

Maka tak heran jika terus bermunculan kasus seperti Reynard Sinaga, kasus “Kang Bungkus” dan mungkin akan ada kasus-kasus serupa berikutnya. Yang demi memuaskan kelainan orientasi seksualnya berujung pada tindakan kriminal.

 *2. Bobroknya Sistem Pendidikan Kapitalisme yang Alih-Alih Mencetak Mahasiswa Intelektual Namun yang Ada Mahasiswa Tak Bermoral*

Tentu kejadian ini menjadi sesuatu hal yang memprihatinkan bagi dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi. Bagaimana tidak ? Lagi-lagi Sistem Pendidikan Kapitalisme menorehkan catatan merah. Mahasiswa yang seharusnya identik dengan keintelektualannya, justru melakukan kejahatan seksual yang sulit dinalar untuk kebanyakan orang diluar sana.

Sistem Pendidikan Kapitalis Sekuler yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan sejatinya akan melahirkan generasi yang tak bermoral, tak beradab dan tak memiliki visi yang jelas. Apalagi dengan ke-liberalannya yang memberikan kebebasan tanpa batas.

Bagaimana kebobrokan sistem pendidikan saat ini yang terpampang nyata ketika seorang dosen meluncurkan sebuah disertasi yakni menghalalkan zina.

Namun disisi lain seorang Mahasiswa berprestasi dikeluarkan oleh rektornya hanya karena mengikuti ormas yang dianggap radikal.

Dan juga pemahaman-pemahaman semacam Sosialis Komunis, Kapitalis Sekuler yang diberi ruang untuk didiskusikan. Sedangkan pemahaman Islam dianggap sebagai sebuah ancaman.

Begitulah cara Sekuler Liberal dalam menyesatkan manusia. Yang tidak membahayakan dibuat seolah-olah mengancam dan juga sebaliknya.

Maka tak heran, jika hasil cetakan pendidikan saat ini akan melahirkan predator seksual semacam “Kang Bungkus”.

Sehingga dari kasus ini seharusnya mampu membuka mata kita semua, begitu bobroknya sistem Pendidikan Kapitalisme yang alih-alih mencetak mahasiswa intelektual berakhlak mulia namun yang ada mahasiswa tak bermoral akibat dari pemisahan agama yang dilakukan.

Tentunya 2 fakta memprihatinkan diatas akan terus terjadi selama kita masih berada pada sistem buatan manusia yang menghalalkan segala cara, mengagungkan kebebasan dan mencampakkan peran agama dalam mengatur kehidupan. Semua ini ada di dalam sistem Kapitalisme yang berlandaskan sekularisme.

Berbeda sekali dengan Islam. Islam adalah sistem yang mampu mewujudkan kehidupan yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup, menenteramkan jiwa dan memuaskan akal. Islam memiliki tatanan kehidupan yang khas yang mampu menghentikan perilaku memyimpang semacam LGBT secara tuntas dan juga mampu mencetak mahasiwa intelektual, bermoral serta beriman.

Karena Islam memiliki solusi yang dilandaskan pada Alquran dan as-Sunnah. Sistem Islam telah diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam sejak masa Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan masa Kekhilafahan sesudahnya sampai tahun 1924. Telah terbukti mampu menyelesaikan persoalan yang ada termasuk menyelesaikan penyimpangan perilaku LGBT dan menghentikannya secara tuntas saat diterapkan secara kaffah baik pada masa lampau maupun yang akan datang. Dan juga berhasil mencetak intelektual beriman, bermoral dan berbudi pekerti seperti Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Hanafi dan ada juga Muhhamad Al Fatih serta masih banyak lagi.

Semua itu hanya mungkin terwujud jika Syariah Islam diterapkan secara sempurna. Dan penerapan Islam secara sempurna hanya bisa diwujudkan di bawah naungan sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj An-Nubuwwah. Inilah yang segera harus diwujudkan di tengah-tengah umat saat ini.

Wallahualam.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: